Home / Santri Menulis / Bidadari Surga

Bidadari Surga

Acara reuni akbar angkatan ke-81-85 membuat pondok pesantren al-Ihda tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak yang datang bersama pasangannya atau keluarga kecilnya, tapi tak sedikit juga yang datang sendiri, salah satunya adalah Azril.

 

Azril termasuk angkatan ke-83, angkatan penanggung jawab utama acara reuni 5 angkatan ini. Peran Azril sebenarnya tak seberapa penting, bukan karena tak memiliki andil, tapi lebih karena kesibukannya, ia bahkan hanya dapat tinggal selama beberapa jam saja karena harus segera balik ke Singapura.

“Subhanallah, ternyata ada ya CEO yang bisa baca kitab.” Celetuk Firman saat Azril tengah memurojaah kitab Fathul Qorib di teras depan masjid. Azril tersenyum malu, padahal ia sudah berpakaian layaknya santri dengan peci, baju koko, serta sarungnya, tapi tetap saja jabatan CEO itu melekat pada dirinya. Ia menjawab, “Ingat kata Abah, kitab turats inilah jimat santri.”

“Assalamualaikum! Wah, santri CEO!” Andes tiba-tiba ikut bergabung, membawa serta dua perempuan di belakangnya. Azril berdiri untuk menghormati seniornya dulu, “Waalaikumsalam.”

“Siapa itu Ndes?” Tanya Firman saat keempatnya duduk. Dengan bangga Andes menjawab, “Ini istri ane. Zril, ente mesti kenal.”

Azril menatap wajah perempuan itu satu per satu. “Masyaallah! Bunga??”

Andes tergelak. “Bukan. Bunga cuma nemenin istriku yang katanya malu ketemu temen lama.”

Indah tersenyum, “Lagi ngaji bab apa, Bos?”

“Eh, al-kitab ahkamun nikah, Ndah.” Azril menjawab kawan seangkatannya dulu dengan malu-malu, pertama karena dipanggil “Bos” dan yang kedua karena ada Bunga – adik kelasnya yang sudah lama ia taksir – yang ikut mendengarkan. Firman dan Andes tertawa.

“Lagian kamu, terlalu sibuk mengejar karir, sampai-sampai lupa sama sunnah Nabi.”

“Alah, Mas Firman juga belum nikah, kan?” sanggah Azril dengan wajah merah padam.

“Yee… Aku sih udah ikhtiar, cuma belum nemu yang cocok aja.” Bantah Firman. Andes langsung menyela. “Ente kebanyakan syarat sih, Man.”

“Nggak, syaratku cuma tiga; cantik, sholehah, dan bukan saudara sedarah.”

Andes memukul bahu Firman. “Itu teh syarat mutlak, Man! Ya nggak, Bun?” Andes melirik istrinya yang hanya tersenyum. “Tapi ente boleh ko menikah sama saudara ente.”

Semua langsung terkejut. “Yang benar?!! Kata siapa?!!”

“Di surge nanti, kata Abah sih?”

Semua – kecuali Bunga – langsung menghadiahi cubitan dan pukulan ke Andes, Andes hanya tertawa sambil pura-pura kesakitan. Tak lama setelah itu, Indah dan Bunga pamit pergi karena ingin bertemu alumni lainnya. Firman juga pamit karena ia salah satu panitia reuni.

“Ente udah ada calon, Zril?” Tanya Andes saat Firman sudah pergi. Azril menggeleng perlahan. “Belum Mas. Perempuan banyak, tapi di hati saya cuma satu.”

“Bunga?”

Azril terkejut dengan pengetahuan Andes. Seakan dapat membaca pikiran Azril, Andes berkata, “Dulu ente pernah menceritakannya, kan? Lupa?” ia menatap Azril, “Apa yang ente tunggu? Segera lah lamar dia sebelum keduluan orang lain.”

Azril menunduk. “Apa pantas Mas? Pantaskah saya untuk dirinya?”

Andes geleng-geleng kepala. “Zril, dulu ente minder gara-gara dia anak orang kaya sementara ente sekolah dan mondok bergantung pada beasiswa SKTM dan siswa berprestasi. Sekarang ente udah jadi ‘orang’ Zril, masih berpegang sama cirri khas santri lagi. Ane yakin, dia pasti mau ke ente.”

“Apalah saya, Mas, cuma orang beruntung. Bukankah dia baru kemarin pulang dari Mesir? Pasti ilmu agamanya lebih tinggi lah dari saya.”

Andes menepuk pundak Azril. “Jangan pesimis dulu. Cobalah! Ane dengar Gus Idos nyebut-nyebut nama Bunga saat ia sedang mengobrol sama Ning Ul. Nah, ente jangan ampe lah kecolongan dari Gus Idos walaupun beliau Gus kite sendiri.”

Azril hanya diam, ia yakin jika ada dua lamaran yang diajukan untuk Bunga, darinya dan dari Gus Firdaus, Bunga pasti akan memilih Gus Firdaus. Dan malamnya, setelah acara inti selesai, Azril segera pamit ke kawan-kawannya karena ia harus secepatnya pergi. Saat Azril berpamitan kepada Andes, Andes memberinya secarik kertas.

“Istri ane cerita kalau Bunga menanyakan hal-ihwal tentang ente.” Bisik Andes. “Ini bisa jadi awal yang bagus. Hubungilah nomor ini, barangkali pemiliknya senang.”

Azril menggenggam kertas itu dengan gemetar. “Te.. Terimakasih, Mas.”

“Semoga beruntung, Zril.”

Saat Azril hendak ke penginapan untuk mengambil tasnya, Firman memberitahu bahwa Gus Firdaus ingin bertemu dengannya di taman belakang ndalem. “Di ndalem lagi ada banyak tamu.” Alasan Firman. “Cepatlah, beliau tidak suka menunggu.”

Azril bimbang. Pesawatnya akan take off 5 jam lagi, sementara itu perjalanan dari Bumiayu ke Jogja memakan waktu kurang lebih 4 jam, belum lagi ia harus menemui beberapa orang dan mengurus beberapa hal.

“Takdim sama Kyai.” Bisik Azril untuk memantapkan hatinya saat berjalan ke taman di belakang ndalem, meyakinkan diri sendiri bahwa keberhasilannya juga tak lepas dari doa Kyainya.

Taman itu sangat sepi dan hanya ada lampu 5 watt yang meneranginya, tapi Azril tahu ada orang di sebelah sana. Ia pun mendekat. “Assalamua…” salamnya terpotong saat orang yang tengah asyik memperhatikan bunga-bunga menoleh. “Bunga? Sedang apa di sini?”

Bunga tak kalah terkejutnya, ia tersipu malu. “Saya suka bunga, saya suka taman, jadi saya ke sini. Saya sudah izin ko.”

“Oh…” sesaat Azril mengira ia dijebak oleh Firman, tapi saat Bunga pamit pergi, Azril bertanya basa-basi. “Kamu adik kelas dua tingkat di bawahku, kan?”

“Iya.” Bunga urung pergi, ia terlihat menimbang-nimbang sebelum menanyakan sebuah pertanyaan menggantung, “Apa berita itu benar?”

Alis Azril terangkat sebelah.

“Bahwa hanya santri yang boleh bekerja di perusahaan Mas Azril?”

Azril terkesima Bunga mengetahui itu. “Iya, khususnya santri yang bisa baca kitab turats atau hafidz quran. Kamu tertarik barangkali?”

Bunga tersenyum malu. Saat Azril hendak menanyakan pertanyaan lain, ia mendengar suara langkah kaki. Wajahnya tiba-tiba pias. “Kamu harus pergi dari sini. Cepat!”

Hasil gambar untuk bidadari surga

Dengan wajah bingung Bunga menuruti kata-kata Azril, tapi Azril buru-buru menarik lengannya saat ingat hanya ada satu jalan masuk dan keluar, ia segera melepaskannya lagi saat ingat jika Bunga bukanlah mahromnya.

“Kamu tunggu saja di sini, segeralah kembali ke penginapan sepuluh menit lagi.” Kata Azril sambil berjalan pergi. Benar dugaannya, yang datang itu Gus Firdaus. Gus Firdaus seumurannya, tapi ia tampak lebih bijaksana. Azril mengusulkan agar mereka mengobrol di teras Masjid dan Gus Firdaus menyetujuinya. Obrolan mereka banyak tapi Azril tak dapat menikmatinya karena di dalam hatinya tengah bertarung rasa senang karena dapat mengobrol sebentar dengan Bunga dan rasa penyesalan sebab tadi telah berkhalwat dengan Bunga.

“Apa kau bertemu Bunga tadi?” Tanya Gus Firdaus tiba-tiba di tengah pembicaraan. Azril gugup, “Memang kenapa, Gus?”

“Tadi dia minta izinku untuk melihat-lihat taman ndalem. Ah Bunga itu, perempuan yang diidamkan oleh banyak lelaki sholeh.” Nada suara Gus Firdaus terdengar kagum. Dan perkataan itulah yang mempengaruhinya saat sedang membonceng Irfan yang ngebut ke Jogja.

“Sepertinya Gus Idos benar-benar tertarik pada Bunga. Apa aku relakan saja ya Bunga untuknya?” renung Azril di dalam pesawat yang akan membawanya ke Singapura untuk bertemu salah seorang kliennya. Dan begitu kakinya menginjak Changi Airport, ia memutuskan untuk berhenti mengharapkan Bunga. “Aku di sini untuk keluargaku, bukan untuk Bunga!” tegasnya berulang-ulang.

Beberapa hari kemudian setelah Azril kembali ke Indonesia, ia mendapat telepon dari Andes yang memarahinya karena ia tidak menghubungi Bunga.

“Bunga uring-uringan tahu! Dan berkali-kali memastikan apakah ane telah memberikan nomor yang benar!” sembur Andes. “Kenapa ente sepengecut itu sih?!!!”

Azril jelas tersinggung dengan kata-kata Andes, tapi dia tetap berusaha menjawab dengan sopan. “Maaf Mas, tapi saat saya mengobrol dengan Gus Idos, saya tahu jika Gus Idos…”

“Gus Idos?” potong Andes. “Ia melamar Bunga dua hari yang lalu dan Bunga menolaknya sebab ia masih mengharapkan kamu!”

Azril kaget. “Tapi…”

Tut tut tut… telepon dimatikan sepihak oleh Andes. Azril bingung, ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Akhirnya Azril izin dari kantornya dan pulang ke rumahnya di Malang, meminta pendapat ibunya yang sudah janda bahkan sejak Azril masih dalam kandungan, ayahnya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang. Ibunya mendengarkan dengan seksama, lantas dengan penuh kelembutan beliau menasehati anak semata wayangnya itu.

“Nak, kamu sudah dewasa, tapi kamu tidak boleh melupakan mimpimu. Jika dulu kamu pernah bermimpi meminang Bunga, maka lakukanlah sekarang selagi ada kesempatan. Ibu selalu mendukungmu dan percaya Bunga adalah perempuan baik-baik.”

Azril langsung memeluk dan mencium ibunya, setelah itu ia segera menempuh perjalanan ke Purwokerto untuk menemui keluarga Bunga.

Orang tua Bunga menerima kedatangan Azril dengan baik. Ayah Bunga berjenggot dan salah satu matanya buta, sementara ibunya seperti Bunga versi lebih dewasa. Setelah berbasa-basi sejenak dan mengenalkan diri, Azril segera mengutarakan keinginannya untuk melamar Bunga. Alis ayah Bunga tampak berkerut-kerut mendengar penuturan Azril.

“Nak, kami terkesan dengan keberanianmu, kami menerimamu karena kami yakin kamu orang baik-baik. Tapi keputusan mutlak berada di tangan Bunga, kami tidak mau memaksanya menikah dengan orang yang tidak ia kehendaki.”

Maka Bunga pun dipanggil. Ia duduk di hadapan Azril dengan canggung.

“Anakku, Bunga, Nak Azril ini melamarmu, menginginkan kamu menjadi istrinya. Apa kau bersedia?”

Bunga hanya menunduk, diam, tak menjawab apapun sehingga membuat Azril gelisah. “Apa aku akan berakhir seperti Gus Idos?” pikir Azril.

“Alhamdulillah…” tiba-tiba ayah Bunga berseru. “Bunga menerima pinanganmu. Tanda diamnya perempuan adalah ‘YA’.”

Azril menatap wajah Bunga yang bersemu merah, ia langsung percaya dengan yang dikatakan ayah Bunga. Hatinya berbunga-bunga, tak lepas ia mengucap syukur dan terimakasih berkali-kali. Ruang tamu keluarga Bunga hangat sore itu, sehangat sinar mentari yang bersinar di luar sana.

Akad nikah segera ditentukan, segala keperluan langsung disiapkan. Satu bulan setelah itu Azril mengajak ibunya dan tetangga-tetangganya menuju ke rumah Bunga menggunakan mobil yang baru ia beli satu minggu lalu yang ia niatkan diberikan kepada Bunga sebagai hadiah.

Saat kedua calon mempelai bertemu, Bunga di teras rumahnya mengenakan baju pengantin sementara Azril di halaman menatap terpesona ke arahnya, saat itulah kegemparan terjadi. Ibu Azril yang berdiri di samping Azril tak dapat menahan diri ketika melihat ayah Bunga tengah mengandeng putrinya.

“Mas! Mas Jenggawur! Ternyata Mas masih hidup!” Ibu Azril langsung maju ke depan dan menatap suaminya. Ayah Bunga sama terkejutnya, “Dik Lastri, ini kamu, kah?”

Azril yang saat itu bengong langsung bisa memahami. Ayahnya masih hidup, ayahnya selamat dari kecelakaan itu, tapi ayahnya tak pernah kembali, dan kini ia memiliki keluarga kecilnya sendiri dengan bekas luka di matanya. Azril langsung maju menerjang menyalami ayahnya, melepas rindu kepada orang yang biasanya hanya ada dalam mimpinya. Pak Jenggawur memeluk Azril kuat-kuat, ia berbisik. “Kamu tidak mungkin menikahi adikmu sendiri.”

Perasaan Azril hancur, tapi dengan tegar ia melepas pelukan ayahnya dan menatap Bunga yang kelihatan bingung dan tak mengerti apa yang tengah terjadi.

“Dik, aku kakakmu, kita saudara seayah. Bapakmu adalah bapakku, beliau tidak meninggal dalam kecelakaan itu seperti yang dulu aku ceritakan. Aku bahagia bisa bertemu dengannya, walau jujur saja aku merasakan kesedihan di saat yang sama karena kenyataan ini menghalangi niat kita untuk menikah karena kita ternyata sedarah.”

Bunga hanya menunduk, ia tak berani memandang wajah Azril yang lima menit lalu adalah calon suaminya dan tiba-tiba menjadi kakaknya.

“Dik, tenanglah, kau akan tetap menikah hari ini. Kakak punya calon untukmu yang Insyaallah sholeh.”

Bunga masih menunduk saat Azril berbalik dan kembali lagi dengan seseorang yang tak asing bagi Bunga.

“Ini Dik, calonmu. Apakah kau bersedia?”

Bunga mengangkat wajahnya dan seketika itu pula air matanya meluncur jatuh melihat dua orang yang ia kenal memiliki hubungan baik. Azril dan Firman.

“Tanda diamnya perempuan adalah ya.” Azril tersenyum, ia menoleh ke arah Firman yang dari tadi diam karena bingung. “Mas, saya tahu Mas juga naksir sama Bunga, ini terlihat saat kita mengobrol di teras Masjid. Saya sudah mengenal Mas dengan baik karena kita dulu sekamar. Mas tak pernah meninggalkan sholat malam dan kini telah memiliki pekerjaan tetap. Mas mau kan, menjaga Bunga saya?”

Firman tak memungkiri jika ia memang tertarik pada Bunga, tapi… “Saya tidak memiliki mahar.”

“Gunakan mahar saya yang tadinya akan saya gunakan.” Desak Azril. Firman menarik napas. “Baiklah, tapi tolong beritahu kedua orang tua saya.”

“Alhamdulillah…” Azril tersenyum getir. “Kalau begitu, segeralah kita laksanakan pernikahan ini!”

Dan saat mendengar Firman mengucapkan qobul dengan begitu fasihnya menggunakan bahasa Arab, Azril menutup matanya dan berdoa di dalam hati, “Bunga, semoga kelak kau menjadi bidadariku di surga.”

THE END

(Nela)

About gerbangpena

GEPA (Gerbang Pena) adalah salah satu komunitas di Pon. Pes Al Hikmah 2 dengan fokus garapan pada bidang karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *