Santri Menulis

Muara Santri, Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Oleh : Muadz Ramadhani

Santri, sebagai potret atau gambaran kehidupan beragama Islam yang sesungguhnya. Sudah seharusnya mampu memberikan teladan kepada masyarakat umum tentang nilai-nilai, norma-norma atau akhlak mulia dalam bermasyarakat. Sehingga bisa menjadi sebuah panutan bagi masyarakat pada umumnya. Dan santri sebagai generasi penerus bangsa, sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik, yang bukan hanya berperan sebagai pengganti para ulama yang bergerak dalam bidang keagamaan saja, tapi diharapkan santripun mampu menembus semua sektor-sektor vital yang akhir-akhir ini didominasi oleh orang-orang non muslim.

Seorang ulama mengatakan, bahwa santri terdiri dari empat huruf, yaitu sin, nun, ta dan ro. Pertama, Sin dari lafadz satirul ‘uyub yang berarti penutup aib, baik aib diri, keluarga dan orang lain. Kedua, nun dari lafadz naibul ulama yang berarti pengganti para ulama. Ketiga, ta dari lafadz taibu ‘anidzunub yang berarti orang yang bertaubat dari dosa-dosa. Ke empat ra’ dari lafadz roghibu filkhoiri yang berarti orang yang senang dalam melakukan kebaikan. Jika dilihat dari definisi santri yang berarti adalah orang yang mampu menjaga lisannya dari berbuat kemungkaran termasuk mengejek dan mengolok-olok orang lain. Santri adalah seorang adalah pengganti para ulama yang kelak bisa dijadikan teladan untuk masyarakat banyak. Seorang santri adalah orang yang bertaubat dari dosa yang berasal dari kegelapan dan kebodohan menuju kegemilangan dan kemuliaan dengan “taubatan nasuha”. Dan seorang santri adalah orang yang senang dalam melakukan kebaikan yang pada akhirnya semua ini akan bermuara pada “amar ma’ruf nahi munkar”.

Namun, pada era modernisasi ini kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang telah memungkinkan adanya akses informasi secara mudah dan cepat memudahkan masuknya budaya-budaya barat yang negatif masuk dan mempengaruhi tradisi Bumi Pertiwi Indonesia bahkan ke Pesantren. Sehingga, sedikit banyaknya dunia santri yang kental dengan tradisi kepesantrenan (salafi) mulai terjangkit virus-virus yang datang dari luar. Kharirnya budaya-budaya Barat ke dunia Pesantren telah menyebabkan terjadinya Partikularisme budaya atau pencampuradukan budaya yang mau tidak mau telah menggeser satu sama lian atau bahkan saling meniadakan.

Adanya anggapan bahwa budaya-budaya Barat itu lebih nge-tren atau lebih keren, telah menjadi pemicu utama pudarnya tradisi pesantren dalam dunia santri. Santri menjadi lebih mengedepankan tren-tyeren zaman sekarang (yang terkadang terkesan menyimpang dari ajaran agama, seperti pakaian yang kurang sesuai syariat agama, ketat sedikit terbukanya uarat, dan sebagaianya) dan menganggap pakaian yang syar’i itu kuno atau ketinggalan zaman. Bukan hanya itu masih banyak tradisi-tradisi santri yang sudah mulai ditinggalkan, pada hal memanggil nama orang misalnya, sikap ketika bertemu dengan sesama bahkan dengan guru atau ustadz.

1. Panggilan nama kepada sesama santri

Terkadang, sudah lazim bagi kita untuk memanggil teman teman atau saudara-saudara kita dengan julukan-julukan tertentu, yang tidak mengenakkan atau bahkan mungkin menyakitkan hati (dengan maksud mengejek atau hanya sekedar bergurau saja), seperti memanggil seseorang karena kecacadannya. (misalnya hai pendek atau hai gendut) atau mungkin dengan sebutan nama-nama binatang yang tidak selayaknya diucapkan oleh seorang manusia yang telah dianugerahkan oleh Allah swt. Akal dan fikiran padanya.

Sekalipun tujuan kita untuk berguarau tapi perlu diingat, sungguh Islam telah benar-benar memerintahkan kita untuk memelihara lisan kita dari berguarau dan mengejek orang, baik sungguhan atau hanya bergurau saja, sebab itu dapat menyebabkan tidak punya rasa malu, menurunkan kewibawaan, meyebabakan liar dan menyakitkan hati. Bergurau dan menertawakan serta mengejek orang lain itu merupakan permulaan pertengkaran, kemarahan dan meyebabkan putus hubungan serta menanamkan endam dalam hati. Rosulullah saw. Bersabda:

ان الرجل ليتكلم بالكلمت ليضحك بها اصحابه، فيهوى بها فى قعرجهنم سبعين خريفا

Artinya: “sesungguhnya seseorang itu kadang-kadang berkata dengan suatu perkataan agar orang lain tertawa. Dia tidak menyadari, bahwa ucapan yang demikian itu menyebabkannya masuk neraka selama tujuh puluh tahun”

Karena seringnya kita bernuat hal-hal seperti yang disebutkan di atas, sehingga seolah-olah itu menjadi budaya atau tradisi yang melekat di masyarakat dan ironisnya, fenomena seperti ini sudah membudaya di kalangan santri. Padahal, itu bukan budaya-budayaorang Islam. Islam sendiri mengajarkan kita untuk memanggil sesama dengan panggilan yang pailng baik dan menyenangkan.

Dalam sebuah hadits disebutkan juga bahwa Rosulullah saw. ditanya oleh salah seorang sahabat tentang sesuatu yang paling banyak menyebabkan masuk surga. Rosul menjawab. Yaitu takwa dan akhlak yang baik. Kemudian beliau ditanya lagi tentang sesuatu yang paling banyak menyebabkan masuk neraka, Rosul menjawab yaitu dua lubang, mulut dan farji.

2. Adab bertemu guru atau sesama

Umat Islam terkenal dengan keramahan, kasih sayang dan sopan santunnya. Sehingga setiap betemu dengan sesamanya kita dianjurkan untuk mengucapkan salam (baca: Assalamu’alaikum), kita disunnahkan untuk mengucapkan dan diwajibkan untuk menjawabnya, dan satu kali salam itu dihitung sebagai satu kebaikan. Bahkan, hanya senyum adalah ibadah.

Namun, ironisnya lagi banyak sekali terjadi di tengah-tengah kita. Terkadang kita hanya menyapa atau memberikan salam kepada orang yang kita kenal, sedangkan selebihnya terkadang kita bersikap acuh tak acuh.

Oleh karena itu, matilah kita bersama-sama merubah kembali tradisi-tradisi budaya jelek kita ini, ke dalam budaya Islam yang murni. Sehingga budaya jelek ini tidaklah menjadi suatu kebiasaan yang akhirnya menjadi sebuah watak bagi kita. Dan mudah-mudahan, kita semua tergolong orang-orang yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

* Alumni SMA Al-Hikmah 2010

.

Pondok Pesantren Al -Hikmah 2

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button