artikel santri

PESANTREN DAN BUDAYA MENULIS

alhikmahdua.net,benda_Nusantara merupakan semua wilayah yang dulunya di bawah kekuasaan Majapahit. Nusantara lekat pada indonesia setelah maerdeka. Interaksi antar agama Islam dan budaya lokal menghasilkan wajah baru yang berbeda dari Islam TimurTengah. Sejarawan percaya, pertama kali Islam masuk ke Nusantara adalah Islam tasawuf dan Islam masuk dalam kondisi asli sudah memeluk kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang. Walisongo sebagai penyebar agama Islam secara bertahap dan meramu intisari ajaran Islam kemudian menyelipkannya kedalam tradisi masyarakat setempat . Pesantren merupakan produk dari budaya Nusantara, para sejarawan pun sepakat pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia.

karya Para Wali Songo

Agaknya tradisi menulis di Pondok Pesantren sudah ada seiring lahirnya lembaga tersebut. Hingga sekarang kita masih bisa menikmati karya-karya Walisongo. Sunan Ampel yang dipercaya sebagai guru para Walisongo sekaligus pendiri Pesantren pertama memiliki putra Bernama Raden Maulana Makdum Ibrahim atau yang lebih dikenal Sunan Bonang. Sunan Bonang memiliki banyak karya salah satunya tentang ilmu tasawuf berjudul Tanbihul Ghoflin, Suluk Wujil, dan tembang jawa. Sunan KAlijaga dengan berbagai tembang Jawa dan dua buah kitab yang sangat dikenal Masyarakat yaitu kitab Suluk linglung dan serat dewa ruci, serta karya-karya para sunan lainnya dan kemudian tradisi kepenulisan dilanjutkan oleh generasi penerus Walisongo yaitu para Ulama Nusantara seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nurrudin ar-Raniri dan Abdurrauf as-singkili yang pada abad ke-16 dikenal juga sebagai pemikiran Islam dan pengembang peradaban Melayu Nusantara. Dari sini sudah sangat jelas dari awal budaya kepenulisan tidak bisa sipisahkan dari dunia pesantren.

Pentingnya Menulis

Mungkin kita pernah mendengar Pramodya Ananta Toer bahwa orang boleh pandai setinggi langit, Tapi selama tidak menulis ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Ia mengungkapkan, Menulis merupakan aviktivitas keabadian. artinya, Siapa menulis dia akan “abadi”. Pram sudah lama meninggal tapi orang masih merasa dia masih hidup dengan membaca tulisannya. Begitu pula para mushanif kitab yang hingga kini karyanya masih dikaji di berbagai Pesantren bahkan Universitas. “Jika engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Begitulah petuah Imam Ghozali menyadari beberapa pentingnya menulis. Kita sebagai santri dituntut mengikuti Kyai dan Ulama termasuk dalam hal produktivitas menulis. Meskipun belum menguasai bahasa arab tetapi kita sudah menguasai bahaa nasional, Bahasa Indonesia, Mulailah dengan itu. Secara sederhana, karya besar dimulai dari kecil. Sebagai santri kita sudah tidak punya alasan untuk tidak menulis.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button