Home / Muasis / Al-Maghfurlah KH. Mochammad Masruri Abdul Mughni

Al-Maghfurlah KH. Mochammad Masruri Abdul Mughni

Dilahirkan di desa Benda, 23 Juli 1943, Abah Yai Masruri adalah alumnus Pondok Pesantren Tasik Agung Rembang asuhan KH. Sayuthi dan KH. Bisri dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Selain nyantri di kedua pesantren tersebut, Abah juga aktif bertabarukan di berbagai pesantren tanah air, satu diantaranya adalah di Pondok Pesantren hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng Jombang Timur.

Abah yang memiliki nama lengkap Mochammad Masruri Abdul Mughni adalah putra pertama dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Mughni dan Hj. Maryam. Dari garis nasab, Abah adalah cucu dari KH. Cholil bin Mahalli, salah seorang muassis (pendiri) Pondok Pesantren Al Hikmah.

Sejak kecil, Abah sudah mendapatkan tarbiyyah langsung dari kedua orang tuanya juga kakeknya sendiri KH. Kholil bin Mahalli dan juga KH. Suhaemi bin Abdul Ghoni (putra kakak KH. Cholil)

Sejak muda, Abah dikenal telah memiliki jiwa kepemimpinan dan selalu dituakan oleh orang- orang disekitarnya. Di pesantrennya Tambak Beras dalam usia yang relatif muda, beliau telah didaulat oleh para masyakikh untuk menjadi qori’ ( membacakan kitab untuk santri).

Dalam kesehariannya, Abah adalah seorang murabbi (pendidik) yang alim, murah senyum, pembawaanya luwes, memiliki tanggung jawab tinggi, dekat dengan semua orang dan penuh dengan keteladanan. Bagi Abah Yai, transformasi ilmu tak hanya sebatas teoritikal belaka, tapi setiap ilmu mesti diajarkan lewat keteladanan nyata.Para santri saban hari menjadi saksi, bagaimana keteladanan sosok Abah dalam setiap sendi kehidupan Beliau. Abah selalu berupaya memberikan teladan pertama dalam setiap hal, besar ataupun kecil.

Abah adalah seorang yang tak pernah lelah berjuang untuk umat. Setiap detak waktu, Beliau gunakan untuk berjuang di jalan Allah. Di tengah padatnya jadwal, sebagai Rais Syuriah NU Jawa Tengah, pengurus Majelis Ulama Indonesia, Ketua MUI Brebes, dan ketua dewan pengawas Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT), Abah selalu mengedepankan keistiqomahan dalam mendidik para santrinya.

Setiap hari hingga menjelang tengah malam beragam berbagai fan kitab Beliau ajarkanmulai dari tafsir, fiqh, akhlak, ilmu Al Qur’an, faraid, hingga tasawwuf. Dalam setiap pengajiannya, tak pernah terbersit kesan capek dan lelah dari seorang Abah. Meski baru sepulang dari bepergian sekalipun, Abah selalu terlihat bersemangat dalam membawakan kitab yang diajarkannya.

Abah seakan ingin memberikan teladan langsung bagi para santrinya tentang arti dan makna hidup yang seberanya. Seperti yang sering Beliau utarakan di depan ribuan para santrinya ” Innal Hayata ’Aqidatun Wajihadun”. Makna hidup adalah aqidah dan perjuangan. Aqidah Islam yang benar dan mesti diperjuangkan sepanjang hayat dengan mengisi kehidupan untuk mencari ridha Allah Subhanu Wata’ala semata.

Dalam tataran sosial kemasyarakatan, Abah adalah seorang yang memiliki pembawaan luwes, hangat, dan mampu dekat dengan semua orang. Setiap tamu yang datang di ndalem, jika Abah tidak sedang bepergian pasti ditemui. Beliau sambut dengan ramah dan penuh kehangatan pukul berapapun juga. Abah selalu berusaha nglegakke tamunya. Abah pun tak segan untuk mengajak setiap tamuanya bersantap bersama di meja makan beliau, jika si tamu kebetulan datang di waktu santap.

Sebagai ayah bagi keluarga dan ribuan santrinya, kasih sayang Abah terhadap santri- santrinya tak pernah surut. Setiap santrinya, baik yang masih berada di Pesantren ataupun telah muqim seakan bisa selalu dekat dan merasakan kasih sayang Abah. Pada beberapa kesempatan lawatannya ke berbagai kota, dalam dan luar negri, Abah selalu menyediakan waktu untuk menjenguk para santrinya. Setahun sekali setiap tanggal 5 Syawal ribuan santrinya dapat berdialog langsung dengan Beliau di pertemuan alumni. Dalam acara itu, Abah dengan senang hati menerima “curhat” keluh kesah para santrinya yang telah berjuang di masyarakat.

Pun demikian, sejatinya kasih sayang Abah pada santrinya tak terbatas oleh ruang dan waktu. Jauh dari itu, Abah selalu menekankan setiap santrinya untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah didapatkannya, agar menjadi pribadi yang shaleh dan selamat dunia akhirat. Seperti salah satu ndawuh Abah bagi setiap santrinya untuk menghafal dan mendawamkan pembacaan surat Al–Mulk (Tabarak). Sebagaimana keterangan dalam sebuah bahwa hadist bahwa siapa saja yang melanggengkan membaca surat ini, maka Al Mulk akan menjadi pembelanya dari azab kubur, menjadi syafa’at sehingga diampuni dosanya oleh Allah, dan dikeluarkan Allah SWT dari neraka sehingga dimasukkan kedalam surga. Dalam satu kesempatan di hadapan santrinya, Abah Yai pernah berkata bahwa surat menghafal surat Al Mulk adalah utang setiap santri pada Abah. Utang yang jika tidak dibayarkan (dengan menghafal) akan terus dipertanyakan oleh Abah bahkan hingga di akhirat nanti.

Penggagas Beasiswa Falak

Terhadap perkembangan keislaman nusantara, Abah Yai pun secara khusus menaruh perhatiannya. Melihat minimnya generasi muda Islam yang di bidang falak, tahun 2005 bertempat di Pondok Pesantren Al Hikmah, Abah Yai mengadakan pelatihan falak khusus untuk beberapa pesantren dan kepala kantor urusan agama (KUA). Pelatihan ini diadakan atas dasar keprihatinan Abah terhadap minimnya pengetahuan dan ketersediaan ahli falak di masyarakat Islam. Karena dianggap sukses dalam pelatihan itu, akhirnya Abah mencoba mengadakan pelatihan Falak kembali dengan sasaran pesantren dan Kiai se Jawa Tengah.

Pada waktu itu keinginnannya untuk memadukan antara ahli falak Indonesia dengan beberapa ahli falak dari luar, mulai menampakkan hasil. Dalam acara acara pelatihan ini hadir pula tokoh Kemenag, diantaranya Amin Haedari yang saat itu menjabat sebagai direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren ( PD Pontren), Kakanwil Depag Jawa Tengah Habib Toha, Kepala Badan Hisab Rukyat Jawa Tengah Slamet Hambali, serta ahli Falak IAIN Walisongo Ahmad Izzuddin, dan masih beberapa tokoh lain.

Dari sinilah, kemudian beberapa tokoh ini akhirnya mengusulkan kepada Amin Haedari untuk membuka program beasiswa khusus ilmu Falak yang saat ini dikonsentrasikan di IAIN Walisongo Semarang.

Berpulang Ke Rahmatullah

Innaalillahi wainnaailahi roji’un. Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Berangkat bersama keluarga dan rombongan terbang (Kloter) 49 Embarkasi SOC (Solo) bersama 400-an jamaah lainnya untuk menunaikan ibadah haji, Abah Yai Mochammad Masruri Abdul Mughni dipanggil Allah SWT untuk berpulang kepada-Nya.

Setelah melaksanakan shalat Arba’in di Masjid Nabawi, kamis malam (17/11 ) Abah Yai merasakan kecapaian. Petugas pun kemudian membawa Abah ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Madinah. Karena kondisinya terus menurun, akhirnya petugas melarikan ke Rumah Sakit Al-Anshor . Sabtu pagi, Kondisi Abah sempat membaik, bahkan selang ventilator yang terpasang dilepas oleh tim dokter.

Namun, Sabtu malam pukul 23.00 WSA (Waktu Saudi Arabia) kondisi Abah kembali menurun.. Di rumah sakit tersebutlah, di tanah suci Madinah Al Munawwarah, Romo KH. Moch Masruri Abdul Mughni dipanggil ke haribaan Allah Subhanuwata’ala Ahad pagi (20/11) pukul 00.15 Waktu Arab Saudi (WAS) atau pukul 04.15 WIB. Abah meninggal dalam usia 68 tahun.

Setelah dishalati di Masjid Nabawi selepas shalat shubuh, atas permintaan Abah sendiri jenazah Beliau disemayamkan di komplek pemakaman Baqi’ di dekat masjid Nabawi bersama istri, para sahabat Rasulullah dan para masyayikh.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *