Home / Khazanah / Pengarang Barzanji dan Diba’i

Pengarang Barzanji dan Diba’i

Dikalangan umat Islam nama Barzanji telah dikenal luas. Sebuah kitab yang berisi syair-syair ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Kitab barzanji biasa dibaca ketika mereka mempunyai hajat, misalnya peringatan Maulid Nabi, upacara pemberian nama bayi, upacara pernikahan, khitanan dan lain sebagainya. Acara seperti itu biasanya dikenal dengan nama Barzanjen atau Barzanjian.

Kitab Barzanji merupakan sebuah karya seni sastra yang memuat kehidupan Nabi Muhammad SAW. Mulai dari masa-masa sebelum kelahiran, silsilah keturunan, kehidupan masa kanak-kanak, masa remaja, menjadi seorang pemuda, hingga diangkat menjadi Rasul. Juga menggambarkan sifat-sifat mulia Rasul, kepribadiannya yang agung, perjuangan menyebarkan agama Islam, dan lain sebagainya. Semuanya merupakan teladan bagi kaum muslimin. Tidak heran kalau karya sastra berbentuk prosa dan puisi itu sangat digemari di dunia Islam, termasuk Indonesia. Bagi mereka yang paham, dengan membacanya dapat meningkatkan iman dan kecintaan kepada Rasulullah, disamping untuk merekatkan ukhwah Islamiyah.

Kitab Barzanji ditulis oleh Syeikh Ja’far al-Barjanzi bin Husin bin Abdul Karim. Lahir tahun 1960 M, dan meninggal pada tahun 1766 M di Madinah. Nama Barzanji sendiri dinisbatkan pada nama daerah Barzinj yang sekarang masuk ke dalam wilayah Kurdistan.

Selain akrab dengan Barzanji, umat Islam Indonesia juga mengenal kitab diba’I yang isinya hampir sama dengan Barzanji, yakni berisi pujian-pujian kepada Rasulullah Muhammad SAW, kisah perjalanan, keturunan dan sifat-sifat mulianya.

Kitab ini dikarang oleh Syeikh Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zabidi al-Syafi’I. Ia dikenal dengan nama ad-Diba’i. Lahir di Yaman pada bulan Muharram tahun 866 H dan wafat hari Jum’at tanggal 12 Rajab 944 H.

Di tengah bacaan Diba’ terdapat kisah penyambutan rombongan para sahabat Muhajirin yang tengah memasuki kota Madinah. Para peserta Diba’an biasanya turut berdiri dan membanyangkan turut serta menyambut kedatangan Rasulullah, disaat membaca kalimat Mahallul Qiyam. Acara seperti itu umum dinamakan Srakal atau srakalan.

(Disarikan dari : Antologi NU, Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah oleh   H. Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, S.Sos)

.

About Pondok Pesantren Al -Hikmah 2

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.