HikmahKhazanah

Keberanian Sebagai Akhlak Mulia

Dalam suatu pekerjaan tentunya memiliki kunci untuk mencapai keberhasilan/kesuksesan. Diibaratkan dengan sebuah bangunan, jika ingin memiliki bangunan yang kokoh, kuat, tidak mudah roboh dan tumbang, maka haruslah fondasi yang ditanamkan di dasar tanah itu wajib diperkokoh dan diperkuat. Mengapa? Sebab, jika fondasi tersebut tidak di tanam dengan sedemikian rupa, maka akan diperkirakan bangunan tersebut akan mudah tumbang. Demikian halnya dengan suatu pekerjaan. Fondasi tersebut disamakan dengan keberanian. Tanpa keberanian maka pekerjaaan yang sedang dilaksanakan akan mengalami kegagalan. Keberanian itu sendiri letaknya pada pribadi si pekerja.

Keberanian adalah suatu sifat yang mendorong dan memberikan semangat kerja secara terus menerus lagi teratur untuk semua pelaksana dan pekerja. Dengan memiliki keberanian dalam diri pekerja, maka tidak mungkin akan mundur dalam setiap pekerjaan yang dilaksanakan. Pelaku akan terus maju dalam artian berani melangkah dan berani menanggung resikonya.

Jadi, yang dimaksud berani disini adalah berani maju kedepan, berani melangkah sekiranya hal itu diperlukan. Akan tetapi bagi orang yang mengambil langkah mundur tidak bisa dikatakan orang yang penakut ataupun gagal. Terkadang pemberanipun perlu mundur saat situasi tidak memungkinkan untuk terus maju. Oleh karena itu, orang yang selalu melangkah kedepan tidak terus dikatakan sebagai orang yang pemberani dan orang yang mundur tidak selalu dikatakan sebagai orang yang penakut. Tetapi, orang yang berani adalah orang yang terus maju ataupun mundur dengan melihat situasi dan kondisi serta orang tersebut mau menanggung resiko yang akan ia terima.

Ada beberapa nasihat yang dituliskan mengenai keberanian dalam kitab ‘Idhotun Nasyiin karangan Syekh Mushofa Al Ghalayini teruntuk kaum remaja dan para pemuda yang merupakan tiang negara di kemudian hari.

Pertama :Milikilah sifat syuja’ah, pegang teguhlah tali kesadaran untuk bersifat syuja’ah itu selama lamanya.

Kedua    :Jangan sekali kali hati kalian dapat digoda oleh rasa katakutan menghadapai segala hal, jikalau dalam pandanganmu hal itu memang haq dan benar. Kikis habislah sifat licik, sebab merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Jangan pula memberi peluang sedikitpun dalam kalbumu untuk dimasuki oleh iblis, yang menjelmakan diri sebagai sifat tahawwur, bekerja tanpa berperhitungan dan awur awuran.

Ketiga    :Ingatlah dan sekali lagi ingatlah bahwa licik adalah suau kebodohan, tahawwur adalah tanda kekurangan akal. Sedangkan syuja’ah adalah akhlak yang mulia yang wajib dimiliki oleh seluruh kaum yang beriman kepada Tuhan Seru Sekalian Alam.            

Dengan demikian sudah jelas, bahwa mempunyai sifat pemberani itu sangat penting bagi orang yang sedang melaksanakan suatu pekerjaaan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also
Close
Back to top button