Santri Menulis

Nabi Sebagai Teladan Sejati

Di era globalisasi saat sekarang ini dimana persaingan semakin ketat, banyak orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kesuksesan. Tidak sedikit yang menyatakan “mencari yang haram saja susah, apalagi mencari yang halal”. Permasalahan ini hampir menyangkut semua lini kehidupan dari mulai tingkat buruh sampai pesuruh.

Terutama kehidupan di perkotaan. Kota adalah tempat pertarungan sekaligus tempat penguasa dan pemenang dalam pertarungan tersebut. Di dalamnya, orang-orang bergelut, berkelahi, dan bertempur melawan kehidupan, berusaha untuk menguasai jalan kehidupan dan berusaha untuk memenangkan pertarungan tersebut. Tatkala orang-orang desa berangkat ke kota, diantara mereka ada yang sudah siap menghadapi pertarungan tersebut dan ada pula yang tidak memiliki persiapan apa-apa. Bagi mereka  yang telah siap dan memiliki perbekalan, ada yang berhasil dan tidak sedikit yang gagal. Bagi mereka yang tidak memiliki persiapan dan perbekalan mereka akan menjadi budak bagi kehidupan kota, menyesaki kehidupan kota dengan perilaku yang justru lebih jahat dan lebih sadis dari tempat asalnya/ di desa. (Muhyiddin, 2009 : 45)

Berkaitan dengan hal ini, secara garis besar dapat muncul dari aspek internal dan eksternal atau bahkan kedua-duanya pada saat yang bersamaan. Aspek internal adalah dorongan dari dalam diri pribadi untuk hidup penuh dengan kemewahan dan tercukupi segala kebutuhannya. Aspek eksternal diantaranya adalah dorongan dari relasi kerja untuk berbuat curang demi mendapat keuntungan yang tidak seberapa.

Tantangan internal dan eksternal dalam menjalankan kehidupan, diakui atau tidak sesungguhnya terkait dengan kekosongan nilai-nilai agama yang ada pada diri setiap individu. Peran penting agama semakin hari memang semakin disadari akan tetapi tidak diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Agama hanya dijadikan simbol bahkan tidak jarang agama dijadikan tameng dalam berbuat kejahatan.

Kondisi seperti ini, menjadikan kecenderungan bagi masyarakat untuk mencari figur yang dapat dijadikan tuntunan dalam menjalani hidup. Diharapkan dengan adanya figur yang baik, mereka dapat meneladani figur yang dimaksud. Namun, tidak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna. Manakala masyarakat mendapati keburukan dalam diri figur yang mereka kagumi, secepat kilat mereka meninggalkan figur tersebut walau terkadang keburukan yang terdapat pada figur yang mereka kagumi bukanlah keburukan yang digariskan oleh agama.

Sejarah membuktikan bahwa masyarakat jahiliyyah tidak memiliki arah dan tujuan hidup dan telah berhasil dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ke dalam kehidupan modern yaitu kehidupan yang diterangi cahaya keimanan dan penghormatan terhadap harkat kemanusiaan. (Munawar, 2005 : xii). Kini saatnya masyarakat kembali kepada tuntunan para nabi khususnya Nabi Muhammad SAW dengan mengaktualisasikan iman kepada nabi. Karena hanya para nabi yang pantas menjadi figur yang ideal dengan tuntunan Ilah semesta alam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also
Close
Back to top button