Home / Khazanah / Telaah Nahwiah Dalam Al-Qur’an (3)

Telaah Nahwiah Dalam Al-Qur’an (3)

Kalimat Fi’il Dalam Al-Qur’an

Kalau kalimat isim digunakan untuk arti tetap, maka kalimat Fi’il sesuai dengan definisinya digunakan untuk menunjukkan arti yang selalu berubah dan bertambah secara berkesinambungan. Karena itulah kita sering menemukan kalimat fi’il dalam Al Qur’an digunakan dalam persoalan yang menunjukkan perubahan dan pembaharuan seperti masalah hakikat dunia, nikmat, adzab amal saleh dan lainnya.

Allah berfirman

وما كان الله ليعذبهم وانت فيهم وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون

Pada kalimat yang pertama Allah menggunakan bentuk Fi’il (ليعذبهم) karena yang dimaksud bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang kafir selama mereka tetap bersama dengan Rasulullah. Semetara pada kalimat kedua Allah menggunakan kalimat isim (معذبهم) ini menunjukkan arti bahwa selama mereka mau beristighfar (bertaubat), meski Rasulullah telah tiada, Allah tidak akan menyiksa (menurunkan adzab) kepada mereka.

Itulah inti pelajaran yang dapat kita pahami dari ayat tersebut bahwa selalu beristighfar kepada Allah dapat menghilangkan adzab demikian juga berkumpul dan berteman Rasulullah atau orang-orang saleh dapat menjadikan hal yang sama, sekalipun sementara

b. Allah berfirman

وما كان مهلك القرى الا واهلها ظالمون

Disini Allah memberitahukan tidak akan menghancurkan suatu kaum kecuali karena kedzalimannya sendiri. Dalam akata dzalim Allah menggunakan kalimat Isim Fa’il (ظالمون) artinya dzalim adalah sesuatu yang pasti akan mendatankan bencana begitu juga sebaliknya.

Karena itulah sebagai solusi yang terbaik yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah dengan beristigfar, makanya Allah menggunakan dengan bentuk fi’il (يستغفرون)

c. Allah berfirman dalam menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap orang-orang mukmin

واذا لقو الذين أمنوا قالوا أمنا واذا خلوا الى شياطنهم قالو انا معكم انما نحن مستهزءون

Bagaimana Allah menjelaskan sikap orang munafik terhadap orang mukmin, mereka berkata : kami beriman. Yang dijelaskan oleh Allah dengan bentuk jumlah fi’liyah (أمنا ) ini artinya bahwa mereka mengucapkan kata : kami beriman, hanya bersifat kondisional, tidak tetap, sekedar untuk membohongi orang-orang yang beriman. Tapi sebaliknya ketika Allah menjelaskan sikap mereka saat berkumpul dengan kelompoknya Allah menggunakan kalimat dengan jumlah ismiyah (إنا معكم) . Ini jelas memberikan arti bahwa hakikat sikap (hati) mereka adalah munafik.

d.Allah berfirman dalam menjelaskan bertasbih dan beristighfar para Malaikat dan para Nabi

والملائكة يسبحون بحمد ربهم ويستغفرون لمن فى الارض

Ayat diatas menggunakan Fi’il karena sedang menjelaskan sifat para malaikat, Nabi dan kekasih Allah bahwa mereka selalu bertasbih dan beristighfar kepada Allah.

Itulah salah satu contoh baagaimana kita memahami dan menerapkan pemahaman terhadap kalimat fi’il yang kita pelajari dalam ilmu nahwu di dalam memahami teks Al-Qur’an.

( DR. KH. Ahmad Najib Afandi, MA dalam buku Madrasah Nahwu Basrah & Kufah ).

About Tim Redaksi

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *