Dari Pena Ulama ke Peradaban Santri: Turāts sebagai Jembatan Ilmu Menyebrangi Zaman bersama Gus Najih

Sirampog, Brebes – Dalam rangkaian Haul Almaghfurlah Abah KH Masruri bin Abdul Mughni yang ke-14, Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 menggelar seminar ilmiah bertajuk At-Tharīq Ilā Turāthinā al-Fiqhi (Jalan Menuju Warisan Kita), dengan tema “Membuka Tabir Kitab Fikih Syafi’i: Wawasan Turats untuk Pemula.”
Berbeda dari kegiatan sebelumnya yang lebih menonjolkan aspek sosial (seperti sunat massal) dan kelembagaan (seperti halaqah RMI), seminar ini menawarkan suasana kontemplatif yang membangkitkan kembali semangat intelektual santri. Forum ilmiah ini dihadiri oleh siswa kelas 4 dan 5 Madrasah Mu’allimin Mu’allimat (MMA), siswa MAK dan Maly Al-Hikmah 2, para guru, serta santri yang memiliki minat mendalam terhadap fikih Syafi’i dan studi kitab kuning (turāts).
Tujuan dan Pembagian Sesi
Seminar ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kesadaran keilmuan di kalangan santri, khususnya dalam memahami kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i yang menjadi warisan utama pendidikan Islam tradisional. Banyak santri hari ini akrab dengan kitab, namun belum menyentuh kedalaman metodologi dan cara berpikir ulama penyusunnya.
Dipandu oleh Gus M. Najihuddin Nasucha, S.E., M.Sc., IBF—delegasi dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Tengah—seminar ini dibagi dalam dua sesi utama. Sesi pertama membahas pengenalan terhadap kitab fikih Syafi’i dan perannya dalam tradisi pesantren. Sesi kedua memaparkan teknik membaca dan memahami teks fikih klasik secara praktis, termasuk pendekatan tematik dan studi kasus agar peserta tidak hanya memahami teks, tetapi juga makna dan relevansinya.
Ilmu: Bukan Sekadar Bacaan, Tapi Jalan Pandang
Dalam pengantarnya, Gus Najih menyoroti krisis berpikir yang melanda generasi hari ini. Menurutnya, banyak orang belajar kitab, tapi gagal memahami kerangka berpikir yang menopang tulisan-tulisan ulama.
“Masalah kita hari ini bukan kitabnya yang sulit, tapi cara berpikir kita yang makin dangkal. Kita membaca, tapi tidak memahami,” tegasnya.
Bagi Gus Najih, turāts bukan sekadar kumpulan teks klasik, melainkan refleksi mendalam atas bagaimana ulama melihat dunia. Maka, yang pertama harus disiapkan adalah alat berpikir—bukan hanya kamus dan terjemah, tetapi cara pandang.
Ilmu Kalam dan Realitas: Menjaga Iman dengan Rasionalitas
Salah satu yang dibahas mendalam adalah peran ilmu kalam. Jika ilmu akidah mengajarkan apa yang harus diyakini, maka ilmu kalam mengajarkan bagaimana mempertahankan keyakinan itu dengan argumen logis. Gus Najih membedakan antara wujūd ḥādits (yang baru) dan wujūd qadīm (yang tidak berawal), sebagai cara berpikir yang mengarah pada keyakinan akan keberadaan Tuhan.
Islam, menurut beliau, memandang realitas secara utuh: ar-Rabb (Tuhan), al-Mulk (alam fisik), dan al-Malakūt (alam gaib). Ini melampaui cara pandang ilmu Barat yang hanya mengandalkan data dan pengamatan kasat mata.
“Kita tidak bisa menebak siapa Tuhan, kecuali Dia sendiri memperkenalkan Diri-Nya lewat wahyu. Ini bukan logika, ini adab ilmu,” ujarnya.
Bahasa Arab: Kunci Memahami Warisan Ilmu
Seluruh turāts ditulis dalam bahasa Arab klasik. Tanpa penguasaan dasar-dasar seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan pemahaman kamus-kamus utama, santri akan kebingungan dan kehilangan makna.
“Bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah gerbang menuju pemahaman,” tegas Gus Najih.
Karenanya, seminar ini juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi pembelajaran bahasa Arab di pesantren, bukan hanya sebagai pelajaran formal, tetapi sebagai bagian dari kehidupan intelektual santri.
Ushul Fikih: Menjembatani Wahyu dan Realitas
Gus Najih menyebut ushul fikih sebagai puncak dari semua ilmu alat. Ia adalah jembatan antara wahyu dan kenyataan hidup.
Sayangnya, banyak yang mengira ushul fikih bisa dipelajari secara cepat dan instan.
“Top up game saja tidak instan. Apalagi ilmu,” sindir beliau disambut tawa peserta.
Ushul fikih, menurut beliau, butuh kesabaran bertahun-tahun dan bimbingan guru agar benar-benar bisa digunakan dalam membaca hukum dari teks.
Mazhab Syafi’i: Peta Kitab dan Sanad Keilmuan
Pada sesi berikutnya, Gus Najih membentangkan peta kitab dalam mazhab Syafi’i—mulai dari al-Umm karya Imam Syafi’i, hingga Minhāj al-Ṭālibīn karya Imam Nawawi yang jadi rujukan pesantren Nusantara.
Beliau menjelaskan peran kitab-kitab seperti al-Wasīṭ, al-Wajīz, Fatḥ al-‘Azīz, Tuhfah al-Muḥtāj, Nihāyah al-Muḥtāj, dan posisi tokoh-tokohnya seperti Imam al-Ghazali, Imam Rāfi’i, hingga Zakariyya al-Anṣārī.
“Kalau belum belajar Minhāj al-Ṭālibīn, berarti belum sungguh-sungguh masuk fikih Syafi’i,” tegas beliau.
Imam Nawawi: Menulis di Tengah Badai
Di akhir pemaparannya, Gus Najih mengisahkan tentang sosok Imam Nawawi. Ulama besar ini hidup di masa krisis akibat serangan Mongol, namun justru memilih jalan ilmu dan menulis sebagai bentuk jihad. Ia hidup sederhana, menolak jabatan, dan meninggalkan warisan luar biasa bagi dunia Islam.
“Beliau hidup seperti Palestina hari ini—di tengah kekacauan dan penindasan—tapi mampu meninggalkan cahaya ilmu yang tak padam,” ucap beliau dengan penuh haru.
Turāts: Peta, Bukan Pajangan
Sebagai penutup, Gus Najih menekankan bahwa turāts bukanlah peninggalan mati atau barang antik yang cukup dikoleksi, tetapi peta masa depan. Untuk memahaminya, santri perlu menyiapkan alat berpikir, adab ilmiah, dan kesungguhan belajar.
“Kalau hanya berhenti di jembatan, kapan akan sampai ke seberang?” tutup beliau.
Seminar ini mengajak seluruh santri untuk tidak hanya menjadi pembaca kitab, tetapi menjadi pewaris dan penjaga peradaban keilmuan Islam. Menjadi santri bukan sekadar mengenakan sarung dan duduk di pengajian, tapi menjadi pelanjut jejak ulama—dengan akal, adab, dan ilmu.
oleh: Tim Jurnalis Al Hikmah 2


