HeadlineSantri Menulis

Belajar Dari Karakter Dakwah Walisongo

77442212_o

Bicara tentang sejarah Islam di Indonesia, tentu tak bisa dilepaskan dari sejarah penyebar Islam tanah Jawa, Walisongo. Para Wali bukan saja berhasil mengajak masyarakat Jawa masuk Islam secara suka rela. Lebih dari itu, Walisongo juga sukses melakukan transfer ajaran Islam ke tengah kehidupan masyarakat Jawa. Keberhasilan dakwah Walisongo adalah kegemilangan yang pengaruhnya bahkan tetap kentara hingga kini.

Selain karena kedalaman ilmu agamanya, Walisongo adalah pendakwah yang dikenal punya kemampuan berdialog dengan seni dan budaya. Tiap seni dan budaya, dalam pandangan Walisongo tak boleh diberangus begitu saja, sebab bisa jadi melukai hati masyarakat. Budaya boleh tetap lestari, asal tak bertentangan dengan syari’at Islam. Ajaran Islam harus mampu menjadi spirit dan pijakan dari pelaksanaan tiap budaya yang berjalan.

Dalam berdakwah, Walisongo bahkan tak segan memanfaatkan seni dan budaya sebagai media dakwah. Sejarah mencatat, bahwa beberapa Wali bahkan memiliki andil besar dalam perkembangan seni dan budaya masyarakat Jawa. Sebut saja misalnya nama Sunan Giri. Wali bernama asli Raden Ainul Yaqin ini dikenal sebagai penggubah lagu-lagu jawa bernafaskan dakwah. Beberapa judul lagu gubahan Sunan Giri yang masyhur diantaranya adalah Jamuran, Cublak-Cublak Suweng dan Gula Ganti.

Ada juga sunan Kalijaga. Wali dengan segudang talenta seni. Sunan Kalijaga adalah seorang dalang wayang yang handal, seorang disainer brilian perancang baju ‘takwa’, juga seorang pencipta lagu. Lagu Lir Ilir hasil gubahannya bersama Sunan Giri bahkan masih terus dinyayikan hingga sekarang.

Talenta seni Walisongo belum habis. Masih ada nama besar Sunan Bonang. Dalam berdakwah, putra Sunan Ampel bernama asli Raden Makdum Ibrahim ini kerap memanfaatkan alat musik ‘bonang’ untuk menarik simpati rakyat. Oleh sebab kepandaiannya bermain bonang ini jugalah, Raden Makdum memperoleh gelarnya sebagai Sunan Bonang. Selain mahir memainkan bonang, Sunan Bonang juga adalah seorang pencipta lagu handal. Lagu ‘tombo ati’ yang kembali dipopulerkan oleh penyanyi religi Opick, adalah satu diantara lagu ciptaan beliau.

Tombo Ati Iku Limo Perkarane

Kapeng Pisan Moco Qur’an lan maknane . . .

Karakter Dakwah Walisongo

Dakwah dalam Islam haruslah dilakukan cara yang santun dan baik. Al Qur’an memberi tiga jalan untuk melakukan seruan ke jalan Allah sebagaimana terdedah dalam QS. An-Nahl : 25

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan mau’izhah (pelajaran yang baik), dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik “ (QS. An Nahl : 25)

Jalan pertama dalam berdakwah adalah hikmah, yakni dengan kebijaksanaan, langkah yang tepat dan efektif dan pendekatan kemasyarakatan yang penuh keteladanan. Selanjutnya, jalan dakwah kedua adalah mau’izhah, yakni nasihat-nasihat yang baik yang menyejukkan, mampu menggugah, meninggikan semangat untuk beramal baik, serta menumbuhkan kesadaran dan keinsafan. Dan jalan yang ketiga, adalah mujadalah yakni lewat jalan berdialog, berdiskusi, berbantah, saling bertukar argumen dengan cara yang baik.

Setiap jalan dakwah dalam Islam selalu menekankan kebaikan. Tak ada ruang untuk kata-kata kotor, cacian, hujatan dan ikrah atau paksaan. Demikianlah Allah Swt menggariskan prinsip dakwah untuk hambanya.

Akan halnya dengan Walisongo. Ada apa dibalik rahasia kegemilangan dakwah para wali ini. Jurus macam apa yang dipergunakan walisongo, hingga agama Islam bisa dipeluk oleh mayoritas orang di bumi pertiwi.

Sejarah mencatat, bahwa faktor utama kesuksesan dakwah Walisongo tak lain adalah kekukuhan para Wali dalam memegangi prinsip dakwah Islam itu sendiri. Prinsip dakwah sebagaimana diteladankan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Secara lebih rinci, menurut hemat penulis, kesuksesan dakwah Walisongo didasari oleh empat karakter utama berikut ini.

Karakter pertama. Walisongo menerapkan model dakwah sebagaimana model dakwah yang Allah gariskan dalam QS. An Nahl : 25. Yakni al-hikmah (kebijaksanaan), mau’izah (nasehat yang baik) serta al mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantahan dengan jalan sebaik-baiknya).

Dalam menyampaikan dakwahnya, Para Wali selalu mendahulukan aspek keteladanan pada umat, memberikan nasehat dalam bahasa yang santun dan sejuk, dan bila memang diperlukan sebuah diskusi atau perdebatan, Walisongo membingkai diskusi itu dalam suasana yang ahsan. Berdebat bukan untuk saling menjatuhkan dan pamer kepandaian, tapi untuk menunjukkan kebenaran yang nyata.

Karakter kedua, Walisongo memahami benar pentingnya media dalam medan berdakwah. Para Wali tak canggung memanfaatkan media seni dan budaya seperti gamelan, wayang, dan lagu daerah yang kala itu tengah digandrungi masyarakat. Para Wali tidak saja mampu menggunakan berbagai instrument seni, bahkan menjadi tokoh kunci dalam perkembangan seni tersebut di kemudian hari.

Karakter Ketiga. Walisongo berdakwah dengan damai serta lewat pendekatan kemasyarakatan yang baik. Tak pernah ada pemaksaan atau adu kanugaraan untuk mengajak pada Islam. Para wali mengajak masyarakat kepada Islam dengan santun dan sabar. Walisongo berdakwah dengan setahap demi setahap. Hal ini nampak jelas pada dakwah Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Ketika baru tiba di tengah masyarakat, Maulana Malik Ibrahim tidak secara frontal menyampaikan ajaran Islam. Beliau lebih dulu berbaur dengan masyarakat, memperkenalkan dirinya secara perlahan. Baru setelah itu mulai mengenalkan ajaran Islam dan kemudian mengajak serta masyarakat masuk Islam.

Karakter Keempat, Walisongo menyasar seluruh kalangan sebagai obyek dakwahnya. Tanpa pandang bulu. Walisongo tak pernah memilah-milah sasaran dakwah. Seluruh kalangan mulai dari petinggi kerajaan hingga rakyat jelata didatangi. Untuk kepentingan dakwah, Para Wali juga tak segan menduduki jabatan strategis. Seperti yang dilakukan Sunan Ampel sebagai penasehat kerajaan Islam Demak.

Karakter Kelima. Walisongo membangun kaderisasi dakwah lewat Pendidikan yang berkualitas. Walisongo adalah peletak batu pertama berdirinya model pendidikan Pondok Pesantren. Sebuah model pendidikan yang sebelumnya belum pernah ada di nusantara. Sejarawan, Ahmad Mansur Suryanegara menampik anggapan bahwa model pendidikan Pesantren adalah adobsi model pendidikan peninggalan agama hindhu dengan dalih tidak diketemukannya pendidikan serupa Pesantren di daerah Bali hingga kini.Para wali adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren generasi pertama. Dari Pesantren-pesantren pertama inilah, agama Islam bisa kian tersebar di nusantara. Para santri gemblengan Walisongo dikirim keberbagai pelosok nusantara untuk menjadi pendakwah.

Penutup

Sebagai penutup tulisan ini, sejenak, mari ingat kembali pesan Bung Karno, presiden pertama bangsa ini dalam pidatonya yang berapi-api ‘Jas Merah’ Jangan sekalipun melupakan sejarah. Jangan pernah sekalipun berani-berani untuk melupakan sejarah, sebab Ia ibarat seorang guru bijak yang tak bosan memberikan pelajaran. Ada begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik kita membaca dan mengingat ulang sejarah.

Dalam sejarah Islam nusantara, tentu saja kajian sejarah tentang Walisongo bukan saja harus diketahui, dimengerti, diceritakan kembali, tapi juga harus diteladani.

Di tengah tantangan dakwah yang kian keras, agaknya pembacaan ulang sejarah Walisongo menjadi kian penting dilakukan. Bukan saja untuk mengingat kembali, tapi juga menjadikannya sebagai pelajaran amat berharga sebagai bekal dakwah masa kini. Demi menjaga tetap berkibarnya bendera Ahlussunnnah Wal Jama’ah. Wallahu A’lam. ( In’am Al Fajar, Ma’had Aly 2008).

Pondok Pesantren Al -Hikmah 2

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button