Home / Dawuh Abah / Belajar Dari Ke”Mahabbah”an Nabiyulloh Ibrahim

Belajar Dari Ke”Mahabbah”an Nabiyulloh Ibrahim

oleh:KH.Ahmad Siddiq

Benda,alhikmahdua.net_Idul adha adalah hari yang agung bagi kita kaum muslimin mengingatkan kita pada perjalanan dan peristiwa yang dialami oleh seorang hamba yang agung yaitu nabiyullah Ibrahim .sebagai wujud totalitas penghambaan kepada Allah yang Maha Agung sehingga hal tersebut kemudian menjadi almillatu addin menjadi ajaran dan tradisi agama kita bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan umatnya nabi dan umatnya yang diagungkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sosok Nabi Ibrahim yang menjadi kunci menjadi perbincangan kegiatan ibadah bagi ajaran kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

 paling tidak seperti ibadah haji dan ibadah qurban yang senantiasa kita lakukan.

 begitu besar sosok hamba Allah bernama Ibrahim ini, hingga bagian dari jejak riwayat hidupnya diabadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak hanya diabadikan melalui pembicaraan pembicaraan di dalam kitab suci ,namun diabadikan sebagai ajaran yang harus dilakukan oleh umat umat setelahnya tak terkecuali ajaran kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam .

kesuksesan Nabi Ibrahim yg demikian  tidak lain karena totalitasnya dalam menghamba kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga beliau mendapatkan gelar khalilullah .

sebagaimana gelar ini juga disematkan kepada nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ibnu Kasir dalam kitab tafsir Ibnu Kasir mengatakan:

“Wain nama  tsummiya kholilulloh lisyiddati mahabbati robbihi azza wajalla limaqoma lahu minnattongati allati yuhibbuha wayardoha” ,disebut kholilulloh karena kecintaan yang luar biasa kepada Tuhannya Dan hal ini dibuktikan dengan ketaatan kepatuhan yang total terhadap apa yang dicintai dan disayangi oleh Allah subhanahu wa taala .

dalam makna lain ,ibnu qoyim rohimahululloh  menjelaskan,”walhullatu hiya almahabbatullati takhollalat ruhal muhib waqolbahu hatta lam yatfihi maudiun bighoiril mahbubi” ,artinya cinta dalam wujud alkhullah .

artinya cinta dalam wujud al-khullah adalah rasa cinta yang hingga merasuk dan mengisi relung jiwa dan hati seseorang hingga tidak ada dalam hati tersebut tempat bagi yang lainnya .

cinta semacam ini dimiliki oleh Nabi Ibrahim rahim dan nabi besar kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam .

cinta yang sejati Cinta yang jernih ini pernah, dinampakkan oleh nabi Allah Ibrahim ketika beliau dihukum oleh Namrud dan ketika ia mau dibakar oleh api Namrud maka malaikat jibril datang kepada nabi Allah Ibrahim. Seraya mengatakan: hay ibrohim apakah kau punya hajat punya keinginan bantuan dariku ?

apa yang dijawab oleh Nabi Ibrahim “ama ilaika fala Wa ama  minallohi wa bala.”

Hay jibril ,kalau butuh sama engkau aku tidak!

tidak tidak sama sekali tapi yang dibutuhkan Aku adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena dalam jiwaku tidak ada makhluk tidak ada makhluk satupun .

Dan dalam hatiku hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

kalimat ini menunjukkan betapa besar betapa jernih betapa bersih betapa sejati kemaha bahan, kecintaan, nabiyullah Ibrahim kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ini dilakukan dari nampakkan Ketika Nabi Ibrahim masih muda.

begitu pula hal ini menetas pada keturunan beliau yaitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana tergambar dalam sabdanya”wahai sahabattku ketahuilah sesungguhnya allah menjadikanku sebagai kholil, sebagai kekasih sejati.sebagaimana Allah menjadikan nabiyullah Ibrahim Kekasih Sejati nya.

“ Andaikata aku bisa menjadikan kekasih dari makhluk ,maka aku jadikan abu bakar sebagai kekasihku .

tetapi sayang, hatiku tidak terisi selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

totalitas cinta yang sejati kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang demikian adalah modal utama bagi seorang hamba sebagaimana hal ini ditunjukkan Nabi Ibrahim untuk menjadi sosok manusia yang akan berperilaku sebagai berikut pertama dan kedua modal cinta yang sejati akan melahirkan ketaatan kita dalam perintah Allah subhanahu wa ta’ala ,sebagaimana Allah menggambarkan nabiyulloh  Ibrahim di dalam Alquran yang artinya” dan Ibrahim adalah orang yang telah menjalankan semua perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala cinta sejati adalah modal utama meraih kunci sukses bagi setiap setiap hamba dalam menghadapi berbagai cobaan hidup yang menerpanya.

 Oleh karena itu Nabi Ibrahim telah lulus dari segala ujian yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana hal ini digambarkan di dalam surat Al Baqarah ayat 124 “dan ketika Allah memberikan berbagai cobaan kepada Nabi Ibrahim maka Nabi Ibrahim menjalankan dengan sempurna “

ketiga

Cinta yang sejati Cinta yang bersih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi modal manusia untuk selalu menebar kebaikan bagi dirinya tidak hanya bagi dirinya tapi bagi umat yang lain ,sehingga ia layak menjadi panutan atau petuah bagi umat manusia, lurus dan konsisten dalam mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dan selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 sebagaimana hal ini digambarkan oleh Allah subhanahu wa taala dalam mensifati nabiyullah Ibrahim Alaihissalam”bahwasanya nabi ibrohim adalah ummah yg bisa kita artikan bahwasanya nabi ibrohim adalah umah,kenapa ummah?karena nabiyulloh ibrohim  menjadi panutan,slalu menebar kedamaian, selalu menginginkan kemaslahatan manusia selalu menginginkan kebaikan dari alam ini .

 dan Nabi Ibrahim a selalu mengajak hamba-hamba yang lain untuk meng esakan Allah dan selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Sedikit atau banyak hissiyah maupun maknawiyah semuanya itu disyukuri oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam .

yang keempat kecintaan yang sejati dan bersih adalah tangga sukses bagi setiap hamba dalam meraih kemuliaan baik disisi Allah, maupun disisi manusia ,sebagaimana Allah juga menggambarkan hal ini kepada nabi yullohllah Ibrahim Alaihissalam, yang disebutnya di dalam Alquran, “berkat Nabi Ibrahim menjalankan segala proses ujiannya maka Allah menjadikan pilihan sebagai hamba yang dipilih oleh Allah dan ditunjukkan kejalan yang benar.

 dan bagi nabi Ibrahim diberi Hasanah yang mana sebagian mufassir, Hasanah itu adalah dzurriyatan solihah.

dan nanti nabiyullah Ibrahim menjadi pemimpin di akhirat .

dalam ayat lain dijelaskan,disamping pribadi yang soleh secara vertikal hubunganya dengan Allah  SWT ,totalitas cinta kepada Allah , menjadikan manusia lahir sebagai sosok yang sholeh secara sosial sebagaimana hal ini diperlihatkan oleh Nabi Ibrahim bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang dermawan dan selalu memuliakan tamunya sebagaimana Allah menggambarkan hal ini dalam FirmanNya “yang kedua di samping sebagai orang yang dermawan ,tumbuh dari cinta yang sejati kepada Allah Subhanahu wa ta’ala ini pribadi yang alim, pribadi yang Aris, pribadi yang sabar toleran atas kealpaan orang lain terhadapnya tidak membalas kejelekan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya dengan kejelekan selalu rendah hati dan selalu mengembalikan segala urusan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan selalu berpaling dari selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 masih banyak karakter-karakter soleh lainnya yang tentunya sangat terbatas untuk disampaikan dalam khutbah yang singkat ini namun, setidaknya dari sosok hamba Paripurna seperti Nabi Ibrahim di atas dihasilkan dari dasar cinta yang mendalam yang jernih yang total kepada Allah ,dan rasa cinta yang demikian menurut Imam Ghazali tidak akan lahir kecuali karena ia mengenal kekasihnya ,maka hal pertama patut yang patut diyakinkan bahwasanya cinta itu tidak akan muncul, cinta yang mendalam itu tidak akan tergambar, kecuali orang yang cinta tersebut tahu apa yang dicintai.

 sehingga tidak mungkin seseorang cinta kecuali kepada apa yang sudah diketahui sebagaimana kita tidak akan mencintai lukisan kalau kita tidak tahu arti seni lukis itu.

 tidak akan cinta kita kepada emas dan perak atau berlian kecuali kita tahu nilai dari emas dan cinta berlian,dan  kita tidak akan cinta ilmu kalau kita tidak tahu apa artinya ilmu yang sebenarnya itu, dan kita tidak akan Cinta Alquran kalau kita tidak tahu isinya Alquran dan kita tidak akan cinta pada kuda ,pada kendaraan yang mewah kalau kita tidak pernah mengenal kendaraan yang mewah itu.

 oleh karena itu untuk sampai cinta dan mengenal siapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan” Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu “untuk sampai kepada Allah maka kita harus mengenal diri kita sendiri.

 banyak komentar ilmiah banyak Syarah terhadap hadis tersebut, Namun setidaknya pemahaman yang paling sederhana yang dapat kita ambil bahwasanya kalimat” Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” dapat kita pahami bahwa :jika kita mengenal bahwa diri kita adalah orang yang lemah hamba yang lemah maka kita tidak akan mengenal Allah maka kita akan mengenal Allah sebagai Maha yang kuat. jika kita mengenal diri kita adalah orang yang bodoh maka kita akan mengenal bahwa Allah yang maha alim.

jika kita mengenal bahwa diri kita adalah miskin selalu miskin dan fakir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka disitulah kita mengenal bahwa Allah adalah maha kaya dan sebaliknya ketika dalam diri kita ketika dalam ego kita masih ada rasa sombong dengan kekuatan kita, masih ada rasa sombong dengan keilmuan kita, masih ada robot sombong dengan kekayaan kita, maka saat itu pula kita tidak mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala Saat itu pula kita tidak mengingat Allah subhanahu wa ta’ala ,Meskipun lisan kita selalu berdzikir ,meskipun tangan kita sibuk dengan tasbih ,tapi ketika rasa rasa ego tersebut merasa diri kita muncul di situlah Allah Subhanahu Wa Ta’ala hilang dalam diri kita dan hati kita ,nauzubillahminzalik .

Itulah sebabnya ibadah haji itu diawali dengan Wukuf Arafah “Arafah “berarti tahu mengakui dirinya bahwa dirinya itu adalah orang yang lemah dirinya adalah sebagai orang yang sangat banyak dosanya dirinya sebagai orang yang banyak kesilapan ,dilanjutkan kemudian mabit di Muzdalifah sebagai simbol bahwa malam-malam kita hari-hari kita semestinya kita orientasikan kepada mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian setelah mabit di Muzdalifah dilanjutkan ke mina” mina “berarti almuna muna itu adalah impian bahwasanya proses menuju ke Mina impian yaitu mendapatkan reward dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala itu pasti mendapatkan gangguan-gangguan ,sehingga ketika setelah di Muzdalifah jamaah haji kita lanjut ke jumroh aqobah untuk melempar jumroh ,”melempar jumrah” adalah simbol bahwa ketika kita mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti lah Ujian ujian itu selalu datang dan harus gangguan-gangguan tersebut harus kita lawan dan perlawanan ini sebagaimana disebutkan tadi bahwa disimpulkan dalam ibadah haji dengan melempar jumroh dan sebagai kesempurnaannya dilakukan penyembelihan hewan binatang kurban yang mana pengorbanan ini sebagai simbol bahwa segala apa yang kita miliki harus diperuntukkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

sebagaimana Allah dalam FirmanNya menyatakan Allah tidak butuh pengorbanan materi kita tapi yang dibutuhkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah tingkat ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 pengorbanan-pengorbanan duniawi yang semacam ini sudah ditampakkan oleh nabiyulloh Ibrahim maka ketika nabiyullah Ibrahim dikenal kaya raya memiliki 1000 domba 300k kerbau dan 100 onta maka ditanya kemana engkau hendak pergi ya Ibrahim? ketahuilah Hai masyarakat bahwa kekayaan saya ini semua kami hadiahkan kepada Allah Subhanahu Wataala.

Demikianlah kisah teladan yang diajarkan nabiyulloh Ibrahim dalam memasrahkan ,menyandarkan semuanya kepada Allah SWT.

About Ulil Abshor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *