Agendaartikel santriBeritapengajianPesantren Kami

Dua Hadiah Istimewa dari Mesir: Mau’idhoh Hasanah dan Ijazah Langka untuk Santri Al Hikmah 2

Al Hikmah 2, Benda- Pada hari Rabu, 24 September 2024, keluarga besar Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren (YPPP) Al Hikmah 2 kedatangan tamu agung dari Negeri Piramida, Mesir, yaitu Syaikh Sa’id Muhammad ‘Ali. Kunjungan beliau atas ajakan Gus Najih, setelah sebelumnya mengunjungi Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Para dzurriyah, sejumlah dewan guru, dan seluruh santri menyempatkan waktu untuk bertalaqi dan mengaji bersama beliau.

Kegiatan ini terbagi dalam empat sesi. Sesi pertama dilaksanakan usai shalat Subuh, sesi kedua pukul 09.00 WIB, sesi ketiga pukul 16.00 WIB, dan sesi terakhir pukul 20.00 WIB. Dari keempat sesi tersebut, hanya sesi pertama yang wajib diikuti seluruh santri, sementara sesi kedua khusus untuk santri kelas 2 dan 3 Madrasah Aliyah Program Keagamaan, Ma’had ‘Aly, dan STAIA, sesi ketiga hanya untuk santri putri, dan sesi terakhir hanya untuk santri putra.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang kajian Syaikh Sai’d, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tarjamah atau biografi singkat dari beliau.

Profil Singkat Syaikh Sa’id Muhammad ‘Ali

Nama lengkap beliau adalah Sa’id Muhammad ‘Ali. Para santri memanggilnya dengan sebutan الشيخ الدكتور سعيد محمّد علي الأزهاري sebagai bentuk penghormatan. Dari gelar tersebut, dapat diketahui bahwa beliau adalah seorang Guru Besar Universitas Al-Azhar, Mesir.

Selain itu, Syaikh Sa’id memiliki sejumlah jabatan dan prestasi penting, di antaranya:

  • Mantan Menteri Wakaf Mesir.
  • Salah satu Imam di Masjid Sayidina Husein.
  • Pemilik sanad qira’ah asyrah (sepuluh jenis qira’at Al-Qur’an).
  • Pengelola kutab (pusat-pusat tahfizh Al-Qur’an untuk anak usia dini).
  • Penulis beberapa karya tulis Islam yang sebagian telah diterbitkan dan dapat diakses oleh publik.

Laporan Sesi Pertama: “Hakikat Ubudiyah

Sesi pertama berlangsung usai shalat Subuh berjamaah. Para santri Pondok Pesantren Al Hikmah 2 menyimak dengan khidmat Mau’idhoh Hasanah (nasihat yang baik) dari Syaikh Sa’id Muhammad ‘Ali dengan tema Ubudiyah.

Beliau menyampaikan nasihat dalam bahasa Arab, yang kemudian diterjemahkan secara langsung oleh penerjemah yang mendampinginya.

Dalam pembukaannya, Syaikh mengucapkan syukur atas karunia Allah sehingga dapat berkumpul di majelis ilmu yang mulia. Beliau kemudian bershalawat dan menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad SAW.

“Majelis ilmu adalah sesuatu yang sangat agung,” ujarnya. Beliau mengutip hadits Rasulullah SAW:

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَّ مُسْلِمَةٍ
“Menuntut ilmu wajib hukumnya atas setiap muslim dan muslimah.”

Syaikh menjelaskan bahwa kewajiban dalam konteks ini adalah fardhu kifayah. Artinya, jika di suatu daerah sudah ada yang menuntut ilmu, kewajiban bagi yang lain gugur. “Meski demikian, siapa pun yang diberi kesempatan menuntut ilmu, berarti ia telah mendapat taufik dan hidayah dari Allah SWT,” tambahnya.

Selanjutnya, Syaikh beralih kepada tema utama, yaitu Ubudiyah. Menurut penjelasannya, ubudiyah (penghambaan) adalah lawan dari rububiyah (ketuhanan) dan ilahiyah (keesaan). Ubudiyah berarti menjadikan diri sepenuhnya sebagai hamba Allah. “Kita salat untuk Allah, ruku’ dan sujud untuk-Nya, serta memohon hanya kepada-Nya,” tegas beliau.

Untuk memperkuat hal ini, Syaikh mengutip dua ayat Al-Qur’an:

  • Q.S. Ghafir ayat 60: Allah berfirman bahwa jika seorang hamba memohon, Dia akan mengabulkannya.
  • Q.S. Al-Baqarah ayat 186: Allah dekat dan siap mengabulkan doa hamba-Nya.

Di akhir sesi, Syaikh menyampaikan sejumlah nasihat penting kepada para santri:

  • Ingatkanlah manusia dengan setiap kebajikan dan cegahlah mereka dari kemungkaran.
  • Janganlah berjalan di atas bumi dengan kesombongan.
  • Bersabarlah ketika menghadapi ujian dari Allah.
  • Berjalanlah dengan pertengahan, tidak tergesa-gesa dan tidak pula lambat.
  • Hindari berbicara dengan berteriak, terutama bagi perempuan.

Sebagai penutup yang berharga, beliau memberikan ijazah (izin spiritual untuk mengamalkan suatu doa atau dzikir) kepada para santri. Ijazah dengan sanad yang bersambung hingga Sahal bin Abdullah At-Tustari, seorang ulama sufi ternama, tersebut berbunyi:

أَجزْتُ: اللّه مَعِي، اللّه نَاظِرٌ إلَيَّ، اللّه مُطَّلِعٌ عَلَيَّ، اللّه شَاهِدِي
“Aku ijazahkan: Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah mengawasiku, Allah menyaksikanku.”

Para santri serempak mengucapkan “قَبِلْنَا” (kami menerima) sebagai bentuk penerimaan ijazah tersebut. Ijazah ini dianjurkan untuk dibaca ketika sedang sendirian.

Kesimpulannya, Syaikh menegaskan bahwa inti Ubudiyah adalah menyandarkan segala harapan dan permohonan hanya kepada Allah SWT.

Penulis: Lady Agaschia Zahra

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button