Home / Agenda / Ngaji Bareng Syeikh

Ngaji Bareng Syeikh

 

Pagi menjelang siang, hari ke duapuluh tujuh di bulan Januari 2018 ini menjadi sangat menyenangkan sekaligus mengagumkan. Betapa tidak, di ndalem baru pada hari itu diadakan pengajian yang diikuti oleh para guru dan karyawan di bawah lingkungan yayasan pondok pesantren Al-Hikmah 2.  Hadir pada pengajian tersebut adalah KH. Solahudin Masruri, KH. Mukhlas Hasyim, M.A,  (keduanya adalah pengasuh pesantren al-Hikmah 2), dan hadir juga KH. Aminudin Masyhudi  yang merupakan pengasuh pesantren Darunnajat Tegalmunding Pruwatan. Tidak hanya beliau bertiga saja yang hadir pada acara pengajian hari itu. Yang menjadikan pengajian siang itu lebih bermakna adalah kehadiran dua orang syeikh sekaligus. Yakni As-Syeikh Amin Muhamad Ali Ad-Duhaiby al-Jailani al-Lubnany dan As-Syeikh Dr. Mahir Hassan Al-Muanjjid As-Syami.

Acara yang berlangsung khidmah tersebut dipandu langsung oleh KH. Mukhlas Hasyim sekaligus sebagai penerjemah kedua syeikh. Untuk pengajian pertama disampaikan oleh Syeikh Amin al-Jailani yang juga merupakan  keturunan dari syiekh Abdul Qodil al Jailani.

Banyak sekali untaian mutiara hikmah yang terlontar dari tausyiyah beliau siang itu.  Yang pertama, syeikh membacakan tentang surat al-‘Alaq yang berisi anjuran untuk membaca dan pentingnya menuntut ilmu. Beliau menyampaikan bahwa bagi para penuntut ilmu, ilmu akan mudah lepas (lupa atau hilang dari ingatan). Karenanya beliau menyampaikan  agar bagi para pencari ilmu untuk rajin menjaga ilmu dengan mengikatnya menggunakan pena (ditulis).

Kedua,  Syeikh Amin Al-Jailani mengingatkan bahwa setiap penuntut ilmu itu tidak boleh sombong dan merasa hebat. Karena bagi orang yang sudah berilmu itu pasti ada orang yang lebih berilmu lagi diatasnya. Seperti dicontohkan di dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang kisah Nabi Musa as dengan Nabi Khidir as. Yang dalam perjalanan bersama Nabi Khidir, Nabi Musa as menemukan banyak kejanggalan dan keanehan yang dilakukan oleh nabi Khidir. Hal-hal yang dilakukan nabi Khidir as diluar  logika nabi Musa as, seperti melubangi perahu, membangun kembali tembok hingga membunuh seorang anak kecil juga nabi Khidir lakukan.

Hal-hal tersebut menjadi pertanyaan besar di dalam benak nabi Musa as. Hingga nabi Khidir as menjelaskan bahwa semua yang ia lakukan bukan semata-mata kehendak dirinya tetapi atas kehendak Allah SWT. Dan  diujung perjalanan menjelang perpisahannya dengan nabi Khidir, beliau berdua diperlihatkan oleh Allah seekor burung yang sedang minum air laut. Dengan melihat burung yang sedang meminum air laut tersebut, nabi Khidir as menjelaskan kepada nabi Musa as bahwa perbandingan ilmu manusia dengan ilmunya Allah adalah seperti air yang menempel diparuh burung dengan air yang ada di lautan. Dan itu hanya perumpamaan saja. Padahal sejatinya ilmu Allah jauh lebih luas lagi.

Ketiga, Syeikh Amin al Jailani sangat menganjurkan kepada para guru yang hadir di acara pengajian tersebut supaya setiap hari selalu menambah ilmu. Selain menambah ilmu, sang syeikh juga mengingatkan agar seorang guru mempunyai hikmah/ kebijaksanaan dalam berinteraksi dengan santri. Dalam menjelaskan tentang pentingnya hikmah dalam berinteraksi dengan para santri, Syeikh Amin al Jailani mencontohkan peran seorang dokter saat mengobati pasiennya. Sang dokter tidak dibenarkan memberikan obat yang sama kepada setiap pasien yang datang kepadanya, meskipun berpenyakit sama. Syeikh menjelaskan bahwa dalam memberikan obat, dokter harus melihat pasiennya secara satu persatu dan tidak disamaratakan. Demikian juga dengan seorang guru harus bisa mendidik muridnya sesuai dengan karakter masing-masing murid.

Pengajian kedua disampaikan oleh As-Syeikh Dr. Mahir Hassan Al-Muanjjid As-Syami, beliau adalah dosen STAI Imam Syafi’i Cianjur asal Syiria. Dalam penjelasannya beliau menyampaikan banyak sekali ilmu dan hikmah kepada para guru yang hadir pada siang itu.  Beberapa catatan yang berhasil diringkas dari tausyiyah beliau adalah bahwa pertama,  kita semua hendaknya senantiasa menghormati ahlul bait. Karena dimanapun ahlul bait itu berada, menjadikan tempat tersebut menjadi mulia. Beliau menyampaikan hal ini dalam kerangka menghormati Syeikh Amin al Jailani sebagai ahlu bait. Menurut beliau, warga Syiria sangat menghormati ahlul bait.

Penghormatan Syeikh Mahir kepada keberadaan ahlul bait sangat beralasan karena semua ilmu berasal dari ahlul bait yang turun temurun. Karenanya, dalam kesempatan ini syeikh Mahir menyempatkan memanjatkan doa teruntuk Syeikh Amin al Jailani agar senantiasa di ridhoi oleh Allah SWT.

Pesan-pesan yang disampaikan syeikh Mahir berlanjut dengan pesan kepada para guru tentang kewajibannya menjaga amanah dari Rasul SAW.  Menurut sang syeikh, umat adalah amanah yang kewajiban menjaganya berpindah kepada kita semua sebagai guru. Beliau memperjelas penjelasannya dengan bukti bahwa berapa banyak ahlul bait yang berasal dari Yaman, dengan jarak yang teramat jauh namun bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk menjaga amanah dari Rasul SAW.  Amanah tersebut adalah agar umat mendapat hidayah berupa Islam. Bagi Syeikh Mahir, seorang murid adalah emas yang tak ternilai harganya. Karenanya kita semua harus senantiasa berusaha keras untuk menghindarkan murid dan anak-anak kita  dari pengaruh buruk akibat fitnah akhir zaman. Terutama pemikiran-pemikiran yang menyesatkan yang marak akhir-akhir ini.

Masih terkait dengan kewajiban menjaga amanah dari Rasul SAW, syeikh juga mengingatkan kepada para hadirin untuk selalu mengorientasikan hidupnya agar bisa mengajar dengan baik. Menurut Syeikh Mahir, mengajar yang baik adalah mengajar yang bisa menjaga dan menghindarkan murid-muridnya dari bermacam godaan dan selamat dari fitnah akhir zaman sehingga menjadi anak-anak yang soleh solehah.

Bahkan beliau memberi contoh cara untuk bisa menjadi pendidik yang baik. Salah satu caranya adalah dengan selalu membaca surat al-Isro’ayat 80 setiap kali masuk ke dalam kelas. Bunyi ayat tersebut adalah :

Yang artinya: “dan katakanlah (Muhammad), Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar da keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku)”.

Setelah membacakan ayat tersebut saat masuk kelas, langkah selanjutnya adalah dengan menanyakan kabar dan kondisi murid-murid yang sedang diajarnya. Tujuan dari menanyakan kondisi sang murid adalah barangkali ada murid yang sedang mengadapi masalah atau persoalan. Langkah ini akan sangat berkesan kepada hati dan jiwa murid-murid sepanjang hidupnya. Hal ini sangat beralasan karena secara psikologis, setiap anak sangat senang jika diberi perhatian lebih dari gurunya.  Dan yang terpenting dari semua langkah yang bisa dilakukan oleh pendidik adalah dengan menaruh kasih sayang kepada setiap muridnya. Karena dengan kasih sayang yang diberikan kepada murid-murid berarti telah menjadi pewaris Rasul SAW.

Dalam sesi tanya jawab, terlontar permasalahan yang terkait dengan maraknya gerakan ISIS di Syiria. Secara bergantian kedua Syeikh menjawab dengan kesimpulan yang sama bahwa, karena isu ISIS belum jelas kebenarannya, maka kita semua hendaknya mengikuti sabda Rasul.Menurut Syeikh Amin, Rasul pernah menjelaskan bahwa  jika datang fitnah akhir zaman maka yang hendaknya kita lakukan adalahpertama urus diri sendiri, kemudian menjaga lidah (ucapan) artinya hanya berkata yang baik-baik saja dan senantiasa menyampaikan kebenaran. Dan langkah yang terakhir adalah segera bertaubat/ menyesalkan perbuatan dosa yang dilakukan.

About Santri Alhikmahdua