Santri Menulis

Bintang dan Malaikat tanpa Sayap

(Secerah Bintang yang Aku Mau)

                                                                                       Karya:Dea Amelia Harits

      Namaku Bintang, lebih lengkapnya Bintang Anggraini.Umurku 17 tahun, lebih tepatnya aku sekarang duduk di bangku 3 SMA. Inilah seikat kisah dariku,dari seorang Bintang yang selalu bermimpi bahwa aku bisa berkilauan bagaikan bintang di langit. Aku ingin menjadi Bintang yang selalu di harapkan oleh orang lain,selalu ada untuk  mereka baik dalam suka ataupun duka . Aku ingin menjadi bintang yang bersinar,yang selalu terang menyinari dunia dan seisinya. Namun kenyataannya,hidupku memang tak secerah bintang di langit. Jauh dari itu semua,hidupku tak seperti yang ku inginkan. Bahkan,aku bagaikan bintang yang tak bersinar,bintang yang tak pernah di harapkan oleh orang lain.Aku bagaikan bintang yang tak bercahaya,aku adalah seorang  Bintang biasa yang dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat sabar dan baik hati. Mungkin aku hanya bisa menjadi Bintang yang hanya diharapkan ibuku yang hanya seorang pembantu rumah tangga biasa. Ibuku hanya mempunyai satu bintang yang akan selalu ada di sampingnya.Ya! Bintang itu adalah Bintang  Anggraini.

                                                                                   ***

      “Kring…kring…kring…”

Alarem itu terdengar nyaring di telingaku. Seperti biasa, aku dan ibuku akan terbangun setelah alarem itu berdering. Tepat pukul 03.30 WIB. Tidak kurang dan tidak juga lebih.Setelah itu,ibuku akan memulai kewajibannya menjadi seorang pembantu rumah tangga. Sedangkan  aku,aku akan memulai hari baruku  dengan membantu ibu.

       Kami tinggal di rumah yang sangat besar,rumah seorang penguasaha terkenal di negeri ini. Rumah dari seorang pengusaha yang kaya raya. Kami tak punya rumah, kami hidup bergantung kepada pemilik rumah ini,dulunya aku dan ibuku sempat memiliki rumah kardus yang ukurannya sekecil kamar mandi saja. Namun,karena disuruh tinggal dirumah ini,kamipun akhirnya meninggalkan rumah kardus yang sangat berbeda jauh dari rumah besar yang sekarang kami tempati. ‘‘Bintang……. Ibu mau ke dapur dulu! Kamu beresin kamar  dulu yah? Ntar kalau sudah selesai bantu Ibu di dapur!”perintah ibuku dengan lembut. Aku membalasnya dengan anggukan dan sebaris senyum di pipiku.

                                                                                        ***

     06.30 WIB.

     Aku sudah siap dengan seragam putih abu-abuku.Seperti biasa,setelah selesai membantu ibuku menyiapkan sarapan ,aku akan berpamitan berangkat sekolah. Aku harus berangkat pagi karena perjalanan yang cukup jauh harus ku tempuh hanya menggunakan sepeda.Sepeda tua yang mungkin tak bernilai seperakpun,tapi demi ilmu dan cita-cita yang ingin ku capai,apapun akan tetap ku lakukan. Tak pernah aku malu dengan teman-temanku yang kebanyakan dari mereka adalah orang-orang elit dan terpandang. Aku tetap mengayuh sepeda ini,perlahan tapi pasti,terus mengayuh sampai aku sampai di sekolah tepat waktu.

                                                                             ***

       Di jam istirahat sekolah,aku selalu menghabiskannya di perpustakaan. Disinilah aku menambah wawasanku. Aku tak seperti teman-temanku yang lainyang selalu menghabiskan waktu istirahat di kantin,lapangan basket,taman,warung-warung pedagang kaki lima,atau di tempat tongkrongan sekolah. Untuk apa?Menghabiskan uang?Tak mungkin!! Karena sepeser uangpun aku tak ernah membawanya.

      “Hai Bintang!!!Ternyata aku nemu kamu juga!”kagetku karena tiba-tiba Naila datang menghampiri dan menyapaku lantang.

      “Sssttt…Jangan berisik,ini perpustakaan  Naila!” Balasku lirih sambil memperhatikan pengunjung perpustakaan  yang menatap kami anehkarena suara Naila yang telah mengganggu mereka.

      “Upsss!!!sorry!!”Balas Naila tersenyum malu.

      “Oh ya Bin,tau nggak aku kesini bawa berita bagus buat kamu!” ucap Naila dengan suara yang lebih pelan.

      “Emang berita bagus apa sih Nai?” Jawabku cuek yang masih fokus dengan buku tebal yang masih ku baca.

      “Bin,tau nggak? Kamu jadi perwakilan sekolah buat ikut olimpiade matematika!”jelas Naila yang terus menatapku.

       “Hah???serius??”Aku menutup bukuku,mengalihkan pandangan.Naila hanya mengangguk dan mengacungkan jempol kanannya.

 “Yee!!!” Balasku senang dengan suara keras.

        “Sssttt…Jangan berisik ini perpustakaan Bintang!” ucap Naila lirih dengan meniru perkataanku dan gayaku sebelumnya.

        “Uppss!!Sorry!!lupa!Balasku menggaruk-garuk kepala dan memperhatikan pengunjung perpustakaan yang sudah kedua kalinya menatap kami sinis.

                                                                                     ***

       Malam ini seperti malam-malambiasanya,bila langit selalu dipenuhi dengan bintang-bintang yang bersinar,aku selalu keluar dari kamar menuju taman belakang rumah.Ya! Hany ingin melihat bintang yang bersinar dengan 1000 harapan.

      “Bintang…hari ini Bintang seneeeng bangettt!! Tau nggak?Bintang jadi perwaklilan sekolah untuk ikut olimpiade matematika!Bintang bantu aku ya?Harapanku malam ini kepadamu adalah semoga Bintang bisa jadi juara satu olimpiade ini!”Harapanku  sembari memandang bintang-bintang di langit.
        “Harapan malam ini pasti terkabul!” Ucap ka Daniel yang tiba-tiba ada di belakangku.
        “Eh…ka Daniel!” ucapku kaget.

        “Selamat ya Bin!Semoga berhasil!” Ucapnya tersenyum yang kini berada 15 cm di sampingku.
        “Makasih ka!” Balasku singkat.

         Ka Daniel adalah anak dari pemilik rumah ini,kami sudah dekat sejak kecil karena ibuku telah bekerja disini sejak aku masih kelas satu SD. Umur kami berbeda 3 tahun,kini ka Daniel kuliah di Universitas terkenal di ibukota.Ka Daniel jugalah satu-satunya motivatorku setelah ibu.Ya! Ia bagaikan sosok seorang kakak di hidupku,ka Daniel selalu perhatian dengan aku dan ibuku. Ia selalu ada kapanpun itu. Ka Daniel sama sekali tak memandang bahwa aku hanyalah pembantunya dan dia adalah majikanku. Ia juga tak gengsi,ketika ia memintaku untuk memanggilnya dengan nama kakak.

      “Kalau boleh ka Daniel tau,apa cita-cita Bintang? Tanya ka Daniel tiba-tiba.

      “Hah???!!Cita-cita?!Jawabku kikuk. Ka Daniel hanya mengangguk.

      “Hmmm…Bintang nggak punya cita-cita,Kak!”Ucapku lirih.  

      “Seorang Bintang nggak punya cita-cita?”Tanya ka Daniel tak percaya.

      “Sejak kapan Bintang berubah pikiran dan tak ingin menjadi seorang dokter?!” Lanjut ka Daniel.
      Aku serentak kaget dengan ucapannyabarusan. Aku menatap wajahnya tak percaya,kenapa ka Daniel tau kalo aku ingin jadi dokter?bahkan satu orangpun aku tak pernah cerita akan cita-citaku. Ya! Ka Daniel memang selalu begitu, ia bagaikan malaikat yang tau apapun ada dalam pikiranku.
      “Ka Daniel ada-ada aja! Masa sih Bintang bisa jadi dokter? Buat biaya sekolah aja Bintang nggak mampu,apalagi buat ngelanjutin kuliah!”Aku tersenyum pahit.

      “Kenapa jadi dokter nggak bisa?!!Beasiswa dan olimpiade juga bisa!!” Sanggah ka Daniel.
      Aku memang selalu mendapat beasiswa semenjak aku duduk di bangku SMP hingga sekarang ini. Tanpa beasiswa,aku tak mungkin bisa sekolah. Olimpiade ?!aku memang selalu menjadi perwakilan sekolah untuk ikut lombadan olimpiade matematika,kimia,dan fisika. Dan selama ini jg,aku tak pernah berubh dengan kondisikuyang selalu mendapat juara 1.

      “Bintang!!! Klau ada kemauan ,pasti ada jalan! Apapun bentuk kesuksesan itubukan diukur dari materi! Semua kesuksesan adalah dari niat dan kemauan. Semua orang baik miskin,kaya,besar,kecil,pengusaha,pemulung,anak jalanan,semua bisa sukses! Tak terkecuali kamu,Bintang!” Ucap ka Daniel menasehati.Ya! lagi-lagi ka Daniel selalu benar. Hanya ka Daniel lah satu-satunya orang yang mendukung Bintang dan percaya akan semua cita-cita Bintang.

     “Dimanapun dan sampai kapanpun…ka Daniel selalu ada buat Bintang!” Ucapnya kemudian.

                                                                                ***

 Hari ini seperti biasa,satu minggu sekali setiap hari minggu,aku selalu datang ke komplek perumahanku yang lama. Komplek perumahan terpencil di ibukota. Komplek perumahan yang kumuh dan tak terurus,yang menjadi satu-satunya tempat yang seharusnya taklayak untuk ditempati. Disinilah dulunya aku tinggal,dengan rumah kardus yang sempit,slalu bocor dan rusak apabila hujan besar datang. Disinilah aku menjalanimasa kecilku menjadi seorang pengamen jalanan. Disini juga, tempat dari kumpulan anak-anakjalanan dan orang-orang yang kurang mampu. Sekarang juga, disinilah tempat dimana aku dapat  membagi sedikit ilmuku untuk anak-anak jalanan. Belajar dengan mereka adalah hal yang sangat menyenangkan dalam hidupku. Karena hanya satu harapanku untuk mereka. Aku ingin mereka menjadi anak yang pintar dan suatu saat bisa mengubah hidup meraeka menjadi lebih baik.

      Hari ini aku tak sendiri,aku datang bersama ka Daniel. Ini memang bukan pertama kalinya ka Daniel ikut. Sebelumnya ia sudah cukup sering ikut bila ka Daniel tak sibuk dengan jadwal kuliahnya. Namun seakan ini adalah acara wajibnya setiap minggu,ia berusaha untuk selalu datang dan ada untuk anak-anak jalanan.

      Setelah sampai,ku lihat mereka sudah duduk manis menunggu di lapangan depan komplek perumahan kardus.

      “ Ka Bintang!!! Ka Daniel!!!” sapa mereka bahagia melihat kedartangan kami, kami tersenyum dan melambaikan tangan.
      “ Hay…jagoan kakak yang pinter-pinter….lihat nih ka Daniel bawa apa?? Ka Daniel bawa buku-buku baru untuk kalian…” ucap ka Daniel memperlihatkan buku-buku yang ia bawa.
      “ Yeee !!! kita punya buku baru!!” ucap mereka kegirangan.

      “ Nggak Cuma itu!! Di mobil masih ada ayam goreng buat kalian semua!!” lanjut ka Daniel.
      “ Ayam goreng??? Waahhh!!! Akhirnya kita bisa makan ayam goreng juga teman-teman!!” jawab mereka bersorak gembira.

      “ Tapi sebelum makan ayam goreng kita harus belajar dulu, ok!!” pintaku.

      “ Ok!!!” jawab mereka kompak dan semangat.

                                                                                ***

      Ka Daniel adalah malaikat bagi kami, yang selalu ada dengan sayapnya dan terbuka untuk siapa saja. Satu-satunya orang yang sangat peduli dengan kami. Ka Daniel adalah seorang yang berhati mulia. Ia tak pernah gengsi bergaul dengan kami. Ia tak pernah malu dan jijik untuk datang mengunjungi anak-anak jalanan. Ia jugalah satu-satunya malaikat penolong yang membawa seribu harapan pasti. Ialah yang menyekolahkan anak jalanan ini, mengurusi segala pembayaran sekolah mereka. Dan kami teramat sangat berhutang budi kepadanya dan teramat sangat menyayanginya.

                                                                                ***

      Akhir-akhir ini penyakit ibu sering sekali kambuh. Kanker yang dideritanya empat tahun silam, kini mulai menyakiti tubuh ibuku lagi. Sudah sering ibu dibawa ke rumah sakit, sampai tak bisa dihitung jari lagi. Sudah tiga hari ini ibu tidak bekerja apapun, akulah yang menggantikan posisi ibuku.

    “Ibumu masih sakit Bin??” tanya pak Royhan bapak ka Daniel kepadaku saat aku menyiapkan sarapan.

     “ Iya pak!!” jawabku lembut.

     “ Lebih baik dibawa ke dokter saja, kasihan ibumu!!” ucap pak Royhan meminta.
     “ Nggak usah pak,ibu sudah terlalu sering dibawa ke rumah sakit, nggak enak selalu ngerepotin bapak dan ka Daniel” sanggahku menunduk.

     “ Daripada ibumu hanya tiduran terus, bakalan tambah parah Bin!! Lebih baik kita ke dokter, biar ibumu dapat perawatan yang baik!!” ucap ka Daniel tiba-tiba.

     “ Tapi….!!” sanggahku lagi.

     “ Pokoknya hari ini ka Daniel antar ibu ke rumah sakit!” potong ka Daniel memaksa.
                                                                           ***

     Lagi-lagi ka Daniel lah yang menolong kami dan itu untuk ke ribuan kalinya. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa ka Daniel, karna ka Daniel bagaikan udara yang harus ku hirup setiap saat, tanpanya aku tak bisa hidup. Termasuk udara untuk ibuku juga. Ka Daniel lah yang selalu membiayai semua biaya rumah sakit termasuk membiayai operasi ibu dan membiayai obat-obatan untuk ibu. Ia lah malaikat penolong kami yang Tuhan utus dalam hidup kami. Ia bagaikan malaikat tanpa sayap yang selalu menolong kami walaupu ia dan kami bagaikan langit dan bumi.
     Malam ini aku menginap di rumah sakit menjaga ibu bersama ka Daniel. Ka Daniel tetap tak mau pulang walau aku sudah memaksanya pulang. Ketika ibu sudah terlelap tidur ka Daniel mengajakku untuk mencari makan di luar.

     Malam ini ribuan bintang bertaburan di langit, sehabis makan ka Daniel mengajakku ke taman kota untuk sekedar melihat bintang. Seperti yang biasa aku lakukan di belakang rumahnya. Bercerita kepada Bintang dan menyimpan seribu harapan pasti kepadanya.

     “ Bintang, apa harapanmu malam ini?” tanya ka Daniel memecahkan keheningan malam.

     Aku berfikir panjang, membayangkan harapanku dan tersenyum kecuali ka Daiel menatapku aneh, menunggu kata-kata yang keluar dari mulutku.

     “ Jikalau harapan ini bisa terkabul, Bintang ingin ikut dan lulus tes beasiswa di Singapore!!” ucapku penuh harap sembari menatap bintang di angkasa.

     “ Bintang serius??” tanya ka Daniel kaget. Aku hanya mengangguk lemah. Kami terdiam lama dan aku masih belum bisa menebak apa yang ka Daniel rasakan saat aku mengucapkan harapanku yang sangat konyol ini. Ia berfikir lama, dan aku juga belum bisa menebak apa yang sdang ia pikirkan.

     “ Harapan malam ini pasti terkabul!!” ucapnya tiba-tiba memandang kilauan bintang-bintang malam.
     Aku menggelengkan kepala, menunduk dan tersenyum pahit.

     “ Nggak ka Daniel! Harapan Bintang malam ini nggak mungkin terwujud!” ucapku pesimis.
     “ Kenapa kamu bilang seperti itu Bintang?” tatap ka Daniel.

     “ Banyak alasan yang membuat Bintang tak sanggup melakukanya! Pertama, Bintang nggak punya bekal apa-apa ke Singapore. Bintang nggak mungkin tinggal di Singapore seorang diri. Apalagi disana butuh uang yang banyak, dan Bintang nggak punya sepeser pun! Alasan kedua, karena ibu! Bintang nggak mungkin ninggalin ibu satu-satunya orang yang Bintang punya ! Bintang nggak sanggup ka!” jawabku dengan mata yang berkaca-kaca.

     “ Kalau mungkin itu alasan yang kamu punya, ka Daniel bisa menyanggupinya Bintang!” ucap ka Daniel meyakinkan. Aku serentak kaget mendengar jawaban ka Daniel, aku hanya terdiam dalam hening.

     “ Ka Daniel sanggup membiayai keperluan kamu disana! Apapun yang kamu butuhkan!. Dan ibumu ,biar ka Daniel yang rawat!” biar ka Daniel yang rawat!” balas ka Daniel.

     “ Tapi nggak mungkin Bintang ngerepotin ka Daniel untuk keribuan kalinya!, Bintang sudah sudah banyak berhutang budi kepada ka Daniel, dan Bintang nggak mau ngelakuinnya lagi!” ucapku tak sanggup.

      “ Bintang, semua yang ka Daniel lakuin slama ini untukmu dan ibumu semata-mata karena ka Daniel ingin menolong kamu, ka Daniel ikhlas melakukannya”.

      Aku terus terdiam, membiarkan butiran air mata ini berjatuhan membasahi rumputan taman kota.

      “ Bintang, yang ka Daniel tau kamu adalah orang yang tidak mudah menyerah dalam menggapai impian! Yang ka Daniel tau, kamu adalah orang yang mencintai seseorang dengan layak dan setulus hati. Tak pernah membuatku percaya bahwa kau tak pernah berubah, Bintang!” ka Daniel menatapku lekat-lekat.

     “ Kapan kau bisa mewujudkan mimpimu jika bukan pada kesempatan kali ini? kapan Bintang akan berkilau jika ia tak pernah berusaha untuk berkilau! Kapan Bintang bisa menyinari dunia dan bermanfaat untuk orang lain jika Bintang itu sendiri menyia-nyiakan kesempatannya!” kata ka Daniel menerenyuhkan hatiku.

      Aku hanya bisa menunduk dan terus membiarkan tetes air mataku yang terus membasahi pipi dalam heningnya malam yang bertaburan ribuan bintang.

                                                                            ***

      3 bulan kemudian.

      Hari aku sudah siap dengan kepergianku ke Singapore. UN sudah ku hadapi dengan lancar, bahkan tes beasiswa Singapore sudah ku ikuti hingga aku bisa lolos beasisw itu. Semua ku lakukan semata untuk ibu dan cita-citaku, termasuk aku tak ingin mengecewakan ka Daniel yang telah membuatku sampai sekarang ini. Aku sudah memantapkan diriku untuk menuntut ilmu di negri orang. Semua ini agar bintangku bisa bersinarseperti apa yang telah ka Daniel bilang. Sementara ibu, ibu sudah sembuh setelah beliau menjalanioprasi kanker 3 bulan yang lalu. Lagi-lagi ka Daniel yang mengurusi semua biaya pengobatan ibu. Dan kali ini ka Daniel juga yang telah mengurusi semua keperluanku di Singapor nanti,semuanya serba ka Daniel yang melakukannya.

      “ Biar ka Daniel saja yang mengurus semua keberangkatanmu sampai semuanya clear. Tugas Bintang hanya belajar dan belajar! Biar cita-cita Bitang bisa Bitang gapai!” ucap ka Daniel jauh-jauh hari sebelum keberangkatan ku ke Singapore.

      Kini ka Daniel, pak Royhan dan ibu ikut mengantarku ke Bandara. Semua menyemangatiku sepanjang perjalanan ke Bandar. Begitupun dengan pak Royhan, beliau sangat baik, sebaik ka Daniel. Bahkan pak Royha telah menganggapku sebagai anaknya sendiri.

     “ Daniel sejak kecil sudah tidak onya ibu, ia selalu dirawat oleh ibumu. Aku sangat berhutang jasa pada ibumu yang telah merawat Daniel sampai sekarang ini. keberadaanmu di rumah ini dari dulu, sudah membuat saya menganggapmu menjadi anak bapak sendiri, yang bapak tau. Bintang adalah anak yang cerdas, berbakat dan cekatan. Saya yakin kamu bisa menjadi orang sukses nantinya!” ucap pak Royhan beberapa tahunsilam.

     Hari ini aku harus tegar melepas kepergianku. Aku harus berpisah 4 tahun lebih dari genggaman ibuku yang slama ini menuntunku dalam menjalani hidup ini. Dan juga harus berpisah dengan ka Daniel yang selama ini hidupku selalu bergantung kepadanya. Seorang malaikat tanpa sayap. Semua melepas kepergianku dengan sebaris senyum haru melihatku akan pergi meninggalkan mereka. Ku lihat untuk kesekian kalinya ibu menangis di hadapanku. Aku pun membalas tangisannya menjadi tak menentu.

     Ku lihat mata ka Daniel berkaca-kaca, sempat ku lihat air matanya jatuh di pipinya yang segera ia usap dengan tangannya yang lembut. Aku tersenyum lebar untuk yang terakhir kalinya kepada mereka. Setelah berpamitan, aku pun mulai melangkahkan kakiku ke pesawat.

     “ Biarlah dunia ini menjadi saksi kepergianku untuk menggapai seribu harapanku yang pasti! Percayalah, aku tak akan mengecewakanmu ka Daniel dan aku akan menjadi Bintang yang selalu bersinar, seperti apa yang ka Daniel minta!” ucapku dalam hati.

                                                                               ***

      5 tahun kemudian.

      Hari ini dengan hati yang teramat sangat bahagia, aku akan kembali ke tanah airku yang sudah lama ku rindukan. Aku akan kembali ke tanah airku dengan suasana yang sangat berbeda. Karena sekarang aku telah meraih sinarku, aku telah menjadi seorang bintang yang berkilauan.

      Ya! Dunia memang selalu berputar, sampai kapanpun akan selalu berputar, seperti roda kehidupan yang bisa berubah kapanpun itu. Dulu aku hanya anak jalanan, anak pengamen, anak dekil yang lusuh dari seorang pembantu rumah tangga biasa. Namun apa disangka? Kini aku bisa menjadi anak emas, anak jalanan yang bisa belajar di luar negri dengan gelar sarjana kedokteran.
      Harapan! Ya, memang selalu ada untuk orang-orang yang selalu percaya dalam dan mau berusaha. Siapapun itu, semua orang bisa sukses, karena kesuksesan bukan dihitung dari tingkat kekayaan.

      Saat ini aku berdiri di hadapan cermin sembari memoleskan bedak di wajahku. Dari penampilan, aku sudah banyak berubah sekarang. Tinggi badanku bertambah 6 cm, wajahku lebih putih dan bersinar. Dan tubuhku lebih berwibawa sekarang. Tapi percayalah, hatiku masih sama seperti dulu. Bintang yang ramah dan ceria. Pukul 08.00 tepat, aku segera mengambil koperku dan bergegas menuju Bandara.

                                                                                 ***

     Penantian yang cukup lama sepanjang perjalanan ke Indonesia. Hatiku berdetak kencang setelah pesawat mendarat di Bandara. Aku harus siap bertemu dengan ibu, ka Daniel dan pak Royhan yang sudah 5 tahun ini kemi tak pernah bertemu. Selama ini, kami hanya berkomunikasilewat email. Inilah pertama kalinya aku kembali bertemu denga mereka,orang-orang yang sangat aku sayangi di dunia. Aku mulai melangkahkan kakiku di Bandara. Aku terus berjalan langkah demi langkah dengan mengenakan baju putih tulang yang dilapisi  jas berwarna cream coklat dipadu dengan syal yang melilit rapi di leherku. Aku menoleh ke segala arah, mencari orang yang telah menungguku. Dari arah berlawanan aku melihat ada tiga orang yang tengah duduk bersebelahan. Aku memperkecil mata, mencoba memperjelas pandangan, wajah mereka sangat tak asing di dalam memoriku. Jantungku berdetak semakin kencang. Perasaanku berubah tak menentu. Mata kita saling bertemu, aku menatap merekadan mereka juga menatapku tajam. Ingatanku seperti berputar 5 tahun silam, saat aku masih mengenal wajah ibu, ka Daniel dan pak Royhan. Ya! Mereka! Mereka keluarga yang telah aku nanti-nantikan selama ini. dan aku Bintang yang telah mereka tunggu-tunggu  selama ini. Aku tersenyum kepada mereka sembari melambaikan tangan. Dari jauh,mereka membalas lambaian tanganku dan memanggil namaku berulang kali. Dengan setengah berlari, aku menghampiri mereka dengan high heel yang aku kenakan. Dengan di sertai senyuman aku berjalan menghampiri mereka. Seiring dengan langkah, terlintas di benakku atas apa yang telah mereka lakukan terhadap hidupku selama ini.

     Ibu, ibu yang telah merawatku dengan kelembutan dan kasih sayang. Ibu yang telah mendidikku hingga aku bisa menjadi eperti ini. Ka Daniel, ka Danie; yang telah membuat hidupku berubah menjadi sekarang ini aku teramat sangat berhutang budi padanya, ialah malaikat tanpa sayap yang selalu di rindu Bintang. Dan pak Royhan, pak Royhan yang selama ini telah mendukungku, ialah malaikat kedua kami. Langkah-langkahku terhenti di hadapa mereka, dan ku pandangi wajah mereka inci demi inci. Aku memandang mereka satu per satu tak percaya.

    Ibu….badan yang dulu tegap,kini mulai membungkuk. Rambut yang dulu hitam, kini mulai memutih dan kulit ibu yang dulu masih kencang, kini mulai berkeriput. Ku tatap wajah ibu yang berbinar-binar dan mulai meneteskan air mata bahagia. Aku menghapuskan butiran-butiran air mata yang terus berjatuhan di pipi ibu, ku usap pelan air mata ibu, air mata haru, air mata bahagia, melihatku yang sekarang ini. Ku cium tangan ibu dan langsung memeluk erat tubuh kecilnya. Ku rasa tak ada yang berbeda, pelukan ibu masih sehangat dulu yang selalu menyambutku.

     “ Ibu…..Bintang sayang ibu!” bisikku di balik bahunya, membiarkan air mata ini berjatuhan membasahi bahu ibuku. Ibu hanya mengusap-usap bahuku pelan. Aku melepas pelukan ibu pelan.

     “ Bintang kau telah kembali bersama sinarmu…” ucap ka Daniel sesaat setelah aku melepas pelukan ibu.
     “ Ya ka Daniel…Bintang tlah kembali!” balasku kemudian.

     Aku menatapnya lekat-lekat, ku lihat penampilannya sudah berbeda dari yang dulu. Potongan rambutnya lebih santai dan dewasa. Tubuhnya bertambah lebih tinggi dari yang dulu.

     “ Bintang…. kami sangat bangga kepadamu!” ucap pak Royhan menyeka air matanya.
     “ Bintang juga sangat bangga kepada kalian…tanpa kalian, Bintang tak mungkin bisaseperti sekarang ini!” balasku menatap mata mereka satu per satu.

                                                                                 ***

       Namaku Bintang Anggraini. Lebih lengkapnya Dr.Bintang Anggraini. Umurku 25 tahun, lebih tepatnya sekarang aku sudah menyeleasaikan bangku kuliahku dan telah bekerja menjadi dokter muda di rumah sakit ternama di Jakarta. Dan ka Daniel umurnya 28 tahun lebih tepatnya ia telah menyelesaikan bangku kuliahnya dan bekerja menjadi pengusaha sukses ternama di Jakarta. Ia lah penerus  perusahaan pak Royhan. Dan kami telah bertunangan 2 tahun silam, tepatnya akan menjadi pasangan yang sangat bahagia karena kita memutuskan untuk menjadi pasangan yang akan menjalani hidup bersama-sama. Malaikat tanpa sayap sayap itulah yang telah mencuri hatiku jauh-jauh sebelum aku berada di Singapore. Dan akulah seorang Bintang yang telah bersinar di hatinya jauh-jauh saat aku masih duduk di bangku SMA.

      Akulah sang Bintang dan ka Daniel adalah Sang Malaikat Tanpa Sayap.

 
                                                – The End –

Pondok Pesantren Al -Hikmah 2

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button