Home / Khazanah / Maksud Shalat Sebagai Mi’rojul Mukmin

Maksud Shalat Sebagai Mi’rojul Mukmin

Dalam satu hadis disebutkan bahwa shalat itu adalah mi’rojul mukminin, apa maksudnya dan bagaimana pelaksanaannya ? (Abu Kayyis – Ketanggungan)

Terkait shalat sebagai mi’rojul mukminin. Kita tahu InsyaAllah arti mi’raj yaitu naik dari bumi ke langit sebagaimana dulu dilakukan oleh sayyidina Rasulillah Saw. Dan shalat memang oleh-oleh dari Mi’raj dahulu.

Sebuah Kewajiban agama yang diperoleh dari wahyu, tidak seperti perintah-perintah dan larangan agama yang lain. Karena diperoleh melalui mi’raj yakni naik kelangit.

Sehingga sholat itu, karena oleh-oleh mi’raj Nabi. Seyogyanya dan semestinya shalat ini menjadi mi’rajnya semua orang mukmin. Dalam arti shalat itu menjadi media untuk menghadap Allah bagi seorang hamba.

Karena dalam shalat , seorang mukmin sedang menghadap Allah. Bermunajat menyampaikan apa saja kebutahan-kebutuhannya kepada Allah. Menghayati rasa penghormataan berada dihadapan Allah swt.

Sehingga didalam waktu shalat, semestinya seorang mukmin bisa menanggalkan dan menanggalkan semua selain Allah. konsentrasi betul-betul, seolah-olah merasakan dirinya sedang berada dihadapan Allah. Ya itulah, Kira-kira arti dari mi’raj ini.

Kalau kita kaji lebih dalam ya lebih panjang.  Sangat bagus bila kita melihat keterangan Imam Ghazali di dalam bab shalat di kitab Ihya Ulumuddin. Yang jelas orang mukmin ini dianjurkan dalam Al Qur’an seperti sajaratun tayyibah. Seperti pohon yang baik. Yaitu yang digambarkan dalam Al-Qur’an

Asluha tsabitun wa far’uha fissama’

Akarnya batangnya berada di bumi ini, tetapi dahan dan cabangnya berada di langit.

Maksudnya seorang mukmin ini atau manusia itu terciptakan dari dua komponen.

Yang pertama dari tanah, darah daging itu dari tanah, Karena itu segala yang berasal dari tanah, ini yang menjadi perhatian dan kesukaan manusia. Seperti makanan, pakaian , rumah, suami, istri yang semua itu bersifat ardhi bersifat tanah.

Komponen yang kedua ini adalah ruh, ini dari atas. karena itu manusia sejelek-sejelek apapun masih punya sifat kemanusiaan. Sifat-sifat luhur. Kasih sayang dengan sesama, tidak tega melihat aniyaya. Dan yang lain-lain.

Karena ruh ini dari atas, maka kita juga butuh memberi santapan ruh. Dan untuk memberi kesempatan ruh untuk terbang keatas.Terbang keatas ini media nya ya dengan shalat lima waktu.

Ketika setiap harinya orang ini terbang ke atas. Dengan melihat segala seuatu dari atas. InsyaAllah hatinya menjadi tentram. Karena diatas itu tidak ada tempat yang sempit. Diatas ini untuk memuat semuanya.

Al-Qur’an mengatakan

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ

Ayo bergegaslah bercepat-cepatnya berlomba lombalah untuk menuju ampunan Allah dan surge Allah yang luasnya seluas bumi dan langit. (Ali-Imron:  133)

Maksudnya adalah kalau kita hanya terpaku pada perhatian-perhatian duniawi. Dunia itu memang sempit. Kalau sempit dan dihuni oleh banyak orang. Bisa jadi timbul berdesakan. Macet.

Kenapa jalan-jalan macet, lebar sekian meter, panjang sekitan meter. Yang hanya menampung normalnya, misalnya hanya menampung 100 ribu orang. Tetapi kemudian dimasuki dengan melebihi dari kapasitas yang semestinya.

Kalau sudah terjadi kemacetan, selanjutnya muncul rasa tidak enak, tidak nyaman, rasa ingin menang sendiri, dan seterusnya.

Tetapi ketika orang ini terbang keatas, diatas ini tidak ada yang macet. Dilangit ini tidak ada yang macet. Karena sangat-sangat luas. Begitu pun ketika kita sehari lima kali mi’raj. Terbang keatas. InsyaAllah kita berhati lapang.

Dan ketika kita terbang keatas dan melihat kebawah ini tidak mudah terpana. Kita melihat Sesutu terpukau karena kita melihat dari bawah. Kendaraan yang bagus, rumah yang bagus, wah kapan kita punya seperti itu. Kemudian wanita cantik, Dan lain sebagainya.

Tetapi ketika kita terbang keatas, dari atas itu semua itu terlihat sama saja. Rumah yang bagus yang tidak bagus, kendaraan yang bagus dengan yang tidak bagus. dan lain sebagainya.

Bahkan semakin keatas semakin kecil makin kecil. Semakin tidak terlihat. Bahkan planet yang huni, bumi ini terlihat kecil sekali. Inilah manfaat dari orang bermi’raj. Semakin tinggi kita terbang, semakin tinggi ruh kita berada diatas. Kita melihat ke bawah itu biasa-biasa saja. Bahkan,  apa yang berada dibawah ini sebagai orientasi hidup. Sangat jauh dunia dibanding akhirat.

Inilah mi’raj yang semestinya, shalat itu dijadikan media bermi’raj bagi orang mukmin, lima waktu minimal yang wajibnya setiap harinya. Syukur-syukur ditambah shalat sunnah. Ketika kita shalat kita benar-benar terbang ke atas, melupakan semua persoalan yang ada dibawah.

Kalau kita bisa shalat seperti itu, inilah shalat yang diterima oleh Allah, dan berfungsi untuk mencegah tanha ‘anil fahsyaai wal munkar.

 
gambar : article.wn.com.

About Tim Redaksi

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 berlokasi di dusun Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Membuka beragam unit Pendidikan mulai dari tingkat TK, MI, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, MMA, Ma'had Aly, STAIA, AKPER serta Tahfidzul Qur'an. Informasi Lebih Lanjut, Hubungi Kami di (0289) 511 0772 / 432 445

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *