Saturday , 23 June 2018
Home / Santri Menulis / Ketika Santri Bertemu dengan PKI

Ketika Santri Bertemu dengan PKI

Bumiayu, tahun 1970.

Seorang lelaki berpeci putih, berbaju putih, dan mengenakan sarung tampak asyik menceritakan santrinya kisah-kisah di masa lampau, sejarah yang terlupakan.

“Santri termasuk salah satu elemen terpenting yang ikut memperjuangkan Bangsa ini untuk merdeka. Mereka berjuang keras, bahkan mengorbankan nyawa mereka demi merdekanya Bangsa ini dari penjajahan. Semangat dan kegigihan mereka itulah yang seharusnya menjadi pacuan bagi kalian, agar kalian menjadi seorang manusia yang bermanfaat bagi yang lain, agar kalian menjadi hamba yang berjuang menegakkan kalimah Laa ilaaha illallah di bumi pertiwi ini.” Ustadz Miftah melanjutkan ceritanya bagaimana santri bisa merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah, bagaimana perjuangan santri melawan penjajah, bagaimana seorang santri yang bernama Harun duel melawan pemimpin kolonial.

Para santrinya mendengarkan dengan khusyuk, tak ada yang tidur saking penasarannya mereka dengan perjuangan seorang santri yang notabene hanyalah belajar agama, mengabdi pada Kyai, dan bisa dibilang ketinggalan zaman itu bisa ikut andil dalam memerdekakan Bangsa ini.

“Dan sampai kini perjuangan santri juga masih dibutuhkan. Kalian tahu PKI? Mereka adalah orang-orang atheis yang  tidak mempercayai Tuhan, mereka sangat benci agama, terutama Islam. Orang-orang seperti inilah yang harus kita berantas, karena mereka sudah sangat jelas memusuhi Allah. Dalam prakteknya, mereka juga menculik dan membunuh para mubaligh.” Lanjut Ustadz Miftah, menantu Abah Ali, pengasuh pondok pesantren Sajero Jagad. “Mereka menyiksa para Kyai terlebih dulu baru membunuhnya. Mereka berpikir dengan cara seperti itu mereka bisa mempengaruhi pengikutnya agar menjadi atheis. Dan parahnya, mereka didukung oleh pemerintah walau pemerintah berusaha menyembunyikan itu.”

Muftie bergidik ngeri, bukan saja karena penyiksaan itu, tapi juga karena ucapan gurunya yang sangat frontal. Zaman itu adalah zaman orde baru, dimana tak boleh ada seorang pun yang membicarakan tentang pemerintah, apapun itu bentuknya. Jika ada yang membicarakan sesuatu tentang pemerintah, apalagi tentang hal buruknya, sudah dapat dipastikan orang itu akan masuk ke dalam jeruji besi. Muftie khawatir Ustadz Miftah akan mengalami hal yang sama, ia khawatir ada seseorang yang mendengarnya kemudian melaporkannya kepada aparat kepolisian.

Tapi Ustadz Miftah tampak tak peduli, beliau terus membicarakan tentang PKI, tentang rahasia kerjasama mereka dengan pemerintah, tentang segala borok yang ada di tubuh Bangsa ini. Muftie melirik Khalid yang tampak asyik mendengar cerita Ustadz Miftah, ia bahkan tak mencatat keterangan apapun meski pulpen bertengger di tangannya, siap untuk digunakan, ia terlalu sibuk mendengarkan. Kemudian pandangannya beralih ke Hanif, pemuda itu tampak mengepalkan tangannya, marah. Muftie juga merasakannya, marah kepada kelompok pembunuh itu, marah kepada pemerintah, marah kepada aturan Negara ini.

Saat itu tahun tujuh puluhan, saat yang rentan dengan pembunuhan. Ada suatu kelompok yang selalu memakai pakaian ninja dan mereka menculik serta membunuh para Ustadz dan Kyai yang tak sepaham dengan mereka. Diduga kelompok itu adalah PKI, tapi sampai saat ini belum ada yang dapat memastikan kebenarannya. Mereka memberi tanda dengan memberi amplop di depan rumah calon korbannya. Suara burung hantu merupakan tanda jika mereka akan mendatangi orang itu, jarang sekali ada yang selamat meski orang itu telah kabur atau pergi sejauh-jauhnya.

****

Malam itu masih sama seperti malam-malam sebelumnya, mencekam, menakutkan, mengerikan. Tak ada pencahayaan yang terlihat, semua terlalu takut keluar di malam yang sunyi itu, mereka lebih memilih tidur di kasur masing-masing meski dengan mimpi buruk.

Muftie tengah membaca al-Qur’an di kamarnya dengan sedikit pencahayaan dari lilin yang hanya tinggal sumbunya saja. Wajahnya menunjukkan apa yang ada dalam hatinya, sebuah kekalutan. Ia berdiri untuk kesekian kalinya, lalu membuka pintu kamarnya, mengintip kamar yang berada di seberang kamarnya, kamar Abah Ali.

“Kau kenapa sih Muft?” Tanya Khalid yang akhirnya terbangun dari tidurnya, ia memperhatikan jika Muftie sangat gelisah.

Muftie menutup pintunya secara perlahan lalu berkata dengan lesu, “Entahlah, hatiku sangat tidak tenang. Aku khawatir dengan keselamatan Abah Ali, aku takut para ninja itu datang kemari.”

“Takut hanya kepada Allah, yakinlah Allah pasti melindungi Abah Ali.”

“Aku tahu, tapi kita harus berjaga-jaga.” Muftie segera mengangkat kedua tangannya, “Ya Allah, lindungilah Abah Ali dan keluarganya, jangan sampai mereka dilukai oleh orang-orang yang dzalim.” Muftie mengusapkan kedua tangan ke wajahnya seraya lirih mengucapkan Aamiin.

“Kau tidak berdo’a untuk kita juga Muft?”

“Abah Ali adalah guru kita, kita harus mengutamakan keselamatan beliau dibanding diri kita sendiri. Kita harus mendo’akannya dan mendo’akan keluarganya. Aku yakin, Abah Ali juga pasti senantiasa mendo’akan kita. Dan tanpa ridho beliau, ilmu kita takkan bermanfaat. Makanya, akan kulakukan apapun demi ridho Abah, demi keselamatan beliau.”

“Meski nyawa kamu sendiri bayarannya?”

“Iya.” Muftie menjawab mantap, “Kau ingat kisah yang diceritakan oleh Ustadz Miftah tempo hari tentang kemerdekaan Indonesia? Bagaimana santri berjuang keras memerdekakan Bangsa ini? Bahkan hingga 200 santri dibakar oleh Jepang karena mereka membela Negara mereka, membela Kyai mereka. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak?”

Khalid terdiam mendengar kata-kata Muftie.

“Muft, apa sebenarnya arti santri itu?”

Muftie terdiam selama beberapa saat sebelum menjawab dengan tegas, “Santri itu sami’an wa tho’atan kepada Kyai. Hormat, tunduk, patuh pada Kyai, karena Kyai adalah guru santri, dan guru adalah orang tua kita. Tidak boleh ada su’udzhan dalam hatinya kepada guru dan para ulama. Apa kata gurunya, harus ia laksanakan, lillahi ta’ala.”

Tiba-tiba terdengar suara burung hantu, kedua santri itu terlonjak kaget. Muftie buru-buru membuka pintu kamar, memastikan kamar Abah Ali masih tertutup.

“Astaghfirullah… jangan-jangan itu peringatan untuk menculik Ustadz Miftah. Imron bilang jika Ustadz mendapat amplop merah tadi siang, tapi Ustadz tak peduli.”

“Maaf,” Hanif menyela, bangun dari tidurnya. “Aku mendengar semua percakapan kalian. Jujur saja, amplop merah itu sebenarnya diletakkan di teras rumah Abah Ali, aku yang mengambilnya agar para ninja itu tak melukai Abah, tapi amplop itu hilang saat tadi kita mengaji di ndalem (rumah) Ustadz Miftah, mungkin terjatuh di sana.”

Muftie dan Khalid menatap hanif dengan pandangan tak percaya.

“Sungguhkah yang kau katakan itu?” Tanya Khalid, Hanif mengangguk lemah.

“Abah Ali berada dalam bahaya. Mau hilang atau tidak, amplop tersebut telah menjadi peringatan bagi Abah Ali.”

Muftie segera keluar kamar diikuti Khalid dan Hanif. Pintu kamar ditutup, bersamaan dengan itu lilin tadi mati, ditiup oleh angin yang menyanyikan dawai-dawai kematian. Tiba di ruang tamu, mereka kembali mendengar suara burung hantu, kali ini lebih dekat, seakan berada persis di samping rumah. Begitu mereka keluar, mereka melihat sekelompok orang berpakaian ninja yang sedang berjalan menuju ke arah mereka, Muftie dan kedua temannya segera menghadang.

“Siapa kalian?!” Muftie berteriak lantang, “Apa yang kalian inginkan?!”

“Jangan campuri urusan kami kalau kalian ingin selamat. Pergi!”

“Kami takkan membiarkan orang-orang biadab seperti kalian melukai Abah Ali!”

“Siapa kalian?!” kini giliran mereka yang melontarkan pertanyaan tersebut.

“Kami santri Abah Ali, orang yang akan kalian culik!”

Para ninja itu saling pandang kemudian beramai-ramai menyerang tiga santri itu. Pertarungan yang tidak seimbang, sembilan lawan tiga. Tapi karena tiga santri itu diajari ilmu beladiri, mereka bisa dengan mudah menangkis serangan-serangan lawan, bahkan para ninja itu yang kemudian merasa terdesak. Muftie sempat merutuk dalam hati betapa pengecutnya para ninja itu, mereka bersembilan untuk menculik satu orang. Sungguh keterlaluan!

Muftie melayangkan tendangan T-nya ke lawannya yang terakhir tepat di dadanya, tendangan andalannya tersebut berhasil mendorong lawan hingga terjungkal dan akhirnya tak sadarkan diri. Muftie mengucap syukur, tapi ia kemudian melihat Khalid yang tampaknya kewalahan menghadapi dua musuhnya yang menyerangnya secara bersamaan. Muftie segera membantu Khalid, salah seorang ninja melempar senjata mereka sebelum Muftie sempat mengeluarkan jurus-jurusnya.

“Aw!” Muftie mengerang sakit saat senjata itu menancap kuat di bahu kirinya. Tapi ia tak menyerah, ia loncat kemudian melakukan tendangan memutar yang akhirnya mengenai kepala musuh tersebut. Lawan yang satunya, yang telah mengetahui kehebatan kaki Muftie segera mengeluarkan pisau lipat kecil yang segera dilemparkan ke arah kaki Muftie. Untungnya Khalid melihat itu, ia segera menghalangi pisau itu hingga akhirnya pisau itu mengenai lengan tangan kanannya. Muftie tak terima, segera saja ia melancarkan tendangan dan pukulannya ke orang tersebut secara beruntun ke dadanya tanpa sempat dielak, hingga akhirnya orang tersebut terhuyung kemudian tumbang. Muftie dan Khalid mengucap tahmid, nafas mereka tersengal tak beraturan seakan mereka habis berlari berkilo-kilo meter jauhnya. Mereka kemudian menghampiri Hanif yang sedang berdiri kaku menatap tubuh kesembilan orang itu.

“Sudah selesai, mari kita kembali.” Muftie menepuk pundak Hanif, menahan perih di bahu kirinya. Tapi Hanif tak bergeming, ia masih setia menatap kosong ke depan.

“Nif?”

Tiba-tiba saja Hanif berbalik dan langsung menusuk Muftie tepat di perutnya. Muftie dan Khalid terkejut, serempak mereka mengucapkan istirja’. Khalid langsung menerjang Hanif, tapi Hanif lebih cekatan menancapkan pisau ke perut Khalid.

“Apa yang kau lakukan?! Penghianat!” seru Khalid tertahan, ia langsung roboh ke tanah, tepat di samping Muftie yang juga sedang menahan rasa sakit di perutnya yang seakan dikoyak-koyak dan dipaksa dikeluarkan isi perutnya.

Hanif tertawa, menjilat pisau yang berlumuran darah tersebut, “Aku menjebak kalian. Aku lah yang menaruh amplop merah di teras rumah Ustadz Miftah karena menurutku beliau tidak layak hidup, beliau terlalu banyak omong, dan kebanyakan omongannya adalah omong kosong. Maksudku, ayolah, PKI tidak sekejam itu, malah mereka selalu memberiku banyak uang hanya untuk menyiksa seseorang. Bukankah itu menarik?”

“Dasar budak uang!” teriak Muftie marah, wajahnya merah padam antara menahan sakit dan menahan amarah. Hanif semakin tergelak, “Sudahlah, urusan dengan kalian sudah selesai. Aku punya urusan lain, membunuh Ustadz Miftah.”

Hanif pergi meninggalkan Muftie yang matanya kini mengalirkan bulir-bulir air tanda penyesalan. Menyesal karena tidak dapat melindungi gurunya, menyesal karena tidak mengetahui ada penghianat di dekatnya, menyesal karena ia belum bisa menjadi santri yang haqiqi. Ia mendengar erangan Khalid, ia teringat pertanyaan Khalid, “Apa sebenarnya arti santri itu?”

Santri itu setia pada gurunya, taqdim pada Kyainya, nurut pada Ulamanya. Santri itu pembela Bangsa, santri itu pembela agama, santri itu pembela Ulama. Santri itu memiliki Akhlaq para Nabi, yang takkan menghianati, dan rela berjihad sampai mati. Santri itu…

Tiba-tiba semuanya gelap.

(Nela)

About Nela

Jadi, saya suka baca dan tulis