Home / Santri Menulis / Al-Hikmah 2 di Tahun 2030

Al-Hikmah 2 di Tahun 2030

Sebuah sedan berwarna silver berhenti di depan sebuah gerbang mewah bertuliskan “Ma’had Al-hikmah Tsani”, terlihat seorang wanita memakai kerudung abu-abu lebar dan seorang pria berkopiah yang memakai baju yang sepadan dengan wanita itu turun dari mobil, keduanya memandang lekat-lekat pintu gerbang yang terdiri dari 3 pintu super canggih di negeri ini. Tak ada satupun satpam yang berdiri disana karena pada tahun 2030 ini, segala sesuatunya di kerjakan oleh manusia robot.

“Mungkin kita bisa lewat pintu yang bertuliskan alumni itu, Sya.” Ucap pria berkopiah sembari menunjuk pintu paling kanan gerbang.

“Boleh, ayo kita coba A!” Balas wanita itu. Keduanya melangkah menuju pintu gerbang yang ditunjuk pria tadi. Lalu pria itu menekan tombol sign in yang berada di layar kecil samping pintu.

“Selamat siang Akhi dan Ukhti. Silahkan masuk dengan menyebutkan nama Anda satu persatu dan tahun angkatan. Pintu akan terbuka otomatis. Senang kalian bisa berkunjung kembali ke Ma’had ini.” Mesin itu berbicara.

“A… Aisya nggak nyangka pondok ini bisa terlihat maju seperti Negerinya, tapi pas kita di depan mobil kok nda terlihat ada layar kecil itu?”  Tanya wanita itu. Pria itu tersenyum,  “Memang dari jarak satu meter pun belum terlihat ada layar yang berada di samping pintu, karena hologram yang di tanam di tembok itu baru akan muncul jika orang yang akan masuk jarak nya setengah meter dari pintu. Entahlah, semakin maju saja negeri ini. Lima tahun yang lalu, saat kita pulang dari Turki sudah ada mobil yang bisa beroperasi sendiri, tinggal kita sebut kemana dan kita akan sampai.”

“Aa, ayo kita langsung masuk aja. Aisya jadi semakin penasaran bagaimana teknologi yang santri gunakan di Negeri ini.”

“ Kamu yang masuk duluan ya Sya.” Pinta lelaki itu, si perempuan mengerutkan dahi, “Aa ini gimana, kan arrijaalu qawwaamuuna ‘ala annisa.”

“Hu… Mulai nih pake jurus jitu.” Wanita itu hanya membalas dengan senyumanya. Pria itu bersiap menyebutkan namanya saat tiba-tiba terbersit ide di otaknya. “Aa punya ide Sya.”

“Ide apa?”

“Gimana kalau kita masuk bareng? Kan kita angkatannya sama , hanya nama kita yang berbeda, jadi kita sebutin nama kita satu satu terus nama angkatannya bareng. Gimana, setuju?”

“Tapi kan tadi mesinnya udah nyebutin aturannya, kalo rusak atau terjadi apa-apa Aa yang tanggung jawab ya…” Minta wanita itu, khawatir.

“Oke! Emang seumur hidup Aisya sekarang kan jadi tanggung jawab Aa, nanti Aa yang nyebutin nama duluan ya…”  Jawab pria itu menggombal. Wanita itu mengangguk.

“Nama saya Firdauz Fahri.”

“Nama saya Aisya Fikri.”

“Kami angkatan 2012.” Ucap keduanya berbarengan.

Seketika pintu pun terbuka dan keduanya masuk, mereka  menatap sekeliling padang rumput yang hijau dan gedung-gedung menjulang tinggi yang tersusun rapi. Mereka bertatapan tak percaya dengan apa yang dihadapan mereka sekarang.

“A, terus kita mau kemana sekarang ? Kita kan nggak tau denahnya.” Tanya Aisya. Tiba-tiba ada belalai robot yang muncul dari bawah rumput-rumput, Aisya terlonjak kaget memegang tangan suaminya. “Tenang Sya, ini belalai yang akan memberikan peta pondok ini. Sebenarnya rumput yang kita injak ini bukan rumput sungguhan Sya, ini adalah sebagian dari teknologi juga, makanya belalai robot ini leluasa muncul dari mana saja yang terdeteksi ada pengunjung.” Ucap Firdauz menenangkan.

“Kok Aa tau teknologi? Bukannya Aa lulusan jurusan Tafsir Hadist?”

“Kan Aa juga punya temen Sya, jadi Aa tau banyak, ya tapi baru ngalamin sekarang juga sih.”

Lalu belalai itu memberikan sebuah hologram ke tangan Firdauz. Firdauz melemparkan hologram itu ke hamparan rumput dan munculah sebuah layar sentuh yang menggambarkan peta pondok itu. Firdauz memilih menuju gedung serbaguna, karena acara yang diadakan berada di sana.

“Ayo Sya kita jalan! Tenang aja, kita ada di atas rumput yang berteknologi canggih, jadi kemanapun kita pergi akan terasa dekat karena lantai ini bisa melipat jalan jadi pendek.” Ajak Firdauz pada istrinya sembari mengulurkan tangan nya. Aisya pun menerima uluran tangan Firdauz dan mereka berjalan bersama, di arahkan oleh peta menuju gedung serbaguna yang ada di pondok itu. Tak ada 2 menit mereka sudah sampai, dan mereka masuk dengan menempelkan kartu undangan yang telah di berikan sebelumnya.

Di dalam tampaknya sudah ramai juga oleh tamu alumni yang lain, mereka saling mengobrol dan memegang gadget yang luar biasa canggih, apalagi yang selama tahun terakhir ini tinggal di Indonesia, yang merasakan asam garamnya Negeri ini. Firdauz dan Aisya bergandengan tangan menyapa teman lama mereka, tak sedikit yang bertanya kapan mereka menikah, dan itu pertanyaan yang biasa mereka tanggapi, maklum karena mereka menikah di Turki dan kembali ke Indonesia setelah setahun menikah, dan kembali lagi ke Turki karena Aisya lebih suka tinggal di Turki yang sederhana daripada Indonesia yang berteknologi tinggi seperti sekarang ini.

“Assalamualaikum Fahri…” Sapa seorang teman menepuk bahu kanan Firdauz.

“Waalaikumsalam. Subhanallah, Hazman! Kemana aja anta gak ada kabar?” jawab Firdauz sembari memeluk erat sobat karibnya itu. Hazman mengelak, “Bukannya anta khi, yang menghilang dari Indonesia ini ? Eh… pulang-pulang udah ijab aja.”

“Oh iya sampai lupa, ini istri ana namanya Aisya. Aisya, ini temen baiknya Aa pas mondok di sini.” Ucap Firdauz memperkenalkan.

“Hazman…” Ucap Hazman sembari menaruh tangan di depan dadanya.

“Aisya…” jawab Aisya sambil melakukan hal yang sama.

“Oh iya, Anta kan yang udah lama nih pulang dari Maroko, berarti kalau nggak salah udah di Indonesia tiga belas tahun terakhir ini kan?” Tanya Firdauz. “Iya betul Ri, ana juga kaget dari awalnya Indonesia sangat terpuruk terlilit hutang, eh, sekarang jadi super canggih kaya gini.” Jawab Hazman.

“Ceritain dong Man, istri ana sama ana penasaran nih.” Pinta Firdauz pada Hazman. Hazman mengangguk, lantas mulai bercerita, “Jadi cerita singkatnya seperti ini, Indonesia yang dulunya terlilit hutang itu mengalami keadaan ekonomi yang super parah, sampai inflasi keuangan yang bikin banyak orang gak bisa makan. Tapi, hal itu hanya berlangsung beberapa bulan saja. Karena setelah itu Indonesia kedatangan seorang tamu yang mengaku orang Indonesia yang lama belajar di Amerika Serikat, namanya Teguh Fauzan. Nah, dia itu ternyata orang jenius, alasan dia kembali ke Indonesia adalah karena dia mendengar Indonesia sedang terlilit hutang dan krisis ekonomi, ia bertekad ingin membuat Indonesia lebih maju dari Amerika Serikat, bahkan Jepang sekalipun.”

Hazman tersenyum melihat Firdauz dan Aisya tampak serius mendengarkan. “Jadi, sepulang dari Amerika Serikat ia langsung meminta bertemu dengan Presiden, dan baru terwujud satu bulan kemudian. Ana juga nggak tau pasti apa yang terjadi setelah itu, yang ana tahu setelah ada berita bahwa Teguh Fauzan berhasil bertemu dengan Presiden, beberapa minggu kemudian ada berita ditemukannya tambang emas di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku. Tambang emas itu lalu diolah oleh warga di situ, dan dari Teguh fauzan pula para warga belajar bagaimana mengolah emas yang baik agar nanti bisa dijual mahal di pasaran. Di sekitar tambang emas itu juga banyak pamflet yang bertuliskan ‘Tambang Emas untuk Membayar Hutang Indonesia’.”

“Ajaibnya,” lanjut Hazman, “Dua bulan kemudian hutang Indonesia terbayar lunas tak tersisa satu rupiah pun. Dan pada saat itu juga rupiah Indonesia langsung melampaui dollar, seperti yang kita lihat sekarang ini, Rupiah yang menjadi acuan, bukan dollar lagi. Teknologi di Indonesia semakin maju pesat, hanya dalam kurun waktu dua tahun Indonesia sudah menciptakan ratusan mesin robot canggih, ya salah satunya seperti yang kalian lihat saat pertama masuk pondok ini. Perusahan i – Phone, Apple,  dan perusahan terkenal lain di luar negeri dikuasai Indonesia, ya seperti sekarang inilah, penuh dengan teknologi dan hampir tidak ada yang murni di negeri ini, semuanya tiruan. Ya…walaupun lebih canggih, tapi jujur ana lebih suka Indonesia yang dulu, yang banyak petani menanam padi, ana lebih suka pondok ana yang dulu Ri.” Hazman menutup cerita dengan sedih.

“Ah iya Man, ana juga lebih suka pondok kita yang dulu, lebih terasa kebersamaannya, nggak serba otomatis kya gini.” Firdauz menanggapi.

“Oh iya, anta pasti belum tau, sekarang sudah tidak ada Kyai di Indonesia. Di pondok ini juga menggunakan system video untuk para santri mema’nai kitab. Jadi para santri hanya mendengarkan suara Kyai yang sedang ngasto dan mereka menulisnya di layar yang berisi kitab itu sendiri, karena pemerintah sudah melarang penggunaan kertas di Negeri ini, tapi syukurlah pondok ini masih punya banyak kitab, yang dulu mati-matian dipertahankan oleh pemilik pondok ini.”

“Lagi pula mana pantas pondok berdiri sedemikian mewah, mana sisi prihatin pondok yang dulu kita unggulkan? Bahkan pondok ini lebih mewah dari hotel berbintang lima di Turki.” Aisya angkat bicara.

“Mungkin pengasuh pondok ini juga sulit menolak pemintaan ini, karena boleh jadi pemerintah akan menggusur pondok ini, jika pondok ini tidak mau dirubah sesuai permintaan mereka. Lagi pula pemerintah mungkin gengsi jika ada satu pondok di Indonesia tidak menggunakan teknologi, sementara bahkan seluruh Desa di Indonesia juga sudah maju, sehingga tidak ada lagi Desa terpencil.” Tutur Firdauz pada istrinya

“Ini bisa menjadi sebuah misi A, jika dulu ada seorang Teguh Fauzan yang membawa Indonesia menuju teknologi canggih, sepertinya nanti akan ada dua orang calon Kyai di Indonesia yang merubah pesantren di Indonesia seperti tahun-tahun yang lalu, yang kembali tradisional tanpa teknologi sedikitpun.” Ungkap Aisya sembari memegang tangan suaminya dan menatapnya lembut.

“Pasti akan akan ada Sya…” Jawab Firdauz mempererat pegangan tangan istrinya, meyakinkan.

“Ayo Ri, Aisya, sepertinya acara sebentar lagi akan di mulai.” Ajak Hazman menuju tempat duduk mereka.

_THE END_

(Thiya)

About gerbangpena

GEPA (Gerbang Pena) adalah salah satu komunitas di Pon. Pes Al Hikmah 2 dengan fokus garapan pada bidang karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *