Home / Serambi Pesantren / Mengaca Pada Kehidupan Sosial Budaya Hadhramaut

Mengaca Pada Kehidupan Sosial Budaya Hadhramaut

images (3)
Oleh : Lutfi Ahsanudin
A.    Pendahuluan
Islam yang notebenya merupakan agama penyempurna bagi agama-agama sebelumnya telah banyak memainkan perannya di muka bumi ini dalam konteks History of Religion-nya, sehingga lebih dari dua pertiga daratan bumi ditemukan masyarakat yang memeluk agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Bukan dengan cara ikrohan dan unwatan, akan tetapi dengan cara luthfan dan rahmatan dalam penyebarannya untuk mengajak bahwa tidak ada tuhan yang pantas disembah kecuali Allah Swt. Sebelum nabi Muhammad pun syi’ar pengesaan Allah Swt. lewat para utusan-Nya telah menggema di muka bumi ini, tak terkecuali bumi Hadhramaut yang merupakan daerah selatan Jazirah Arab.
Menurut data historis, Hadhramaut merupakan daerah di mana nabi Hud AS diutus untuk kaum Ad’ yang terkenal akan keperkasaanya. Al-Qur’an menyebutkan Hadhramaut sebanyak 17 kali dengan nama al-Ahqof yang berarti bukit-bukit pasir atau lembah pasir. Kaum Ad’ dianggap sebagai populasi manusia pertama di muka bumi yang menempati Hadramuat. Beribu-ribu sejarah telah terukir di tanah ini sejak Hadhrmaut kuno yaitu pada masa nabi Hud AS sampai masa hijrahnya keturunan Rasulullah Ahmad bin Isa yang bergelar al-Muhajir Illahhdari Iraq karena fitnah ajaran Syi’ah yang berkembang pesat disana. Dari beliaulah Hadhramaut yang tadinya berkembang pesat aliran Ibadhiyyah, Syi’ah dan Khawarij menjadi aliran Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dari situlah kehidupan sosial budaya Islam Ahlussunnah di Hadharamaut sangat ketara berkat tangan handal para wali Allah dan ulama di bumi tersbut. Dan sampai sekarang Hadhramaut di kenal dengan wilayah yang mayoritas di huni oleh para habaib atau para keturunan rasulullah SAW.
B.     Sejarah Singkat Hadhramaut Pra Islam dan Pasca Islam
Pra Islam, Hadhramuat merupakan wilayah kerajaan yang sangat di takuti oleh bangsa lain. Sejak wafatnya nabi Hud AS, Hahdhramut di bawah kerajaan Qahthan yang masyaraktanya menyembah berhala yang berkuasa sekitar 10-18 abad SM. Dari dinasti inilah semua keturunan bangsa Arab dan suku Arab di muka bumi ini berasal. Dinasti ini berasal dari nama seorang keturunan nabi Nuh AS yang bernama lengkap Qahthan bin ‘Abir bin Syalekh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Salah satu anak keturunannya berjuluk Hadhramaut karena setiap hadir perang dari pihak musuh banyak korban berjatuhan. Maka tanah itu dinamakan Hahdramaut. Dan masih banyak lagi pendapat ulama sejarah tentang asal muasal nama Hadhramaut. Selain Hadhramaut masih banyka lagi keturunan-keturunan Qahthan, diantarnya Ya’rib bin Qahthan, saudara tua Hadhramaut sang penguasa agung negeri Saba’ (sekarang Ma’rib). Kekuasaan dinasti Qahtan terus berlanjut di Hadharamut selama berabad-abad sampai akhirnya dikuasai dinasti Ma’in yang juga masih keturuna dari dinasti Qahthan.
Dinasti selanjutnya yang berkuasa didaerah Yaman adalah dinasti Ma’in yang berkuasa dari 1500-850 tahun SM. Kemudian dinasti Saba’-yang sangat terkenal dengan bendungannya untuk irigasi pertanian negerinya-sebagimana yang dituturkan dalam Al- Qur’an ketika kaum Saba’ di munaskan karena kufur akan nikamat Allah Swt. Dinasti ini berkuasa sejak 850-115 tahun sebelum Islam. Dinasti Himyar kemudian mengambil alih kekuasan wilayah ini mulai dari tahun 165 SM-525 M yang mana dinasti ini terkanal akan kafasihan dalam bahasa Arabfushahnya.
Himyar salah satu daerah di negeri Saba’. Sebagian orang malah menyebutnya Saba’, bukan Himyar. Dinasti Himyar berdiri setelah Dinasti Saba’ sekitar 165 SM hingga 525 M. Ibu kotanya Dzafar. Orang-orang Habasyah (Afrika) pernah menyerang dan meruntuhkan Dinasti Himyar. Namun kemudian mereka diusir dan kekuasaan direbut kembali oleh keturunan Himyar. Pahlawan Arab yang populer saat itu adalah Saif bin Dzi Yazin al-Himyari yang disokong Persia (Iran dan sekitarnya). Persia menguasai pemerintahan di Yaman, Hadhramaut, Iraq, dan Bahrain sampai era kedatangan Islam. Raja-raja yang paling terkenal sebagai penguasa Hadhramaut kala itu adalah Syamar Yar’asy (dijuluki dengan nama Raja Saba’ dan Raja Dzi Raidan), raja Hadhramaut, dan Syarahbil bin Ya’fubin Abi Karib As’ad yang menguasai Dinasti Dzi Raidan Hadhramaut dan Yamanat (Yaman). Dialah raja yang membangun bendungan Ma’rib pada pertengahan abad kelima masehi.
Setelah runtuhnaya dinasti Himyar, Yaman di bawah dua kerajaan yang berkuasa; dinasti Hadhramaut dan dinati Kindah. Dari dua dinasti ini, terlahir raja-raja bak jamur tumbuh subur dari tahta ketahta sampai datangnya Islam. Ketika Islam datang, Hadhramaut masih tetap dikuasai oleh raja-raja dari kedua dinasti tersebut. Diantara raja yang paling terkenal adalah Jamada, Masyraha, Makhusha dan Ratu ‘Amrada. Dan pada dinasti Kindah inilah Islam mulai muncul di daerah Hadhramaut dan sekitarnya setelah masyarkat dinasti Kindah mendengar telah datang utusan dari Allah yang akhirnya mereka memutuskan untuk berpergian menuju Madinah sekitar tahun 10 H menempuh beratus-ratus kilo yang di pimpin oleh Asy’ast bin Qois Al-Kindy  yang menikah dengan saudari Abu Bakar RA yang bernama Ummu Farwa binti Abu Quhafa. Nabi juga meminang saudari Asy’ast yang bernama Qatilah binti Qois akan tetapi Asy’ast meninggal dunia sebelum Qatilah datang ke Madinah.
Mulailah terjalin hubungan persaudaraan Islam antara Madinah dan Yaman khussunya Hadhramaut sehingga Rasulullah mengutus para sahabat ke Yaman dan sekitarnya untuk mengajarkan dan menyebarkan Islam secara universal dengan tujuan agar visi dan misi agama Islam bisa terealisasikan. Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari adalah tokoh pertama dalam penyebaran Islam di kawasan Arab selatan yang diutus oleh nabi. Dari riawayat Ubaid bin Shokr, Ibn Hajar mengatakan bahwa Muadz ketika diutus nabi, dia tiba di daerah as-Sukun dan Abu Musa al-Asy’ari tiba di daerah as-Sakaasik sampai kedunya bertemu dan akhirnya mereka tiba di Hadhramaut (untuk menyebarkan Islam). Selain mereka berdua, nabi juga mengutus sahabat Ziyad bin Lubaid al-Anshariy al-Khazrajiy RA ke Hadhramaut langsung. Dia mengahabiskan waktunya di daerah Tarim dan Syibam sejak akhir masa nabi sampai khalifah Umar bin Khattab.
Sampai akhirnya Islam bertahun tahun berada di Hadhramaut dengan pasang surut problematika mulai dari kasus murtadnya sebagian orang-orang Islam pada masa Abu Bakar, sampai munculnya fitnah yang meyebabkan aliran Ibadhiyyah dan Syi’ah serta Khawarij masuk di wilayah tersebut.
Di mulai setelah hijrahnya Ahmad bin Isa al-Muhajir ke Yaman dan bertempat di daerah Dau’an (Provinsi Hadhramaut sekrang) pada tahu 317 H setelah meniggalkan Makkah dan Madinah yang sebleumnya disinggahi kemudian menlanjutkan perjalannya karena ada fitnahGharamithah, mulalilah ajaran Islam Ahlussunah yang dibawanya merebak luas dan menggeser posisi Syi’ah dan Khawarij serta Ibadhiyyah di sana, walaupun masih ditemukan kaum minoritas yang memeluk aliran tersebut. Sampai akhirnya banyak dari keturunan Ahmad bin Isa yang menjadi ulama dan wali serta dai-dai di kawasan tersebut bahkan penyebar Islam ke Nusantara, Asia Timur dan Tenggara.
Dari situlah mulai kelembutan dan kearifan Islam tumbuh di kawasan Hadhramaut sampai sekarang, walaupun setelah Islam masuk Hadharamaut masih dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam. Dan berpuluh-puluh juta keturunan Ahmad bin Isa yang di kenal dengan sebutan habaib mejadi tonggak utama berkembanganya corak sosial budaya Islam yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah. Dengan kelembutan dan keramahannya menjadikan masayarkat Yaman dan Hadhramaut khususya menjadi lebih ramah, santun, sopan dan sangat menghormati. Hal ini sudah di buktikan oleh nabi jauh-jauh sebelum Islam menyeluruh di kawasan tersebut dengan sabdnya :“Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah pada penduduk Yaman, dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” (HR  Bukhari).
C.    Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Hadharmaut
Secara sosial masyarakat Hadhramaut merupakan masyarakt Islam yang masih sangat memegang teguh syari’at agama dan memegang teguh apa-apa yang di lakukan para ulama Hadhramaut sejak dulu. Itu terbukti dengan banyaknya ritual-ritual keagamaan yag mereka lakukan yang kemungkinan tidak akan ada di negara Islam lainnya di dunia ini. Acara agama tersebut merupakan hasil dari ijtihad ulama dulu yang dilestarikan dengan jalan mengadakan perayaan setiap tahun. Sebut saja seperti shalat qodlo shalat maktubah berjumlah 17 raka’at yang dilaksanakan pada hari Jum’at akhir setiap bulan Ramadhan di ‘Inat (daerah di provinsi Hadhramaut). Shalat tersebut dijalankan oleh mayoritas masyarkat Hadhramaut yang merupakan hasil dari ijtihad Habib Syeikh Abu Bakar bin Salim dengan tujuan agar berjaga-jaga manakala sewaktu-waktu ada shalat lima waktu yang lupa tidak didirikan semenjak satu tahun sebelumnya. Bukan untuk sengaja meninggalkan shalat dalam masa satu tahun tersebut dan kemudian di qadlo pada hari itu. Berbeda dengan halnya jika ada seseorang ingat bahwa ada shalat wajib yang belum ia didirikan, maka wajib hukumnya untuk mengqadlanya. Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan sosial keagamaan di Hadhramaut.
Dalam segi budaya secara umum, Hadhramaut ibarat kertas putih yang sama seklai tidak dijamah oleh budaya lain, apalagi budaya Barat. Islam masih menjadi satu-satunya manifestasi budaya di Hadhramaut yang masih kental. Tak heran jika sebagian golongan menganggap Hadhramaut adalah Islam yang sangat kolot, bahkan Islam yang Ortodok dan Radikal. Sebenarnya dalam Islam tidak ada label Islam Tradisonal, Islam Moderat, Islam Radikal, apalagi Islam Liberal. Itu hanya terminologi yang dilabelkan oleh kaum Barat. Karena agama Islam semuanya berlandaskan Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang senantiasa mengedepankan sifat toleransi dan keramaahan kepada setiap mahluk. Islam pun tidak memaksa kepada seseorang untuk memeluk agama Islam. Memang substansi istilah-istilah penggolongan Islam itu ada dan muncul di kaum muslimin. Hal itu karena perbedaan interpretasi setiap individu muslim yang terkadang agak nyeleneh dan tidak sejalan dengan mayoritas ulama pendahulu. Bukan karena Islam itu turun dari Allah Swt. dan sudah digolong-golongkan seperti itu.
Dalam segi sosial keagaaman, hadharim (sebutan untuk orang-orang Hadhramut) senantiasa berpegang teguh  pada syariat Islam. Terbukti dengan banyaknya kaum wanita yang masih memepertahnkan syari’at untuk memakai cadar dan untuk tidak keluar rumah kecuali ada hal yang mendesak. Walaupun itu dianggap sangat kolot, tapi itu merupakan bukti bahwa syari’at masih dipegang secara totalitas. Bukan malah membuktikan bahwa mereka itu lebih suci dari yang tidak bercadar. Terlepas dari kedinamisan dan elastifitas  syari’at Islam (murunat as-syariah al-islamiyah) yang membolehkan wanita tidak memakai cadar dengan landasan lebih mengedepankan maslahat hubungan sosial kemasyaraktan agar selalu berdampingan dengan damai satu sama lain, wanita yang memakai cadar tidak selayaknya dimarginalkan atau dikucilkan bahkan dihina terutama para wanita di kota Tarim Hadhramaut. Kalau kemashlahatan dan hak asasi manusia setiap individu menjadi tolak ukur dan landasan diperbolehkannya wanita tidak memakai cadar, para wanita yang memakai cadar pun itu memandang bahwa kemashlahatan-karena maraknya maksiat dan fitnah sehingga mereka bercadar-dan hak asasi manusia merupakan tolak ukur dan landasan mereka untuk mempertahankan mereka bercadar. Jika wanita yang tidak bercadar beralasan karena mengedepankan kemashlahatan dan HAM, apakah salah mereka yang bercadar beralasan seperti itu juga?. Tidak ada yang salah antara yang bercadar dan tidak bercadar selama kedua-duanya masih berpegang dengan syari’at Allah Swt. karena kemungkinan yang bercadar tidak lebih mulia di sisi Allah dari pada yang tidak bercadar dan sebaliknya. Begitu juga orang yang berjubah tidak lebih mulia di sisi Allah Swt. dari pada yang tidak berjubah dan sebaliknya.
Dalam ranah pendidikan, masyrakat Hadhramaut mayoritas mengedapankan belajar syari’at Islam. Itu di tandai dengan banyaknya lembaga pendidikan baik yang berupa Universitas ataupun Rubath-Rubath (pesantren), didirikan di Hadhramaut terutama kawasan Tarim yang terkenal dengan kota pendidikan yang pernah dinobatkan oleh dunia Internasional sebagaiCapital of Islamic Culture pada tahun 2010. Ada sebagian masyarakat yang tentu saja memprioritaskan untuk mendalami sains dan tekhnologi. Itu pun setelah putra dan putri mereka dididik agama sejak kecil. Itulah keseimbangan antar ilmu agama dan ilmu sains yang kedua-duanya harus melekat pada setiap individu muslim agar Islam menjadi agama yang bertengger di posisi paling atas sebagaimana Islam dulu di spayol.
Walhasil, masyarakat Hadhramaut tidak mengedapankan ilmu agama saja. Bahkan banyak dari putra-putra tokoh masyarakat dan habaib Hadhramaut digembleng ilmu sains dan tekhnologi setelah mereka dibekali ilmu keagamaan yang menjadi bekal mereka daalam kehidupan bersosial dan bermasyarkat.
D.    Saatnya Nusantara berkaca pada Hadhramaut
Sudah tidak diragukan lagi bahwa Islam masuk ke Nusantara terutama Jawa dibawa oleh penyebar Islam dari Hadhramaut setelah mereka singgah di daerah Gujarat India yang dipelopori oleh keluarga besar Syekh Jamaluddin Akbar dari Gujarat, beliau masih keturunan Syekh Muhammad Shahib Mirbath dari Hadramaut. Mereka memutuskna untuk melanjutkan berlayar menuju kawasan Asia Tenggara setelah India diduduki kolonial Inggris pasca dibuknya terusan Suez (qanatus suwais) di Mesir  yang berdampak banyaknya kolonial Eropa yang berkeinginan untuk melakukukan invasi di daerah Asia.
Dari situ dapat dismpulkan, bahwa “nenek moyang” dan “orang tua” orang-orang Islam Indonesia adalah hadharim. Sangatlah riskan dan ironis jika seorang anak tidak mencerminkan sifat orang tuaya. Menurut ahli kedokteran pun mengatakan bahwa genetika dari seorang bapak atau ibu pasti akan menurun ke anaknya. Kalau begitu, orang Islam Indonesia sudah pasti ada sifat genetika dari orang Islam Hadhramaut seperti keramahan dan kesantunannya. Akan tetapi, sifat-sifat itu seolah mulai luntur dalam jiwa muslim Indonesia.
Faktor utama yang menjadikan lunturnya “jiwa Islam” adalah westernisasi budaya yang semakin hari semakin mendarah daging di Indonesia. Jika seorang anak bisa berubah 180 derajat sifatnya ke sifat orang tuanya ketika lingkungannya menjadikan dia anak yang nakal. Muslim indoneisa pun pasti bisa seperti itu. Dengan cara nasihat dan terapi meyadarkan muslimin Indonesia agar mereka kembali seperti induknya adalah salah satu upaya untuk back to Hadhramaut. Sebagaimana seorang induk harus berusaha menjadikan sang anak tetap pada keinginan dan kemauan sang induk, tidak salah kalau banyak mahasiswa dan pelajar Indonesia belajar di Hadhramaut supaya terbentuk karakter seperti induknya. Hal itu bukan berarti pelajar Indonesia agar menjadi seperti orang Hadhramaut sepenuhnya, akan tetapi agar menjadi muslim seperti muslim di sana. Karena seorang anak juga tidak mesti serupa dengan orang tuanya seratus persen.
Saatnya  muslimin Indonesia harus mau mengaca kepada masyarakat Hadhramaut dalam menjalankan syaria’t Islam. Harus berani bersikap nekad untuk bisa kembali ke asalnya. Kalau seorang anak bisa nekad menjadi nakal, mengapa dia tidak berani nekad menjadi jati dirinya yang sebenarya?
Dan saatnya orang-orang Indonesia juga mengaca pada Hadharamaut dalam kehidupan sosial budayanya yang selalu menjadikan Islam sebagai manifestasi hidup mereka. Berusaha menjunjung tingi nilai-nilai sopan santun dan kearfian sebagaimana yang Islam ajarkan dan mau menyadari bahwa dirinya adalah seorang muslim yang lembut dan santun, bukan seorang yang bengis dan kejam. Mau menghidupkan lagi kegiatan-kegiatan agama seperti maulid nabi, yasinan dan tahlilan dan selalu menjunjung tinggi education balancingantara ilmu agama dan sains yang tidak berat sebelah. Yang berkeinginan mendalami sains, hendaknya memiliki bekal benih agama yang tertanam di dalam hatinya agar bisa menjadikan dia ilmuwan yang berkualitas, yang tidak silau akan harta, apalagi sampai mau disuap ataupun korupsi. Dan yang mendalami Islam pun hendaknya mengetahui bagaimana pentingnya sains dan tekhnologi dan tahu apa itu urgenitas ilmu pengetahuan umum buat kehidupan sehari-hari dan kemajuan Islam.
Wahai muslimin Indonesia, sadarlah dan kembalilah ke jati dirimu yang sebenarnya. Seokor rusa yang kejam pasti tahu bahwa dirinya adalah rusa, bukan harimau sang pemangsa. Apakah patut orang Islam Indonesia kalah dengan tingkah laku rusa?
* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al Ahgaff Fak. Syari’ah Semester 7 Alumni Pon. Pes. Al Hikmah tahun 2009

About Tim Redaksi

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *