Home / Khazanah / Gerhana Desa Benda, Bukan Fenomena Biasa

Gerhana Desa Benda, Bukan Fenomena Biasa

Rabu  (09/03) pagi ini, tepatnya pukul 07:35 WIB terjadi Gerhana Matahari di desa Benda, para santri Pon. Pes. Al Hikmah 2 dan masyarakat desa Benda khusyu’ melaksanakan sholat Kusufussyamsi shalat gerhana matahari, sholat tersebut dihukumi sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.

Gerhana matahari terjadi ketika posisi bumi, bulan, dan matahari sejajar. Adapun gerhana matahari yang terjadi di desa Benda (09/03) pagi ini yang terjadi hanya 70 % hingga 90 %, hal tersebut karena desa Benda tidak dilewati oleh garis katulistiwa.

Gerhana Matahari terjadi kurang lebih 350 tahun sekali, itu merupakan kurun waktu yang sangat lama. Oleh itu, kita sangat dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah tersebut sebagai rasa syukur atas dapat menyaksikan tanda kebesaran-Nya.

Mengingat  banyak orang sibuk mempersiapkan peralatan kamera super canggih untuk mendapatkan hasil dokumentasi yang maksimal. Anehnya lagi, mereka yakin mendapatkan gambar itulah dikira hal yang paling baik pada saat gerhana matahari berlangsung.

Cara yang baik bagi kita, pada saat terjadinya gerhana yakni dengan mengingat Allah SWT, banyak dzikir atau melaksanakan kesunahan seperti melaksanakan sholat gerhana dengan berjamaah di masjid. Ada maqolah ulama mengatakan, yang isinya “Semua yang baik dan enak tidak akan terasa nikmat manakala keadaan itu tidak disertai ingat kepada Allah SWT.”

Maksudnya, dari maqolah diatas adalah, segala sesuatunya jika tidak disertai dengan ingat Allah SWT, maka itu bukan sesuatu yang akan memberi kebaikan. Banyak keberkahan diturunkan kepada ummat-Nya yang senantiasa selalu ingat akan kekuasaan-Nya. Allah berfirman: “Waanna ma’ahu indayadhuruni”, yang artinya,” dan Aku akan selalu bersama dengan orang-orang yang mengingat-Ku”.

Dengan adanya Gerhana matahari ini, sebagai Ummat Islam tidak boleh percaya dengan takhayyul yang mengaitkan Gerhana Matahari dengan suatu fenomena yang mistis. Seperti tanggapan orang jahiliyyah, ketika Rasulullah SAW ditinggal wafat oleh putranya sayyidina Ibrahim, yang bertepatan dengan terjadinya Gerhana Matahari, masyarakat beranggapan bahwa terjadinya gerhana tersebut adalah bentuk kesedihan Rasulullah SAW.

Rasulullah bersabda:”Layahsyifani bimauti akhadin walalikhayati”, yang artinya,” Mereka tidak menjadi gerhana,bertemu dalam satu titik garis temu dalam peredarannya karena adanya kematian atau kelahiran seseorang “. Maka berprasangkalah yang baik. Allah berfirman: “Ana Innadloni abdihi”. Yang artinya,” Aku akan menuruti prasangka hamba-Ku kepadaku”. (Sofi/fal)

About Firman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *