Home / Khazanah / Suryalaya: Kebeningan Sufisme Pribumi untuk Masyarakat

Suryalaya: Kebeningan Sufisme Pribumi untuk Masyarakat

Menempuh medan perjalanan yang rumit dengan menyurusuri berpuluh kelokan ruas jalan terjal mungkin tak akan melelahkan bagi siapapun yang hendak mengunjungi kampung Godebag, desa Tanjung Kerta di kawasan Tasik Malaya. Pasalnya, di area kecil ini kita temukan Pesantren tradisional yang mampu memberikan oase kerinduan tersendiri bagi para peziarah yang datang. Pesantren Suryalaya namanya. “Surya” merupakan adopsi dari bahasa Sunda yang mengandung arti matahari, juga “Laya” yang bermakna tempat terbit. Jika kalamat tersebut dirangkai, secara harfiyah kurang lebih berarti tempat matahari terbit.

Sangat khas nan pas melekatkan nama “Suryalaya” pada pesantren ini. Tak sebagaimana terik matahari, terbit matahari merupakan lukisan situasi yang teduh, sejuk, namun sekaligus membawa kehangatan. Hawa spiritual muncul lantaran di sana lah mursyid utama Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyyah (TQN) berdomisili dan membimbing secara telaten para salik. Sang mursyid, KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (akrab dipanggil Abah Anom) adalah penduduk asli, juga penerus perjuangan serta pembinaan tarekat dan pesantren dari ayahanda Syaikh Abdullah bin Nur, mursyid TQN generasi ke-36.

Syaikh Abdullah bin Nur termasuk tokoh kunci perintisan Pesantren Suryalaya.Sejak berdirinya 7 Rajab 1323 H atau bertepatan 5 September 1905, eksistensi pesantren dan TQN di Tasikmalaya berusaha tetap kokoh meski beberapa rintangan mencoba menghalangi. Bermodalkan restu guru tercinta Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon, mursyid yang lazim disapa Abah Sepuh ini berjuang gigih menentang arus kebencian pemerintahan Belanda dan gangguan dari masyarakat sekitar di masa awal pertumbuhannya.

Pasca Abah Sepuh wafat tahun 1956 di usia yang ke-120, estafet perjuangan dilimpahkan kepada putranya, KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin. Beragam godaan belum berhenti. Serangan para pemberontak DI/TII yang lebih dari 48 kali cukup meresahkan kalangan Pesantren. Apalagi ditambah gencarnya aksi PKI di tahun 1965. Abah Anom termasuk tokoh nasionalis yang banyak berkontribusi menyadarkan eks anggota PKI supaya kembali ke jalan negara dan agama.

Lambat laun situasi yang dihadapi Pondok Pesantren kian membaik. Keamanan yang terjamin dari aksi tercela DI/TII melegakan para Kyai dan masyarakat untuk hidup dan beraktifitas dalam ketenangan. Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat. TQN semakin akrab dan banyak digandrungi banyak peminat dari berbagai daerah di Indonesia. Tentu tak lepas dari jerih payah para wakil talqin dan para mubaligh yang dimiliki TQN. Perkembangannya semakin matang setelah pengasuh pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947-1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952-1953) membentuk Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Tujuanya institusi pendidikan ini adalah membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Muasal TQN

TQN betapapun adalah jalan tasawwuf yang mendasari pandangan dan garis perliku setiap pimpinan Pesantren. Karenanya, konsentrasi dan warna perjuangannya pun tak akan dilepaskan begitu saja dari spiritualisme ala tarekat ini. Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah adalah kombinasi dari dua buah tarekat besar; Thariqah Qadiriyyah dan Thariqah Naqsabandiyyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah, Syaikh Ahmad Khatib ibn Abd Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M). Ulama yang berasal dari Indonesia ini memutuskan tinggal sampai akhir hayatnya di Tanah Suci. Beliau adalah mursyid Tarekat Qadiriyyah, di samping juga merangkap mursyid Tarekat Naqsabandiyyah. Tetapi, hanya silsilah (sanad) dari Tarekat Qadiriyyah saja yang teridentifikasi, sementara dari mana ia di-bai’at Tarekat Naqsabandiyyah belum diketahui secara pasti.

Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil, Syaikh Khatib diyakini punya otoritas untuk “memodifikasi” tarekat yang dipimpinnya. Apalagi, tradisi Tarekat Qadiriyyah memang memberi ruang untuk itu bagi yang sampai pada derajat mursyid.

Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut tergolong logis dan strategis. Keduanya dimungkinkan terpadu secara komplementer baik dalam jenis dzikir maupun metodenya. Meski terdapat sedikit perbedaan; Tarekat Qadiriyyah mengajarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, sedangkan Tarekat Naqsabandiyyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Efisiensi dan efektifitas diduga kuat menjadi alasan Syaikh Khatib memadukan keduanya.

Dalam kitab Fath al-‘Arifin dinyatakan bahwa tarekat ini sejatinya tidak hanya penggabungan dari dua tarekat Qadiriyyah dan Naqsabandiyyah saja. Lebih dari itu ia merupakan kumpulan ajaran lima tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyyah, Tarekat Anfasiyyah, Junaidiyyah, dan Tarekat Muwafaqah (Samaniyyah). Karena yang diutamakan adalah ajaran Tarekat Qadiriyyah dan Tarekat Naqsyabandiyyah, maka tarekat tersebut diberi nama Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah. Disinyalir, tarekat ini tidak berkembang di kawasan lain selain kawasan Asia Tenggara.

Lagi-lagi keluasan wawasan para ulama pribumi tidak lantas memaksakan masyarakat Indonesia dalam kondisi asing dari karakter lokal mereka. Kecerdasan dan kearifan mereka menjatuhkan pada sebuah pilihan bijak, bahwa penduduk pribumi tidak harus sama persis dengan kultur bangsa lain. Pemaduan dua jenis tarekat secara kreatif, pembelaan para Kyai terhadap ego ideologis DI/TII, adalah bukti nyata tentang kesadaran mereka tentang pribumisasi. Selayak para sembilan wali (wali songo), segenap masyayikh dan ulama Nusantara tak segan melakukan kreasi dan inovasi sepanjang tak berseberangan secara prinsipil dengan syari’at Islam.

Inabah, Wujud Kepedulian Sosial

Tak sebatas bergerak di bidang pendidikan dan tarekat, Pesantren Suryalaya menaruh kepedulian mendalam terhadap problem konkret yang dihadapi masyarakat. Sedikitnya 25 Inabah didirikan dan dinaungi langsung oleh Pesantren Suryalaya. Inabah merupakan pondok atau lokasi bagi program rehabilitasi pecandu narkotika, remaja-remaja nakal, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Lokasi dan aktifitasnya tersebar sepanjang pulau Jawa hingga beberapa kota di Malaysia. Spirit motivatornya adalah upaya pemulihan atau pengembalian (inabah) orang-orang yang terjauhkan dari jalan Allah kepada rumah fitrahnya, yakni kesadaran tentang al-Haqq.

Abah Anom menyediakan Pondok Inabah bagi segenap pasien guna mengikuti program peneymbuhan dan pembinaan selama 24 jam. Konsep perawatan korban penyalahgunaan obat serta kenakalan remaja adalah mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah alias maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah. Kurikulum pembinaan ditetapkan meliputi mandi dan wudlu, shalat dan dzikir, serta ibadah lainnya. Sejumlah metode yang digunakan merupakan inspirasi dan penerapan dari Al-Qur’an, hadits dan ijtihad para ulama.

Pemulihan kesadaran anak bina yag lemah akibat mabuk dapat dilalui dengan ritual mandi dan wudlu. Aspek kesucian tubuh dan jiwa dari dua ritual ini merupakan langkah persiapan untuk ‘kembali’ menghadap Allah Yang Maha Suci. Masing-masing memuat makna simboliknya tersendiri. Praktik wudhu berupa mencuci muka, adalah penyucian bagian tubuh yang menjadi tempat jiwa berekspresi; mencuci lengan, mensucikan perbuatan; membasuh kepala, mensucikan otak yang mengendalikan seluruh aktifitas tubuh; membasuh kaki berarti mensucikan setiap langkah perbuatan dalam hidup.

Prosesi penyembuhan juga menekankan dilaksanakannya shalat fardlu maupun sunnah di area Pondok. Dengan mengikuti kurikulum yang dirumuskan Abah Anom, anak bina yang telah di bersihkan atau disucikan melalui proses mandi dan wudlu, akan dituntun secara intensif melaksanakan sholat fardhu dan sunnah dalam jumlah rakaat yang ditentukan. Bagi anak bina yang sudah tersadarkan qalbunya, ditekankan mengamalkan dzikir secara lisan dan batin sekaligus. Pelajaran baca al-Qur’an, berdoa, tata cara ibadah, ceramah keagamaan dan olah raga menjadi materi tambahan di Pesantren Inabah. Dan pastinya, evaluasi berkala para ustadz tentang perkembangan kesehatan jasmani dan rohani anak bina.

Menariknya, atas keberhasilan metoda Inabah tersebut, KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin mendapat penghargaan “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse, termasuk juga penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya di bidang rehabilitasi korban Narkotika dan Kenakalan remaja. Terbukti, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR. Juhaya S. Praja, dalam tahun 1981-1989, 93,1% dari 5.845 anak bina yang mengikuti program inabah dapat dikembalikan ke keadaan semula dan dapat kembali hidup di masyarakat dengan normal.

Dari fakta ini, masih relevankan sinisme para kritikus tarekat atau tasawuf? Tentu, anggapan bahwa tasawuf semata berkutat pada lingkup sempit dan serba ‘ke langit’ terbantahkan oleh kegiatan berdimensi sosial yang digerakkan para sufi pribumi. Lembar ajaran tasawuf yang terhayati secara mendalam ternyata mampu memanifestasikan pandangan hidup dan perilaku positif seperti, Cinta Tanah Air, nasionalisme, keperihatinan atas penderitaan orang lain, dan kesadaran pengembangan pendidikkan moral dan intelektual. Adalah kesalahan besar pengalamatan citra negatif pada tarekat secara general! (Mahbib)

.

About Pondok Pesantren Al -Hikmah 2

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma’had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur’an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *