BeritaHeadline

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H

MAKNA IBADAH QURBAN

Ibadah kurban menjadi sarana ampuh untuk mewujudkannya baik untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarub ilallah) maupun  kedekatan kepada manusia (taqarub ilannas). Sehingga ibadah kurban mengandung dua dimensi yakni dimensi spiritual-transendental sebagai konsekwensi dari kepatuhan kepada Allah dan dimensi sosial humanis yang nampak dalam pola pendistribusian hewan kurban untuk mereka yang berhak (mustahiq). Sementara untuk mewujudkan kelekatan sosial melalui ibadah kurban ini, ada tiga hal yang dapat dilakukan yakni pertama peduli sesama dalam bentuk berbagi daging qurban, kedua  memberikan pesan dan harapan yang tinggi dengan menyebarkan syiar Islam dan ajakan untuk berkurban, dan ketiga memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dan berkontribusi melalui sinergi kepanitiaan dan partisipasi aktif dalam meraih pahala dan fadhilah kurban.

Penyembelihan hewan kurban merupakan simbol pendekatan spiritual seorang hamba kepada Tuhannya dan sekaligus pendekatan sosial kemanusiaan dengan sesamanya. Pemaknaan seperti inilah yang memberikan spirit dari esensi yang akan menemukan relevansinya dengan kondisi yang sulit seperti sekarang ini. Secara sosiologis antropologis, ketaatan dan ketulusan Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk mengurbankan anaknya merupakan simbol keteladanan sosial paling tinggi walaupun akhirnya Nabi Ismail as diganti dengan hewan sembelihan. Penggantian kurban manusia dengan hewan ini sendiri merupakan apresiasi dan aktualisasi janji Allah untuk memberi balasan yang terbaik pada orang yang bertakwa dan berbuat baik. Allah berfirman:   وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ . وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ . سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ .كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ .إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”. (QS. As-Shaffat: 107-111)

Dalam perspektif lain, ibadah kurban juga menegaskan bahwa ajaran Islam ingin menyelamatkan manusia dari tradisi yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan. Ibadah kurban juga bertujuan menghilangkan sifat buruk binatang yang terkadang muncul pada manusia diganti dengan sifat saling menyayangi dengan wujud saling berbagi. Dalam konteks ini, ibadah kurban menjadi simbol perlawanan terhadap setan dan hawa nafsu (sifat-sifat kebinatangan), yang hadir lewat sikap menzalimi demi menghalalkan segala cara. Nilai-nilai yang dapat disikapi dari ritual kurban, yaitu pembelajaran ketika Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan, tersirat makna agar manusia tidak lagi menginjak-injak harkat dan derajat manusia dan kemanusiaan.

Sumber : nu online

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button