Pondok pesantren (PP) merupakan pendidikan tertua di indonesia. Dimana sejak pesantren Ampel Denta Surabaya, berdiri selanjutnya berturut-berturut lembaga pendidikan PP terus menyebar di tanah air terutama di Pulau Jawa. Dari PP tersebut, telah melahirkan pemimpin seperti Raden Fattah dengan majlis wali sanga (1478-1518 H.) selanjutnya singkat sejarah tahun 1939 para pemimpin bangsa (ulama) membentuk MIAI (Majlis Islam Ala Indonesia), sebagai wadah perjuangan ulama Pra Kemerdekaan. Sedikit demi sedikit peran ulama dan PP mulai ditinggalkan dalam dunia pendidikan maupun persoalan kenegaraan. Dalam hal ini negara hanya memfasilitasi IAIN yang dipersiapkan untuk mengisi posisi Departemen Agama. Sementara hasil lulusan sarjana-sarjana IAIN masih jauh dari harapan sebagai pencetak ulama, kecuali yang berbasic PP.
Karena itu, untuk mengungkap pemenuhan akademi keIslaman, diperlukan suatu lembaga atau institusi pendidikan yang dibutuhkan bangsa dalam komunitas berbasis Pondok Pesantren (PP) sebagai sentral kajian kitab turats (kitab kuning) bagi thalabah (Mahasiswa) yang merupakan calon ulama berwawasan kekinian.
Alasan Pendirian Ma’had ‘Aly
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka PP Al Hikmah Benda Sirampog Brebes mendirikan TQK (Takhasus Qira’atul Kutub) yang selanjutnya menjadi Ma’had ‘Aly dengan alasan:
- Bahwa PP merupakan pusat pendidikan Islam yang mampu bertahan mencetak kader-kader ulama.
- Bahwa oleh karena banyak lulusan IAIN (kecuali yang berbasic PP) kurang menguasai literaratur keislaman dengan baik.
- Bahwa untuk merealisasikan dan mewujudkan hal tersebut, maka dibutuhkan suatu lembaga pendidikan yang langsung bersinggungan dengan komunitas PP.
LANDASAN TEORITIS MA’HAD ‘ALY
- Pengertian
- Misi dan Visi
- Visi Ma’had ‘Aly, terciptanya lembaga Pendidikan Tingkat Tinggi (Al Jami’ah) sebagai pusat Tafaqquh Fiddin yang berakhlak al-karimah.
- Misi Ma’had ‘Aly, pertama, mengadakan pendidikan, penelitian, kajian dan pengabdian keislaman secara holistik dan komprehensif bagi thalabah (Mahasiswa) melalui kitab Turats dalam menciptakan dan mengembangkan kemandirian berfikir dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam semua sisi kehidupan.
- Tujuan
- mentransformasikan kemampuan dalam memahami dan megaplikasikan Kitab Turats pada kehidupan sehari-hari sebagai Waratsatul Anbiya sesuai perkembangan zaman.
- Memiliki konstribusi dalam pengembangan dan pengabdian pada ilmu pengetahuan.
- Target
- mengusai ilmu-ilmu keislaman sesuai spesifikasi dan jurusan menurut kamampuan dan bakat thalabah (Mahasiswa).
- Mencetak kader-kader ulama yang siap mengabdi pada masyarakat.
pengertian Ma’had ‘Aly atau pesantren luhur adalah suatu lembaga pendidikan bagi pasca santri tingkan SLTA sebagai kader-kader ulama.
SEJARAH MA’HAD ‘ALY AL HIKMAH
- Sejarah TQK (takhasus qiraatul kutub)
- Sejarah Ma’had ‘Aly
sejarah Ma’had ‘Aly Al Hikmah berawal ketika K.H Masruri Abdul Mughni selaku Pengasuh PP Al Hikmah menjadi santri PP Tambak Beras Jombang Jawa Timur tahun 1960 mendapati K.H Wahab Hasbullah merintis Pesantren Luhur atau Al Jami’ah bagi santri-santri senior untuk mendalami dan melengkapi ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sosial sebagai bekal kader ulama dan pemimpin masa depan.
Pada perintisan awal, dibangun kampus pertama menempati lokasi tepat di depan pintu gerbang PP (sekarang menjadi MTs), namun dalam perjalanan selanjutnya, Pesantren Luhur Tambak Beras Jombang tidak lagi kelihatan berbarengan ketidak stabilan bangsa Indonesia ketika itu. Sepulang dari PP Tambak Beras Jombang. K.H Masruri Abdul Mughni bersama ulama melanjutkan aktivitas pendidikan yang sudah ada sebelumnya yaitu Tahfidzul Qur’an dan bekerja keras merintis lembaga pendidikan formal, seper MTs (1987), madrasah diniyah awaliyah dan wustha(1965), madrasah mua’llimin dan muallimat addiniyah (1966), MA (1967), SMP (1978), SMA (1987), STM (1993), dan SMEA (1996). Dan ketika bersilaturrahim kepada K.H Abdul Jalil Mustaqim, Tulung Agung Jawa Timur (1984), KH. Masruri Abdul Mughni mendapat pesan untuk menampung para alumni PP. Salaf seperti Madrasah Muallimin dan Muallimat dan MA yang telah menguasai Kitab Turats (Kitab Kuning) pada sebuah lembaga pendidikan dan kajian yang dikelola secara profesional dengan sistem akademik atau Al Jami’ah. Demikian juga dipesankan oleh KH. Mahfudz Siddiq (Alm). Hal tersebut didasari oleh karena lemahnya lulusan sarjana IAIN dibidang agama seperti membaca Kitab Turats atau literatur keislaman yang menjadi sumber pengetahuan agama Islam. Karena itu untuk merealisasikannya pada tahun 1984 didirikanlah TQK (takhasus qira’atul kutub), yang diketuai oleh seorang ‘Amid KH. Abdullah Adib Masruhan, Lc. Dan empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 12 Maret 1988 TQK mulai beroperasi dan aktif mengadakan perkuliahan perdana.
Perjalanan TQK, sepuluh tahun kemudian yaitu ketika Dirjend Binbaga Depag dipegang oleh Dr. Zamakhsari Dhofir dan dari RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) Dr. Ali Haidar bersama-sama pimpinan Pondok Pesantren pada awal tahun 1997 bersepakat mendirikan lembaga pendidikan dan kajian yang bersifat akademis dengan dukungan tenaga profesional bersama Ma’had ‘Aly atau Pesantren Luhur.
Selanjutnya, TQK Al Hikmah mendapatkan respon positif sebagai salah satu bagian dari harapan ulama dan Binbaga Depag yang dikepalai oleh Dr. Zamakhsari Dhofir, seorang yang berbesik pesantren. Dan pada tanggal 21 Maret 1997, dengan restu para pengasuh dan pengurus PP Al Hikmah, TQK berubah istilah menjadi Ma’had ‘Aly yang diresmikan oleh salah satu ketua PP. RMI, Dr. KH. Noer Iskandar Al-Barsani dan sekaligus ditunjuk menjadi ‘Amid (Direktur) Ma’had ‘Aly Al Hikmah yang pertama.
Namun demikian, perjalanan Dr. Zamakhsari Dhofir di Binbaga yang membawa konsep Ma’had ‘Aly banyak mengalami hambatan dan tantangan yang berdampak pada mutasi kedinasan beliau, sehingga eksistensi Ma’had ‘Aly yang merupakan satu-satunya Lembaga Tinggi Pesantren bagi kader-kader ulama tidan memiliki paying operasional lagi. Dan bagi PP Al Hikmah sendiri, Ma’had ‘Aly harus tetap eksis sambil menunggu Binbaga merespon kembali.
letak geografis Ma’had ‘Aly Al Hikmah berada di Desa Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah, yaitu sebuah desa yang berada di atas ketinggian 200 m dari permukaan laut, berada di sebelah barat Gunung Slamet, kurang lebih 7 km. dari kota Bumi Ayu dan kurang lebih 8 km. dari Kabupaten Brebes.