Santri Menulis

Ngisai Tradisi Mendulang Emas

Oleh : Ibrahim

Ngisai merupakan istilah bahasa melayu untuk para pencari emas tradisional, biasanya tradisi ini berlangsung mulai bulan April sampai Agustus, ngisai merupakan mata pencaharian sampingan masyarakat Melayu dan Dayak yang ada disekitar dekat aliran anak sungai Sekayam.

Sungai ini mengalir ke sungai kapuas, apabila musim kemarau telah tiba maka kita akan dapat melihat sebagian masyarakat disana akan berbondong-bondong untuk mencari emas dengan dulang alat untuk mencari emas yang terbuat dari drum yang dibentuk seperti kuali.

Sebelum ada drum, dulang dibuat dengan menggunakan kayu tertentu yang kuat terhadap air, biasanya proses pembuatan dulang butuh waktu yang lama, mencari emas biasanya dilakukan berkelompok dengan mengeruk tanah yang di kedalaman air sekitar satu sampai tiga meter dari permukaan air.

Ngisai telah berlansung turun temurun yang dilakukan masyarakat sana, maka kita jangan heran bila anak kecil yang ada di Kalimatan sungguh sangat pintar berenang dan ahli dalam menyelam. Karena mereka telah dididik untuk melakukannya sejak dini.

Ngisai juga merupakan wadah untuk silahturahmi antara masyarakat disana. karena ditempat itu berkumpul masyarakat dari berbagai desa.

Tapi sekarang tradisi ngisai sudah mulai ditinggalkan masyarakat, karena terkena imbas penggunaan mesin dompeng sejenis alat mesin semi modern, yang memudahkan dalam pencarian emas.

Disisi lain mesin dompeng menimbulkan dampak kerusakan terhadap lingkungan sangat terlihat sekali dengan pendakalan kali, ambruk tebing sungai, dan pencemaran air akibat limbah yang dihasilkan oleh mesin dompeng itu sendiri, dampak yang sangat terlihat adalah tiap tahun pasti bila terjadi musim hujan banjir melanda sepanjang pantai daerah anak sungai kapuas.

Sampai sekarang belum ada cara untuk mencegah atau menghentikan penambangan liar yang ada disana, kalau ada operasi penertiban yang dilakukan paling penambang liar itu hanya menghetikan penambangan dalam waktu beberapa hari tapi selah itu mereka beroperasi lagi, atau mereka membayar denda kepada aparat yang melakukan rahazia, hal ini telah terjadi disana. kalau tidak ada yang mau peduli siapa lagi apakah kita semua tega semua biota yang ada didalam sungai hilang tanpa bekas dan nanti nya hanya ada dongeng yang didengar oleh generasi masa depan? saat nya bagi semua lapisan masyarakat yang ada disana harus peduli dengan lingkungan kalau tidak semua yang ada sekarang hanya tinggal cerita.

* Alumni Ma’had Aly Al-Hikmah 2008, tinggal di Kalimantan Barat

Sumber  : br4m.blogdetik.com

Pondok Pesantren Al -Hikmah 2

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button