Berita

Semarak Harlah ISABA

BENDA- ISABA (Ikatan Santri Jawa Barat) ulang tahun. Organisasi santri JABAR ini merayakan hari jadinya yang ke-32 tadi siang (19/03). Bertempat di Gedung Olahraga Al Hikmah 2, Acara HARLAH yang dimulai sekitar pkl.14.30 WIB ini dibuka dengan pembacaan sholawat oleh tim rebana ISABA.

Dalam sambutannya atas nama pembina ISABA, Pak Ujang kembali mengingatkan beban tanggung jawab setiap santri sekembalinya nanti di masyarakat, selain itu beliau juga menekankan pentingnya organisasi santri ini, beliau berharap melalui ISABA ini, Al Hikmah dapat menjadi pusat organisasi santri JABAR dalam skala yang lebih luas.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah bagi para pemenang perlombaan, yang telah digelar beberapa hari sebelumnya. (JA-11).

Pondok Pesantren Al -Hikmah 2

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Related Articles

2 Comments

  1. BELAJAR DARI MAULID NABI
    Maulid nabi yang setiap tahun diperingati adalah moment untuk mengingat pentingnya misi kenabian. Muhammad adalah anak muda mekkah yang sangat dihormati karena kecakapan moralitasnya. Gelar yang diberikan oleh masyarakat makkah adalah al-amîn, “orang yang dipercaya”.
    Maulid nabi yang setiap tahun diperingati adalah moment untuk mengingat pentingnya misi kenabian. Nabi datang telah merubah komunitas yang menjadikan patung-patung sebagai sesembahan (syirik) dan meremehkan harkat kemanusiaan (baca masa jahiliyah). Tidak mempergunakan basis etnis, turunan, kekuasaan, dan pebudakan yang menjadikan orang menjadi mulia. Hanya mengandalkan sepenggal kasalehan bagi Tuhan, diri, dan masyarakatnya.

    Muhammad adalah anak muda mekkah yang sangat dihormati karena kecakapan moralitasnya. Gelar yang diberikan oleh masyarakat makkah adalah al-amîn, yang berarti “orang yang dipercaya”.

    Adalah konsep ‘masyarakat madani’ yang dikenalkan oleh Muhammad untuk menata umatnya Interaksi dibangun atas dasar keadilan, keterbukan dan demokratisasi.

    Ketiga dasar itu, digunakan untuk memosisikan umat sebagai agen perubahan masyarakat arab yang buta atas harkat dan martabat kemanusiaan. Prilaku jahiliyah yang kering dari kosakata dirubah dengan konstruksi sosial masyarakat muslim waktu itu yang saling berkhidmat pada sikap ideal. Nabi adalah sebagai arsitektur sekaligus ‘pemimpin proyek pembangunan’ dari paradaban yang untuk ukuran zamannya sangat modern.

    Ketiga asas yang ditawarkan itu, belakangan menjadi populer di tengah retorika para pemimpin kita. Baik itu semasa kampanye maupun setelah menjalankan roda kepemimpinannya. Kita menyaksikan semua aktor kekuasaan fasih meneriakkan keadilan, keterbukaan, dan demokratisasi.

    Hanya saja, kita menerima kenyataan yang menyakitkan. Betapa tidak, dengan mayoritas penduduk muslim yang mempunyai nabi dan tatanan nilai begitu paripurna (Al-Quran-hadits), praktek kekuasaan menyayat nilai-nilai kepemimpinan Muhammad. Apa yang ditahbiskan oleh para pemimpin dengan ‘nilai-nilai ideal’ tadi tak lebih dari manisnya kata-kata dan janji-janji yang membosankan di podium kekuasaan.

    Di tengah kesenjangan ekonomi, praktek kemewahan kekuasaan masih terlihat kasat mata. Tokoh-tokoh masyarakat yang tadinya dikenal bersih dan sekarang mendapat kesempatan di tampuk kekuasaan tidak sedikit yang diduga terlibat korupsi, bahkan telah divonis tindak pidana korupsi.

    Seleksi pemimpin yang terbilang demokratis itu, sepertinya gagal menghantarkan ‘tokoh-tokoh panutan’ menjadi pemimpin yang tetap pada komitemnya untuk kesejahteran dan kemakmuran rakyat. Bahkan, peringkat negara terkorup pun masih kita sandang.

    Hampir semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara dibanjiri oleh praktek yang tidak mencerminkan keteladanan. Rakyat kecil yang tadinya berharap akan hadirnya wibawa kekuasaan di masa reformasi, ternyata sekedar lips service. Pelayanan kepentingan rakyat pun tidak berubah banyak dibandingkan masa-masa sebelumnya. Sepertinya mereka tidak merasakan makna perubahan yang kerap manis diutarakan para pemimpinnya.

    Lalu kita bertanya, apa yang tidak benar ?, padahal secara teologis dan demografis umat Islam Indonesia memungkinkan untuk menata sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Sedianya, berbicara Indonesia dalam konteks pembangunan adalah bicara Islam itu sendiri. Karena Islam menyediakan hamparan nilai yang ideal dan realitas sebagai mayoritas.

    Lebih dari itu, perlahan tapi pasti, komunitas ‘santri modern’ mulai menapak tampuk kekuasaan. Ini terjadi sebagai konsekuensi pematangan teolgisnya untuk menciptakan tatanan masyarakat baru yang adil, terbuka, dan demokratis.

    Namun, jangan lupa penyebab penting dari berhasil dan gagalnya pembangunan masyarakat adalah keteladanan para pemimpinnya. Nabi Muhammad adalah seorang yang bisa dijadikan contoh dengan baik (al-Ahzâb 33:20). Dalam satu hadits diredaksikan ‘sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhaq’. Ia berada pada tingkat teratas bagi umatnya ketika menilai setiap kepemimpinan.

    Dia tidak mempunyai pesona dunia yang berlebihan semasa sehidupnya. Tapi kenapa mampu menggerakkan nalar bangsa arab yang tadinya animis menjadi ‘manusia tauhid’ yang mengkonsentrasikan diri pada nilai-nilai kemanusiaan universal (rahmatan lil ‘âlamin) sebagai konsekuensi dari amanah kekhalifahan di muka bumi. Transformasi akhlak ke setiap individu bangsa arab, dilakukannya tanpa atribut material yang waktu itu memang jadi tolak ukuran.

    Seorang yatim-piatu telah berhasil membalikkan anggapan umum bangsa arab yang cendrung material-animistik, kepada pentingnya hidup dan kehidupan untuk Tuhan dan hakikat kemanusiaan, dengan pola kepemimpinan yang bisa ditiru, bukan hanya didengarkan lewat ‘titah-titah’-nya saja.

    Kondisi sosial-politik zaman Nabi, modern dalam hal keterbukaan mengenai kedudukan pemimpinnya untuk dinilai kemampuan mereka menurut landasan-landasan universalistis. Ini sebagai antitesa dari pola kepemimpinan arab yang berintikan kesukuan, kekerasan, dan prifilage kekayaan. Dalam skala nasionalisme partisipatif dan egaliter, apa yang dirintis oleh Nabi Muhammad, pada prkateknya waktu itu mempunyai tingkat apresiasi yang mamadai.

    Hanya saja, ketika zaman nabi berakhir salah satu kelemahan yang terjadi adalah kembalinya sistem kekuasaan pada sistem monarki sesuai dengan dinastinya masing-masing. Inilah yang dapat kita baca bahwa keteladanan dalam melanjutkan estafet kepemimpinan demokratis versi muhammad turun drastis. Hasilnya, lanjut Bellah, kegagalan ‘komunitas baru’ tersebut adalah kembalinya ke prinsip organisasi pra-Islam.

    Kegagalan pembangunan dalam sejarah Islam disebabkan oleh silaunya kekekuasaan dan manisnya limpahan harta pasca keberhasilan ekspansi muslim ke seluruh penjuru dunia. Mobilitas muslim ke pucuk kekuasaan untuk meneguhkan keadilan, keterbukaan, dan demokratisasi yang terjadi dalam politik Islam di Indonesia mutakh,ir bisa kita baca dalam konteks itu. Meski secara teologis dan demografis mempunyai potensi untuk menciptakan tatanan ideal, tapi jika tidak disertai dengan sikap keteladanan, maka gagalnya ‘misi provetik maulid nabi’ tidak perlu dianggap aneh.

    Masih segar dalam ingatan kita amatan Loc Action; bahwa ‘kekuasaan itu siapapun yang memegangnya akan cendrung dikorupsi oleh nafsu pelakunya’. Yang perlu dilakukan adalah menyadari status kekuasaan sebagai cara untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Kekuasaan bukan tujuan yang bisa dinikmati begitu saja, setelah bersusah payah meraihnya dan bukan pula untuk kepentingan individu dan golongannya.

    Walhasil, misi provetik maulid nabi mempunyai relefansi aktual dan positif untuk menata masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis. Sejatinya para pemimpin di negeri ini bisa menarik misi provetik maulid nabi ke pusaran kekuasaan. Karena, reformasi membutuhkan orang-orang yang banyak berbuat daripada bermanis kata di balik podium. Wa Allâh ‘alam bi al-shawâb

    Sumber : M. Misbakhuddin Chamami Zada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button