HeadlineSantri Menulis

3 Tongkat Kecil

Angin berhembus kencang menerjang apa saja yang dilewatinya. Langit keabu-abuan menyapanya. Para hewan merasa takut lalu bersembunyi dibalik pintu kandangnya. Hari yang tadi siang masihlah terang berubah menjadi hari menakutkan. Terkadang… para genteng tetangga pecah terlempar angin, tiba-tiba… pyar!!! Genteng tetangga yang baru saja tertambal tadi pecah lagi.

“Bapak…. Rita takut..!” keluh Rita.

“Anita… tutuplah pintunya!” teriak Pak Andi yang dari tadi masihlah memotong kayu. Ialah Pak Andi, lulusan kairo yang jadi tukang kayu.

Pak andi tidaklah menyukai keramaian khalayak, katanya begini “Saya tidak menyukai khalayak ramai yang hidupnya hanya perselisihan dan pengejaran jabatan”.

Rumahnya sangatlah jauh dengan keramaian, sebuah desa pelosok yang hanya dihuni beberapa rumah, itupun saling berjauhan satu sama lain. Istrinya meninggal dunia diterkam harimau yang kelaparan ketika ia sedang mencari kayu bersamanya. Setelah kejadian itu, ketraumaan muncul dalam diri Rita ketika mendengar suara-suara yang aneh, entahlah…

Rumah… terbuat dari kayu-kayu yang tertata rapi, tetapi… bentuknya bak kandang kambing, gentengnya menggunakan asbes yang sudahlah terpaku dengan kayu-kayu tersebut, sehingga tak usahlah kau tanyakan mengapa genteng pak Andi tak jatuh??.

Disini sinyalpun tak terherankan, ketika hendak menelpon orang ataupun mengirim pesan, merekea harus menempuh perjalanan 2 km menuju kota.

  Hari yang tak seburuk kemarin, walaupun hujan rintik-rintik masihlah turun, tetapi tak lebih menakutkan angin kemarin, langit mulai menampakan jati dirinya yang cerah, para hewan pun turut menyambut hari ini, entahlah.. apakah harimau pula diundang untuk meramaikan?. Kewaspadaan selalu menyelimuti diri Pak Andi, bagaimanakah tidak? Rumah pelosok yang bertetangga dengan hutan, dan tak jarang hewan-hewan ikut bertamu, pernah satu kali ular mendatangi rumahnya, untung saja … Rita datang dengan jurus traumanya menjerit dengan sangat keras, sehingga para tetangga menghampiri, bertanya, lalu membunuh ular tersebut.

 “Bapak…Anita berangkat dulu..!!” katanya sembari menggandeng Rita yang masih kelas 4 SD setelah mereka memakai baju seragamnya.

 “Eh… tunggu dulu nak!” kata pak Andi sembari setengah berlari membawa tiga tongkat kecil. memanglah begitu, tiga tongkat tersebut digunakan untuk menusuk hewan liar yang berani mendekat ,dengan kecepatan dan keahlian lemparan tangan keduanya.

Terkadang teman-temannya mengejeknya, katanya begini; “Kamu itu kuno banget, zaman now adalah zaman pistol, bukannya zaman tongkat!” hardik Johan sembari tertawa, Rendi ikut melanjutkan : ”lagi pula…tongkat macam apa itu? Kecil? Buat bunuh nyamuk ya?”. Gak mau kalah .. Heri pun ikutan. “Makannya … cari rumah tuh jangan di hutan jadinyakan nyamuknya banyak” Itulah … satu geng yang hidupnya hanya untuk merendahkan kaum dhuafa. Walau mereka dipelosok, tapi bekal ilmu agama sangatlah kuat apalagi … hanya meneladani orang-orang seperti mereka, itu ialah hal yang mudah, cukup sabar dan tidak menghiraukan, mereka pun akan lelah dengan sendirinya. Jauh dari khalayak, pendidikan mereka haruslah keluar dari desa untuk mendatangi sekolah-sekolah biasanya Rita menunggu kakak nya, yaitu Anita yang pulang dari sekolahnya, SMK Wijaya.

Suara keras nyaring menyapa, para siswa masuk pelataran tersulap menjadi sunyi.

“Perhatikan anak-anak, sudahkah kalian memasuki tahun ketiga disekolah banyak lah hal-hal yang pak guru ingin sampaikan kepada orang tua kalian, maka dari itu, Pak guru harap kalian menyampaikan adanya rapat wali murid kepada orang tua kalian !”. Anita mengacungkan jari lalu berkata :

“Pak, mengapa tidak menggunakan surat saja?, bukankah itu ialah hal yang lebih patut tuk di lakukan di kala rapat?”

“Beli dulu tuh pistol buat bunuh nyamuk ! Beli pistol aja belum bisa, sok banget berbicara masalah surat “ Sanggah Johan akhirnya geng tersebut tertawa dan kawan lain yang mana hanya orang pasif alias, sang pengikut kondisipun ikut tertawa.

 “Sudah..sudah.. anak-anak!”, begini Anita, kamukan sudah mengetahui, bahwa sekolah kita adalah sekolah swasta rendah di kota ini, hal bayaran pun hanyalah 30.000 rupiah perorang, bagaimanakah kita memikirkan surat?, membangun gedung pun kita belum bisa”. Jelas pak guru.

“ Tetapi…. Bukankah justru itu kita harus menunjukkan kepada khalayak bahwa kualitas sekolah kita baik?”. Pak guru… hanya terdiam, perkataan Anita memanglah benar. Ialah Anita wanita kritis di sekolah itu, teman-temannya yang kontra pun terkadang dengan sendirinya membenarkan perkataan Anita. Atas usul Anita, akhirnya guru mau mengeluarkan uang sedikit untuk menyebarkan surat pada wali murid.

Matahari mulailah bosan menyembunyikan dirinya, para awan hitam sudahlah lelah selalu menangis, dunia sudahlah berwarna, bukan hitam lagi yang tampak. Para burung berlarian gembira keluar dari sarangnya, pohon-pohon yang lebat bermekaran hijau, sungguh… menyegarkan hari ini!

“Ayo pak berangkat!!” sapa Anita terburu-buru

“Sabarlah nak!” merapihkan bajunya, lalu melanjutkan,

“Anita baju bapak rapih gak?”

“Sudah rapih bapak! “ Jawab Anita sembari membenarkan dasi bapaknya yang sedikit melenceng.

“Kau ini, mengingatkan bapak dengan almarhumah ibumu! “Katanya lembut

“Ah… Bapak!” Anita tersenyum sembari berlalu keluar. Inilah kali pertama pak Andi memakai baju kemeja putih dengan dasinya, setelah ia di drop out oleh sebuah kantor sebab ia difitnah, hal itulah yang membuatnya membenci kehidupan kota dan lebih memilih untuk tinggal dipelosok yang berhubungan dengan para binatang buas.

“Sungguh… Bapak tampan sekali!” Kagum Anita

“Iya.. Bapak kayak pak guru, bahkan bapak lebih tampan”. Lanjut Rita.

“Emang guru itu wajib tampan ya Rita? ”Sanggah bapaknya  “He..he..he… tidak Bapak.”

Kitapun tertawa bersama, hingga terbawa oleh suasana. Perjalanan ke luar pelosok 2 Km dengan 1 Km menuju sekolah terasa singkat, walau jalan kaki. Sepeda taklah mampu menumpangi 3 orang, akhirnya … mereka memilih tuk berjalan kaki.

Ribuan langkah … sudahlah terlewati dan menghilang terbawa jarak. Kini mereka berhenti entahlah….. penulis tak mengetahuinya, ketika penulis memandangnya, ternyata …. tampaklah gedung kecil, di atasnya terpampang papan reyot terkoyak rayap dengan kondisi miring sebab paku nya hilang satu entah kemana , bertuliskan SMA Wijaya hanya ada 4 ruangan di dalamnya kantor, kelas x, xi, dan xii. Betapa menyedihkannya kondisi bagi orang yang memandangnya.

“Selamat pagi bapak dan ibu wali murid, semoga semuanya baik-baik saja. Saya mengumpulkan anda semua kemari untuk membahas masalah pembayaran UN yang diselenggarakan 24 maret 2020 ini.”
 Jelas Pak guru.

“Memangnya … masalah pembayaran itu berapa pak guru?” Tanya salah satu wali murid.

“Kurang lebih 1.500.000 bu!”.

“Apakah ada keringanan pak ?”

“Itulah yang akan kita bahas hari ini”

Pak guru diam, matanya memandangi wali murid sejenak, tarik nafas, lalu melanjutkan:

“Memanglah …kami telah menyadarinya, bahwa pembayaran ini ialah hal yang sangat merepotkan bagi para wali murid, tetapi… meninjau sekolah kami ialah sekolah swasta yang paling rendah dikota ini, maka tak ada bantuan yang datang dari pusat, kecuali para wali murid sendirilah yang membayaranya”

“Ada!” suara lantang yang datang dari bangku belakang, rapat bertempat dikelas XII, tak ada tempat khusus, ruang perpustakaan pun tidak ada, hanyalah lemari kuno yang kecil didalam kantor, ketika istirahat tiba.. maka tempat kantor tersulap menjadi pasar tradisional yang ramai pengunjung.

“ Siapa anda? Apakah anda pegawai yang diutus dari pusat?” Tanya pak guru.

“Bukan saya hanyalah wali murid biasa dari murid yang bernama Anita”

Tiba-tiba. Mata pak guru menandakan orang syok oleh kondisi, lalu berkata dalam hatinya ‘Bapak sama anak sama aja’ sembari kepalanya menggeleng tanda kagum. Pak andi yang mengenakan baju putih rapi dengan dasinya itu sendiri memberi nuansa tersendiri dalam dirinya, ia seperti orang penting yang diutus sebagai delegasi pemantau perkembangan pendidikan di pelosok. Akhirnya…pak Andi menjelaskan bahwa sekolah bisa saja membuat proposal yang diajukan untuk pemerintah pusat, supaya mereka memperhatikan pendidikan pelosok pula.

Hari terus berlalu, waktupun tak henti begitu saja, keadaanpun berjalan seperti biasanya, tak ada yang spesial, para burung terbang dipagi hari dan pulang disore hari, matahari menyapa dan pergi, para pedagang berbondong-bondong ke pasar, para ayam berkokok di pagi hari, terkadang … sang jantan berlarian mengejar betina untuk dikawininya, sungguh.. biasa, taka da yang spesial. Hanya saja … Anita berlarian sebelum pulang sekolah.

 “ Bapak..!” Anita berhenti , Tarik nafas, lalu keluarkan, begitulah.. setererusnya, dengan tangan memegangi lututnya yang lelah sembari keadaaan masihlah setengah berdiri.

“Ada apa Anita? Loh … bukanya kamu masih disekolah ya?” Tanya Andi.

“Iya bapak, Anita kesini cuma ingin memberi tahu bapak, kalo proposal sudahlah cair, bahkan… utusan pusat pun mendatangi sekolah”

“Alhamdullillah … bagus kalo begitu”

“Terus… pak guru memanggil bapak untuk datang kesana”

“Untuk apa?”

“ Kalo Anita gak salah denger, pak guru ingin angkat bapak sebagai guru disana.”

“ Apa? guru?” jawab pak Andi  syok sembari menggelengkan kepala tanda tidak menginginkanya.

“Bapak…! sekolah kita lagi butuh orang seperti bapak, ayolah bapak!”

Kata anita sembari memelaskan wajah.

Penghianatan masa lalu …masihlah membekas dalam hatinya, tetapi… dengan rayuan-rayuan dan wajah memelas Anita, akhirnya pak Andi luluh pula.

1 tahun kemudian……

 “Baik anak-anak, marilah kita merenungkan keadaan Indonesia hari ini  setelah ita menengok kejayaan peradaban islam masa lalu, yang mana..meninjau kualitas pendidikan yang menurun,dan rasa terhadap pelajaran sangatlah rendah.” Pak Andi mengajak berfikir para muridnya. Pak Andi berhenti sejenak memandang satu persatu dengan tatapan teduhnya lalu melanjutkan.

“Dan cobalah kalian semua mengkritisi bahwa puncak peradaban hari ini ada ditangan non muslim, dan apakah kalian mengetahui aplikasi-aplikasi diinternet hari ini?”

“Instagram pak guru!” jawab salah satu murid.

“Facebook pak!” jawaban lain.

 “Google!”

“WhatsApp!”

“Games!”

“Iya betul sekali…. aplikasi-aplikasi itu secara tidak disadari menghipnotis orang-orang muslim untuk memalingkan kita semua dari Al-Qur’an”

“Bagaimana caranya pak guru?” Tanya salah satu murid.

“Pertanyaan yang bagus nak!” kagum pak Andi.

“Non muslim membuat aplikasi-aplikasi yang memuaskan nafsu kita,seperti memudahkan dalam berkomunikasi, bisa axis diman-mana, dengan mudah menghasilkan uang, dan lainnya”

Sungguh… perubahan yang sangat drastis,para siswa yang biasanya sangat aktif pergi ke warnet, kini..warnet sangatlah sepi, hampir saja warnet tersebut bangkrut, sebab hari-harinya terbuang tanpa hasil, dan hanya untuk membayar anggaran listrik dan wifi yang terpasang dengan pembayaran setiap bulan. Kni….para siswa aktif belajar, bahkan ketika lulus, dengan mudahnya mereka mendapatkan beasiswa masuk universitas favorit, sekolah SMA Wijaya sekarang menjadi sorotan publik, dan pemerintah pusat  mulai melakukan pengembangan dan pembangunan besar besaran terkait sekolah itu.

“Segala sesuatu bisalah tercapai,tak ada yang tak mungkin, hanya saja keminderanlah yang menghambat.”

“Terkadang …… yang terlihat kecil itulah yang lebih hebat” Pesan pak Andi.

Karya : Indri Novia Ningrum

Xi MAK

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button