Kisah Santri dengan Hafalannya

Di Jawa Tengah, tepatnya di Desa Benda, terdapat pondok pesantren yang di kelilingi sawah-sawah hijau dan udara yang begitu sejuk. Pondok Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Al Hikmah 2. Di tengah kesejukan udaranya dan keasrian lingkungannya, terdapat satu kisah menarik yang datang dari seorang anak berusia 14 tahun. Ia adalah Aisyah Khumaira.
Satu tahun yang lalu, Aisyah mulai belajar di pesantren ini. Maka, saat ini ia merupakan santri kelas 2 SMP. Ia merupakan seorang anak yang sangat amat ceria. Selain itu, ia juga aktif di berbagai kegiatan, baik kegiatan pondok maupun sekolah. Bahkan, Ia pernah mendapatkan nominasi penghargaan sebagai santri teladan se-pondok.
Pada suatu hari, langit masih diselimuti gelap. Udara dingin pun memaksa masuk melalui celah jendela asrama, membuat sebagian santri semakin nyaman di alam mimpi nya. Cuaca seolah mendukung mereka untuk kembali terlelap di dalam selimut masing-masing. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Aisyah, karena ia sudah terjaga sebelum kentongan berdentang.
Ia duduk bersila di atas kasur tipisnya, sambil memandangi kitab kecil yang terletak di samping bantal kapuknya. Sampul hijau kitab tersebut sudah mulai kusut. Lapisan terluarnya pun sedikit terkelupas. Meskipun begitu, kitab kusut itu lah yang telah menemaninya beberapa bulan terakhir.
Perlahan, Aisyah meraih kitab itu. Ia pandangi dan ia genggam sampul nya dengan tangan yang sedikit bergetar. Bukan karna dingin, tapi karna takut. Takut jika hafalannya hilang lagi, seperti hafalan nadzom Aqidatul Awam nya setahun yang lalu. Memang, sejak dua minggu terakhir, hafalan Aisyah seperti pasir di atas meja yang terkena angin. Nadzom–nadzom yang dulu telah ia hafal, kini dengan mudah nya sering tersandat. Bahkan beberapa bait terasa asing. Padahal sebelum nya, ia juga menghafal Nadzom Tufatul Athfal.
“Aisyah kuat, ya, memorinya,”, “Enak, ya, kamu cepat menghafalnya,”. Begitulah pujian dari teman-temannya yang sering ia dengar.
Aisyah bangkit, mengambil kerudung instan yang tergantung didepan lemari nya. Lalu, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dinginnya udara pada saat itu membuat air wudhu yang membasahi wajahnya terasa begitu menusuk dan dingin, namun justru membuat pikirannya menjadi jauh lebih tenang.
Ia berdiri di depan cermin, menatap wajah nya yang begitu lelah, “kenapa aku jadi susah menghafal gini, ya?” gumam nya.
Para santri mulai berdatangan memenuhi serambi masjid An Nur. Suara sandal yang beradu dengan tanah sangat menghiasi pelataran masjid pagi itu.
Setelah salat berjamaah selesai, para santri kembali ke asrama masing masing. Sebagian santri melakukan aktivitas yang berbeda-beda, seperti membaca Al Quran, halaqoh, dan tadarus kitab. Terkecuali Aisyah, yang justru memilih duduk menyendiri di serambi putri. Ia membuka kitab Tuhfatul Athfal yang semalam ia coba hafalkan. Bait pertama ia lantunkan dengan lancar, begitupun dengan bait ke-2, ke-3, hingga bait ke-47, ia mulai berhenti. Tentu saja karna lupa. Ia mengulang lagi dari awal, namun masih tetap salah, hingga kali ketiga ia mulai frustasi.
“hmm… astaghfirullah,” gumamnya resah.
Akhirnya, ia memutuskan untuk segera berangkat sekolah. Namun saat di kelas, Aisyah hampir tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh gurunya. Di bukunya, Ia menggoreskan pena tanpa makna. Fatimah, teman sebangku nya yang menyadari keanehan yang sedang dialami oleh Aisyah, berbisik, “Kamu kenapa, Aisyah?”. Aisyah pun menjawab seadanya, “engga apa apa, kok,”.
Singkat cerita, malam selasapun tiba. Waktu yang tidak terlalu ditunggu oleh para santri sebenarnya, karna mereka harus menyetorkan hafalan masing-masing. Satu persatu santri mulai maju, hingga tibalah giliran Aisyah. Saat gilirannya maju, badannya terasa sangat dingin. Tangannya pun gemetar dan berkeringat.
“Silahkan, Aisyah,” kata pengampu setorannya. Aisyah pun mulai melantunkan bait-bait yang telah di hafalnya semalam. Sayang beribu sayang, hafalannya masih sama seperti semalam. Ia tidak dapat melantunkan seluruh baitnya dengan lancar, hanya 47 bait saja yang dapat ia setorkan. Ustadzah pengampu menyuruhnya untuk mengulanginya sekali lagi. Tetapi, hasilnya tidak lebih baik. Alhasil, ia pun disuruh untuk mengulang hafalannya lagi dan menyetorkannya minggu depan. Dengan pasrah, Aisyah pun mengangguk mengiyakan.
Keesokan harinya, Aisyah memberanikan diri untuk menemui ustadzah pengampu yang mengampu hafalannya kemarin.
“Ustadzah, saya kok ngerasa susah buat ngehafal, ya?” kata Aisyah mengawali pembicaraan.
“tapi kamu ga nyerah, kan?”
“engga, Ustadzah,” jawab Aisyah lesu.
“gapapa, Aisyah. Walaupun kamu ngerasa susah, tapi kalo kamu masih mau berusaha, maka masih ada harapan buat kamu kedepannya!” kata Ustadzah pengampu menasehati dengan penuh semangat. Sejak saat itu, dengan senyum dan dukungan dari Ustazdah pengampunya, Aisyah menjadi lebih bersemangat. Ia mulai menyusun jadwal baru agar waktu menghafal dan belajar nya lebih tertata.
| Waktu | Kegiatan |
|---|---|
| 03.00 – 03.20 | Bangun & persiapan |
| 03.20 – 03.50 | Tahajud |
| 03.50 – 04.30 | Menghafal |
| 04.30 – 05.00 | Subuh & dzikir |
| 05.00 – 05.45 | Menghafal lagi |
| 07.00 – 15.00 | Sekolah |
| 16.00 – 17.00 | Murajaah |
| 18.30 – 19.30 | Murajaah malam |
| 21.00 | Istirahat |
Ia menempel jadwal tersebut di pintu lemarinya, bertekad keras agar perubahan itu menjadi nyata. Alhamdulillah ketika ia mulai memanfaatkan jadwal itu dengan benar, proses menghafalnya jadi jauh lebih mudah. Dua bulan kemudian, Aisyah tampil di acara Haflah Akhirussanah & Khotmil Quran yang diselenggarakan pondoknya. Dan yang paling membanggakan adalah , ia berdiri di barisan paling depan.
Kini, Aisyah mengerti bahwa hafalan itu hanya untuk orang setia pada hafalannya dan selalu beristiqomah untuk mengulangnya.
Penulis: Maulida Putri Mafa Al Isna

