Saturday , 23 June 2018
Home / Hikmah / Cinta Sejati

Cinta Sejati

Cinta merupakan karunia Ilahi yang dimiliki oleh setiap manusia. Jika cinta merasuk ke dalam jiwa, maka raga akan melakukan apa saja demi sesuatu yang dicintainya. Tetapi tidak semua cinta menghantarkan pada keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki. Seringkali kita lebih memilih mencintai sesuatu yang akan sirna padahal cinta yang sejati adalah cinta yang abadi.

Allah SWT. berfirman di dalam alquran surat An-Nisa ayat 69, salah satu ayat yang Allah turunkan untuk memantapkan kekuatan cinta seorang sahabat kepada kekasih hatinya. “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka mereka akan bersama dengan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh. Mereka adalah sebaik-baiknya teman.”

Dengan hati yang berbunga-bunga, jiwa yang memancarkan cahaya, dan mata yang mengalir darinya butiran-butiran air mata, salah seorang sahabat menghadap kepada kekasih hatinya yang sangat ia cintai, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada keluargaku, hartaku, bahkan diriku sendiri. Aku selalu merasa gundah setiap kali kuingat dirimu. Wahai Rasul, apakah kelak jika aku masuk surga aku dapat berjumpa denganmu?
Sedangkan surgamu dan surgaku pastilah berbeda. Engkau akan diangkat bersama para nabi ke dalam tingkatan surga yang paling tinggi.”
Kemudian Nabi membacakan Q.S.An-Nisa:69 di hadapan sahabat tersebut untuk menenangkan hati yang penuh cinta kepadanya.

Inilah ayat yang membuat lega hati dan menggugah hati kita untuk mencintai dan merindukan orang-orang yang baik. Sebesar apapun kenikmatan dunia, tidaklah sebanding dengan kenikmatan mencintai mereka, bahkan rasul telah menegaskan bahwa kita akan bersama-sama dengan orang yang kita cintai di hari akhir nanti.
Hati adalah sesuatu yang pertama kali harus kita setir. Jika kita arahkan hati kita ke dalam kebaikan, kita akan merasakan ketentraman dalam jiwa dan raga. Tetapi sungguh sangat menyayat hati, fakta berbicara bahwa apa yang sedang terjadi adalah sebuah ironi, kita lebih mencintai tokoh-tokoh yang sering terlihat di televisi padahal seringkali perbuatan yang mereka lakukan jauh dari apa yang Allah perintahkan, sedangkan Nabi adalah sebaik-baiknya tokoh yang patut kita cintai dan teladani.

Kawan, sejenak… Mari kita renungkan, tanyakanlah pada masing-masing diri, tidakkah kita tahu betapa besarnya cinta Nabi kepada umatnya? Pernahkah kita mendengar cerita cinta yang melebihi kecintaannya kepada kita? Bahkan ketika Izro’il hendak mencabut nyawanya pun kata terakhir yang terucap dari kedua bibirnya adalah “Ummatiii..ummati..ummatii”.

Kawan, cinta kepada Nabi tidak cukup hanya dengan mengenakan atribut-atribut yang menandakan bahwa dirinya cinta Rasul. Cinta kepada Nabi tidak membutuhkan klaim dan pengakuan lisan. Karena tanpa diungkapkan, rasa cinta akan tetap ada dan tidak berkurang sedikit pun. Dengan memperbanyak sholawat serta berusaha mengamalkan sunnah-sunnahnya, semoga kita termasuk dari golongan mereka yang berkumpul dengan Akhiril Anbiya.

(Teguh)

About teguh satria